TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN
TEKNIK
PEMBENIHAN IKAN GURAMI (Osphronemus
gouramy)
Sesuai
materi kuliah pertemuan ke-2 dan ke-3
Nama : Nindiya Nastiti
NIM : 26010213140072
PRODI
BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
2014
I. PENDAHULUAN
Budidaya ikan Gurami merupakan usaha
sektor perikanan yang tidak pernah sepi peminat. Ikan asli perairan Indonesia
ini seolah-olah memiliki daya tarik istimewa bagi kalangan pembudidaya ikan. Padahal,
Gurami merupakan jenis ikan yang pertumbuhannya lambat dibandingkan dengan
jenis ikan air tawar lainnya. Mengapa para petani tidak meninggalkan jenis ikan
yang satu ini, lalu memilih membudidayakan jenis ikan lain yang masa
pemeliharaannya lebih singkat ?. (Bachtiar, 2010)
Ikan gurami termasuk ikan yang
membutuhkan waktu / siklus hidup yang lama. Pertumbuhannya bahkan bisa hanya
7,5 cm – 50 cm dalam 4 tahun. Namun, ikan gurami memiliki kelebihan tersendiri dibanding
ikan air tawar lain. Menurut Mahyuddin (2009), gurami termasuk jenis ikan yang
mudah dipelihara karena dapat hidup di kolam yang airnya tergenang (tidak
mengalir), minim oksigen, lahan terbatas (hemat lahan) di kawasan marginal dan
hemat air. Gurami juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena harga
ikan gurami relatif stabil dan tinggi dibandingkan dengan jenis ikan air tawar
lainnya, serta permintaannya cenderung meningkat tiap tahunnya. Hal ini
diperkuat oleh Bachtiar (2010), bahwa harga jual gurami ukuran konsumsi
menempati urutan teratas diantara ikan air tawar lainnya. Penyebabnya adalah
permintaan pasar yang tinggi, sedangkan ketersediannya masih rendah karena
faktor pemeliharaannya yang lama. Faktor lainnya, jelas gurami memiliki cita
rasa yang enak dan gurih. Selain faktor diatas, keunggulan lain dari budidaya
gurami yaitu pakan yang mudah diperoleh. Selain pellet, pakan alami juga bisa
diberikan pada gurami, contohnya daun sente atau daun talas (Alocasia macrorrhiza). Benih ikan juga
mudah didapat, apalagi jika lokasi budidaya berada di daerah sentra pembenihan
gurami. Hal inilah yang menyebabkan gurami menjadi salah satu komoditas
budidaya ikan yang unggul.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Ada dua pendapat mengenai asal usul
atau sejarah ikan ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa ikan ini berasal dari
perairan asli Indonesia. Bahkan diperkirakan sudah mulai dipelihara sejak zaman
Raja Galuh di Priangan Timur yang sekarang menjadi wilayah di Jawa Barat.
Pendapat kedua mengatakan bahwa gurami merupakan ikan asli perairan Asia
Tenggara. Ikan ini tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga terdapat di Thailand
dan Malaysia (Bachtiar, 2010). Distribusi ikan ini sendiri di kawasan Asia
meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Malaysia, Thailand, dan Indochina.
Ikan gurami termasuk bangsa ikan Labyrinthici, yaitu bangsa ikan yang
memiliki alat pernafasan tambahan (labirin), disamping juga memiliki insang
untuk bernafas. Adanya alat pernafasan tambahan ini memungkinkan ikan gurami
mengambil oksigen langsung dari udara sehingga gurami cocok dipelihara di kolam
air yang tergenang. Adapun klasifikasi ikan gurami adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Subordo : Anabantoidea
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Spesies : Osphronemus Gouramy, Lac.
Nama
Inggris : Gouramy, Giant gouramy
Nama
Indonesia : Gurami, gurame, gurameh, grameh (Jawa); kalau, kala, dan kalui
(Kalimantan); Kalui (Sumatera) (Mahyuddin, 2009).
Gambar 1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
Adapun ciri-ciri morfologi ikan
gurame sebagai berikut :
-
Bentuk badan agak panjang, gepeng atau
pipih ke samping (compressed), dan lebar.
-
Sisiknya berukuran relatif besar dengan
tipe sisik ctenoid (tidak membulat secara penuh).
-
Kepala pada gurami muda berbentuk lancip
dan berdahi normal atau rata. Sedangkan pada gurami dewasa/tua mempunyai bentuk
kepala dempak/tumpul. Khusus pada gurami jantan yang sudah tua terdapat
tonjolan seperti cula pada bagian dahi atau kepala.
-
Pada gurami muda atau benih terdapat 7-8
buah garis tegak berwarna hitam dan garis-garis itu akan hilang atau tidak
terlihat pada gurame dewasa.
-
Warna tubuh pada gurame muda umumnya
berwarna biru kehitam-hitaman dan bagian perut berwarna putih. Warna tersebut
akan berubah menjelang dewasa yakni pada bagian punggung berwarna kecoklatan
dan pada bagian perut berwarna keperak atau kekuning-kuningan.
-
Mulut gurame berukuran kecil, letaknya
miring dan dapat disembulkan sehingga tampak monyong. (Mahyuddin, 2009)
Habitat ikan
gurami yaitu di air tawar, air payau, dan benthopelagic. Namun menurut Bachtiar
(2010), habitat asli gurami berada di perairan tawar yang airnya jernih,
tenang, dan dalam, seperti rawa, danau, sungai yang alirannya tidak deras, atau
di perairan tergenang lainnya. Gurami dapat berkembang biak dengan baik di
dataran rendah hingga sedang, yakni 400-600 meter dpl. Tetapi jika budidaya
dilakukan di daerah yang berketinggian lebih dari 600 meter dpl pertumbuhan
gurami akan sangat lambat. Hal ini disebabkan ketunggian lebih dari 600 mdpl
mempunyai suhu udara dingin sehingga gurami akan kehilangan selera makan saat
udara dan suhu air sangat rendah.
Berdasarkan
kebiasaan makan, pada waktu larva/benih ikan gurami bersifat karnivora (pemakan
daging). Sedangkan pada gurami dewasa berubah menjadi ikan pemakan campuran (omnivora)
yang cenderung pemakan tumbuhan. Hal ini diperkuat oleh Mahyuddin (2009),
bahwa Gurami pada waktu masih larva terutama
setelah telur menetas menyukai jasad renik seperti kutu air, chlorela, rotifer, dan artemia. Pada
gurami stadia benih menyukai dan memakan cacing sutera (Tubifex sp) dan
dilanjutkan tumbuh-tumbuhan air yang lunak seperti hydrilla. Sedangkan pada gurami
dewasa memakan tumbuh-tumbuhan seperti daun talas/sente, ketela pohon,
kangkung, dan daun papaya. Pada pemeliharaan ikan gurami secara intensif maka
keberadaan pakan buatan (pellet) mutlak diberikan.
Waktu memijah ikan gurame adalah
sepanjang tahun. Hal ini sesuai pernyataan Mahyuddin (2009) bahwa gurami di
alam memijah sepanjang musim kemarau, namun apabila dipelihara di kolam
budidaya, gurami dapat berkembang biak sepanjang tahun. Tingkat keberhasilan
pemijahan yang paling tinggi yaitu pada setiap akhir musim penghujan yaitu
menjelang musim kemarau. Pada saat air kolam agak surut dan suhu air agak
meningkat, gurami terangsang untuk melakukan pemijahan. Gurami berkembang biak
secara ovipar (eksternal) yaitu pembuahan terjadi diluar tubuh. Dalam 1 tahun induk
gurami dapat 2 kali memijah.
Jenis ikan gurami beraneka ragam, meliputi gurami
soang (angsa), gurami bastar, gurami bluesafir, gurami paris, gurami
jepang/jepun, gurami porselen, gurami kapas, gurami batu, dan gurami padang.
(Bachtiar, 2010)
III. PEMBAHASAN
Pembenihan ikan adalah suatu
kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan benih dengan ukuran tertentu.
Selanjutnya benih yang dihasilkan dapat dipelihara lebih lanjut pada kegiatan
pendederan atau pembesaran. Satuan produksi pembenihan ikan adalah jumlah
(butir telur atau ekor), sedangkan ukuran benih gurami dinyatakan dalam panjang
(cm) (Mahyuddin, 2009). Tujuan pembenihan ikan pada dasarnya untuk memproduksi
/ menghasilkan benih yang berkualitas unggul / baik. Benih yang unggul ditandai
dengan pertumbuhan yang lebih cepat. Benih unggul juga bukan dari satu
keturunan yang sama (dari induk yang sama).
3.1. Wadah Budidaya
Wadah budidaya gurami bisa dalam
kolam semen maupun kolam tanah. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak
berporos. Karena jika berporos akan cepat menyerap air (merembes). Kalau bisa
cenderung memakai tanah liat atau lempung, tidak berbatu-batu, cukup mengandung
humus sehingga dapat menumbuhkan pakan alami. Tanah yang subur banyak ditemukan
dan tumbuh berbagai pakan alami di dasar tanah tersebut. Lokasi budidaya juga
harus jauh dari jalan raya (kebisingan), karena akan menyebabkan induk gurami
mengalami stress, akibatnya bisa jadi induk tidak akan melakukan proses
pemijahan.
3.2. Kegiatan Pembenihan
Kegiatan pembenihan gurami meliputi
pemilihan induk, pemeliharaan induk, teknik pemijahan, penetasan telur,
pemeliharaan larva hingga benih siap didederkan lebih lanjut yaitu ukuran biji
oyong atau gabah (umur 30-40 hari).
a. Pemilihan induk
Berikut ini ciri-ciri induk unggul
dan berkualitas ikan gurami :
-
Induk dipilih diantara suatu peranakan
yang pertumbuhannya paling cepat, dan tidak berada dalam keturunan yang sama.
-
Kondisi tubuh sehat dan bentuk badan
normal
-
Gerakan ikan normal dan lincah
-
Susunan sisik rapid an teratur; licin
dan mengkilat; serta tidak ada luka
-
Umur produktif 4-10 tahun untuk induk
betina dan 3-7 tahun untuk induk jantan.
-
Berat badan induk lebih dari 2 kg/ekor.
Berat badan induk jantan diusahakan lebih besar dibandingkan induk betina.
-
Khusus induk jantan dipilih yang berdagu
besar dan tebal. Hal ini karena yang demikian akan pandai dalam membuat sarang
dan akan memudahkan perannya dalam pemindahan telur ke dalam sarang.
(Mahyuddin, 2009)
b. Pemeliharaan induk
Induk
maupun calon induk yang akan dipijahkan dipelihara dalam kolam pemeliharaan
induk, dengan tujuan mempercepat proses pematangan gonad serta menjaga
kesehatan induk. Kolam induk jantan dan betina hendaknya dipisahkan, karena
jika disatukan maka khawatir akan terjadi pemijahan yang tidak terkontrol.
Kolam pemeliharaan induk dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok, tetapi dasar
kolam diusahakan tetap tanah, karena bau tanah dapat membantu mempercepat
pematangan gonad induk gurami. Induk gurami diberi makan dua macam pakan yaitu dari
tumbuhan (daun talas, kangkung, kacang hijau, ketela pohon, dan daun pepaya)
dan pakan buatan (pelet dengan protein minimal 25%). Pakan tumbuhan diberikan 5-10
% dari total bobot ikan perhari. Pakan pelet hanya sebagai pelengkap, karena
pakan tumbuhan harus dalam prosentase yang lebih banyak agar telur yang
dihasilkan akan mudah terurai dan tidak diselubungi lemak. Dengan pengelolaan
yang baik maka setiap 3 bulan sekali induk gurami dapat dipijahkan kembali.
c. Pemilihan
induk siap pijah
Untuk
mempercepat pematangan gonad induk dapat dilakukan beberapa cara :
-
Aliran air. Kolam pemijahan harus
dilengkapi saluran air masuk dan pengeluaran, agar aliran air yang masuk kolam
dapat merangsang ikan untuk matang gonad dan memijah.
-
Tanah. Bau tanah dapat merangsang /
memicu pematangan gonad.
-
Pakan daun sente / talas
-
Manipulasi suhu
-
Manipulasi cahaya
Ciri
ikan gurami betina dan jantan yang siap dipijahkan adalah :
-
Induk betina : perut tampak buncit dan
membesar ke arah belakang, perut terasa lembek/lunak, pada alat
kelamin/disekitar anus terlihat berwarna putih kemerahan dan agak menonjol,
warna tubuh relative terang, dan pergerakan induk lebih lamban.
-
Induk jantan : bentuk perut meruncing ke
arah anus, aktivitas induk mengumpulkan bahan sarang (ijuk, sabut kelapa atau
rumput kering), selalu beriringan dengan induk betina, tingkah lincah dan
agresif, alat kelamin tampak memerah dan warna
tubuh cenderung merah dan hitam terang, jika ditekan bagian perut kea
rah alat kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih jernih.
d. Persiapan pemijahan
Kolam pemijahan sebaiknya dengan
dasar tanah agar bau tanahnya dapat merangsang induk gurami untuk segera
memijah. Tahapan persiapan kolam pemijahan adalah sebagai berikut :
-
Kolam dikeringkan selama 3-7 hari,
tujuannya untuk merangsang birahi induk agar segera kawin, membunuh hama
penyakit, serta membuang gas-gas yang membahayakan ikan (ammonia)
-
Setelah itu dilakukan pengapuran dengan
dosis 100 gr/m2. Pemberian kapur bertujuan menaikkan pH dan membunuh
bibit penyakit.
-
Pengisian air kolam sedalam 80 cm dengan
air bersih dan jernih. Setelah 3-4 hari maka induk dapat dimasukkan ke
kolam pemijahan.
Di alam, induk gurami jantan membuat
sarang yang terbuat dari rumput-rumput kering yang disusun di pojokan kolam.
Agar proses pemijahan berlangsung cepat, pembudidaya perlu menyediakan tempat
kerangka sarang (sosog) dan bahan yang diperlukan untuk membuat sarang
(ijuk/serabut kelapa). Diameter mulut sosog antara 25-30 cm dan dalamnya 30-40
cm. Pemasangan sosog dilakukan di pematang dengan cara bagian tangkainya
ditancapkan de pematang kolam. Jarak pemasangan sosog satu dengan lainnya
sekitar 2-4 m.
Gambar
4. Sosog
Gambar
5. Bahan sarang
e. Teknik pemijahan
Dasar kolam sebaiknya berupa tanah.
Kolam pemijahan jangan terlalu luas karena akan menyebabkan gerakan induk
kurang produktif. Umumnya berbentuk persegi panjang ukuran 20-200 m2,
tetapi yang umum diterapkan yaitu 20-25 m2 dengan sistem
paket/pasangan yaitu dalam satu kolam diisi 1 ekor jantan dan 3 ekor betina
(1:3 atau 5 meter/induk). Kedalaman kolam sekitar 75-100 cm.
Proses pemijahan ikan gurami
membutuhkan waktu relatif lama, dan sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan
gonad induk dan rangsangan dari luar. Biasanya berlangsung setelah 15-30 hari
induk dilepas ke kolam pemijahan. Induk jantan akan membuat sarang yang dapat
berlangsung 1-2 minggu tergantung kondisi induk dan lingkungannya. Setelah itu induk jantan akan menghampiri dan
menggiring induk betina untuk melakukan pemijahan dan biasanya terjadi didepan
mulut sarang. Fertilisasinya terjadi secara eksternal yaitu bertemunya telur
dan sperma di luar tubuh. Induk betina akan menyemprotkan telur-telurnya
melalui lubang sarang, kemudian induk jantan membuahi dengan menyemprotkan
spermanya pada telur. Telur yang tercecer diluar sarang akan dimasukkan induk
jantan ke dalam lubang sarang dengan mulutnya.
Waktu pemijahan biasanya terjadi
pada sore hari, yaitu antara pukul 14.00 – 17.00. Setelah pemijahan selesai,
induk jantan akan menutup lubang sarang dengan ijuk/sabut kelapa/rumput kering
yang menandakan dalam sarang sudah ada telur. Telur di sarang dapat diambil 1
hari setelah pemijahan. Induk betina dalam menjaga telur dan sarangnya sesekali
mengipaskan sirip terutama ekornya ke arah sarang. Tujuannya untuk meningkatkan
kandungan oksigen terlarut dalam air guna membantu menetaskan telur-telur dalam
sarang.
Penanda telur sudah keluar yaitu adanya
bau amis yang dapat dicium di sekitar sarang serta adanya lapisan minyak di
sekitar sarang. Namun jika tanda tersebut tidak tampak maka dilakukan
pemeriksaan telur di sarang dengan cara meraba menggunakan tangan.
Ada beberapa tahap pemijahan dari
ikan gurami, yaitu :
-
Pemijahan alami
kelemahan : tidak diketahui pasti
waktu terjadinya pemijahan.
keunggulan : fekunditas lebih
tinggi, karena telur dan sperma yang keluar benar-benar sudah matang sehingga
tingkat keberhasilan tinggi.
-
Pemijahan semi buatan
yaitu dengan menyeleksi induk
jantan dan betina yang sudah matang, kemudian dilakukan penyuntikan dengan
hormon (contohnya : hormon ovaprim)
untuk memacu pematangan akhir pada gonad dan ovulasi terjadi lebih cepat.
Pada betina disuntik dengan dosis
2x lipat dari jantan. Kemudian dicampur antara jantan dan betina yang sudah
disuntik untuk selanjutnya dipijahkan secara alami.
-
Pemijahan buatan
yaitu murni ada campur tangan dari
manusia. Dengan disuntik hormon lalu dilakukan stripping pengurutan / penekanan
dari bawah sirip dada sampai lubang genital) hingga keluar telur dan spermanya.
Menggunakan hormon Ovaprim, hipofisa.
kelemahan : tingkat keberhasilan
rendah karena kemungkinan ada telur atau
sperma yang belum matang gonad.
keuntungan : waktu keluarnya telur
dapat ditentukan oleh manusia karena adanya penyetrippingan yang dilakukan.
f. Penetasan telur
Pemisahan telur dari sarang
dilakukan dengan tahapan :
-
Sarang dimasukkan dalam wadah / baskom
-
Lalu dikeringkan perlahan-lahan dan
dibersihkan dari sarang. Minyak harus dibuang karena akan memengaruhi
ketersediaan oksigen terlarut dan air tercemar sehingga proses penetasan telur
bisa terganggu. Daun ketela / kertas koran dapat digunakan untuk
mengurangi/menyerap minyak.
-
Telur dicuci sampai bersih, lalu dimasukkan
dalam air bersih.
Proses penetasan telur dilakukan
dari telur menetas hingga menjadi larva kurang lebih 9-12 hari. Ciri telur yang
baik (hidup) yaitu berwarna kuning bening, transparan dan mengkilap. Ciri telur yang tidak baik (mati) yaitu
berwarna kuning keputihan dan agak kusam sehingga harus segera dibuang. Telur terlebih dahulu di aklimatisasi
dalam mangkok plastik dan biarkan mengapung di air selama 5-10 menit.
Wadah untuk menetaskan telur bisa memakai
akuarium, bak ember, maupun paso. Bak ember dengan volume 20 liter, diameter
50-60 cm dan berwarna hitam, ketinggian air sekitar 15-20 cm. Air dalam wadah
penetasan sebelum digunakan sebaiknya diberi larutan methylene blue untuk
mencegah timbulnya jamur pada telur gurami. 1-2 hari sebelum telur dimasukkan,
air dalam wadah penetasan diaerasi terlebih dahulu untuk menetralisir gas
beracun. Padat penebaran telur dalam bak ember antara 1000-1250 butir per
ember. Proses penetasan dari telur menjadi larva berlangsung selama 9-12 hari.
Faktor utama yang memengaruhi penetasan yaitu suhu. Jika suhunya rendah maka
penetasannya lama. Hal ini disebabkan karena metabolisme dalam tubuh ikan
semakin rendah. Setelah telur menetas maka dipindahkan ke bak pemeliharaan larva
(lanjutan). Pemeliharaan larva dilakukan selama 30 hari. Pemberian pakan pada
larva dilakukan bertahap, yaitu dimulai saat kuning telur habis. Pemberian
pakan larva yang efektif yaitu hari ke 8-10 setelah telur menetas. Pada hari
ke-8, kuning telur yang merupakan cadangan makanan larva mulai menipis dan
mulai belajar mencari makan sendiri. (Mahyuddin, 2009)
DAFTAR
PUSTAKA
Bachtiar, Yusuf. 2010. Buku Pintar Budidaya dan Bisnis Gurami.
Jakarta : Agromedia Pustaka.
Mahyuddin,
Kholish. 2009. Panduan Lengkap Agribisnis
Ikan Gurami. Jakarta : Penebar
Swadaya.
--26--



Tidak ada komentar:
Posting Komentar