Halaman

Rabu, 19 November 2014

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI

TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN
TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
Sesuai materi kuliah pertemuan ke-2 dan ke-3



            Nama                   : Nindiya Nastiti
     NIM           : 26010213140072



PRODI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
2014





I.       PENDAHULUAN
           
            Budidaya ikan Gurami merupakan usaha sektor perikanan yang tidak pernah sepi peminat. Ikan asli perairan Indonesia ini seolah-olah memiliki daya tarik istimewa bagi kalangan pembudidaya ikan. Padahal, Gurami merupakan jenis ikan yang pertumbuhannya lambat dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya. Mengapa para petani tidak meninggalkan jenis ikan yang satu ini, lalu memilih membudidayakan jenis ikan lain yang masa pemeliharaannya lebih singkat ?. (Bachtiar, 2010)
            Ikan gurami termasuk ikan yang membutuhkan waktu / siklus hidup yang lama. Pertumbuhannya bahkan bisa hanya 7,5 cm – 50 cm dalam 4 tahun. Namun, ikan gurami memiliki kelebihan tersendiri dibanding ikan air tawar lain. Menurut Mahyuddin (2009), gurami termasuk jenis ikan yang mudah dipelihara karena dapat hidup di kolam yang airnya tergenang (tidak mengalir), minim oksigen, lahan terbatas (hemat lahan) di kawasan marginal dan hemat air. Gurami juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena harga ikan gurami relatif stabil dan tinggi dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, serta permintaannya cenderung meningkat tiap tahunnya. Hal ini diperkuat oleh Bachtiar (2010), bahwa harga jual gurami ukuran konsumsi menempati urutan teratas diantara ikan air tawar lainnya. Penyebabnya adalah permintaan pasar yang tinggi, sedangkan ketersediannya masih rendah karena faktor pemeliharaannya yang lama. Faktor lainnya, jelas gurami memiliki cita rasa yang enak dan gurih. Selain faktor diatas, keunggulan lain dari budidaya gurami yaitu pakan yang mudah diperoleh. Selain pellet, pakan alami juga bisa diberikan pada gurami, contohnya daun sente atau daun talas (Alocasia macrorrhiza). Benih ikan juga mudah didapat, apalagi jika lokasi budidaya berada di daerah sentra pembenihan gurami. Hal inilah yang menyebabkan gurami menjadi salah satu komoditas budidaya ikan yang unggul.




II.      TINJAUAN PUSTAKA
            Ada dua pendapat mengenai asal usul atau sejarah ikan ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa ikan ini berasal dari perairan asli Indonesia. Bahkan diperkirakan sudah mulai dipelihara sejak zaman Raja Galuh di Priangan Timur yang sekarang menjadi wilayah di Jawa Barat. Pendapat kedua mengatakan bahwa gurami merupakan ikan asli perairan Asia Tenggara. Ikan ini tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga terdapat di Thailand dan Malaysia (Bachtiar, 2010). Distribusi ikan ini sendiri di kawasan Asia meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Malaysia, Thailand, dan Indochina.
            Ikan gurami termasuk bangsa ikan Labyrinthici, yaitu bangsa ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan (labirin), disamping juga memiliki insang untuk bernafas. Adanya alat pernafasan tambahan ini memungkinkan ikan gurami mengambil oksigen langsung dari udara sehingga gurami cocok dipelihara di kolam air yang tergenang. Adapun klasifikasi ikan gurami adalah sebagai berikut :
Filum               : Chordata
Kelas               : Pisces
Subkelas          : Teleostei
Ordo                : Labyrinthici
Subordo          : Anabantoidea
Famili              : Anabantidae
Genus              : Osphronemus
Spesies            : Osphronemus Gouramy, Lac.
Nama Inggris  : Gouramy, Giant gouramy
Nama Indonesia : Gurami, gurame, gurameh, grameh (Jawa); kalau, kala, dan kalui (Kalimantan); Kalui (Sumatera) (Mahyuddin, 2009).
            



           
                        Gambar 1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
            Adapun ciri-ciri morfologi ikan gurame sebagai berikut :
-          Bentuk badan agak panjang, gepeng atau pipih ke samping (compressed), dan lebar.
-          Sisiknya berukuran relatif besar dengan tipe sisik ctenoid (tidak membulat secara penuh).
-          Kepala pada gurami muda berbentuk lancip dan berdahi normal atau rata. Sedangkan pada gurami dewasa/tua mempunyai bentuk kepala dempak/tumpul. Khusus pada gurami jantan yang sudah tua terdapat tonjolan seperti cula pada bagian dahi atau kepala.
-          Pada gurami muda atau benih terdapat 7-8 buah garis tegak berwarna hitam dan garis-garis itu akan hilang atau tidak terlihat pada gurame dewasa.
-          Warna tubuh pada gurame muda umumnya berwarna biru kehitam-hitaman dan bagian perut berwarna putih. Warna tersebut akan berubah menjelang dewasa yakni pada bagian punggung berwarna kecoklatan dan pada bagian perut berwarna keperak atau kekuning-kuningan.
-          Mulut gurame berukuran kecil, letaknya miring dan dapat disembulkan sehingga tampak monyong. (Mahyuddin, 2009)
Habitat ikan gurami yaitu di air tawar, air payau, dan benthopelagic. Namun menurut Bachtiar (2010), habitat asli gurami berada di perairan tawar yang airnya jernih, tenang, dan dalam, seperti rawa, danau, sungai yang alirannya tidak deras, atau di perairan tergenang lainnya. Gurami dapat berkembang biak dengan baik di dataran rendah hingga sedang, yakni 400-600 meter dpl. Tetapi jika budidaya dilakukan di daerah yang berketinggian lebih dari 600 meter dpl pertumbuhan gurami akan sangat lambat. Hal ini disebabkan ketunggian lebih dari 600 mdpl mempunyai suhu udara dingin sehingga gurami akan kehilangan selera makan saat udara dan suhu air sangat rendah.
Berdasarkan kebiasaan makan, pada waktu larva/benih ikan gurami bersifat karnivora (pemakan daging). Sedangkan pada gurami dewasa berubah menjadi ikan pemakan campuran (omnivora) yang cenderung pemakan tumbuhan. Hal ini diperkuat oleh Mahyuddin (2009), bahwa  Gurami pada waktu masih larva terutama setelah telur menetas menyukai jasad renik seperti kutu air, chlorela, rotifer, dan artemia. Pada gurami stadia benih menyukai dan memakan cacing sutera (Tubifex sp) dan dilanjutkan tumbuh-tumbuhan air yang lunak seperti hydrilla. Sedangkan pada gurami dewasa memakan tumbuh-tumbuhan seperti daun talas/sente, ketela pohon, kangkung, dan daun papaya. Pada pemeliharaan ikan gurami secara intensif maka keberadaan pakan buatan (pellet) mutlak diberikan.
            Waktu memijah ikan gurame adalah sepanjang tahun. Hal ini sesuai pernyataan Mahyuddin (2009) bahwa gurami di alam memijah sepanjang musim kemarau, namun apabila dipelihara di kolam budidaya, gurami dapat berkembang biak sepanjang tahun. Tingkat keberhasilan pemijahan yang paling tinggi yaitu pada setiap akhir musim penghujan yaitu menjelang musim kemarau. Pada saat air kolam agak surut dan suhu air agak meningkat, gurami terangsang untuk melakukan pemijahan. Gurami berkembang biak secara ovipar (eksternal) yaitu pembuahan terjadi diluar tubuh. Dalam 1 tahun induk gurami dapat 2 kali memijah.
            Jenis  ikan gurami beraneka ragam, meliputi gurami soang (angsa), gurami bastar, gurami bluesafir, gurami paris, gurami jepang/jepun, gurami porselen, gurami kapas, gurami batu, dan gurami padang. (Bachtiar, 2010)



III.    PEMBAHASAN

            Pembenihan ikan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan benih dengan ukuran tertentu. Selanjutnya benih yang dihasilkan dapat dipelihara lebih lanjut pada kegiatan pendederan atau pembesaran. Satuan produksi pembenihan ikan adalah jumlah (butir telur atau ekor), sedangkan ukuran benih gurami dinyatakan dalam panjang (cm) (Mahyuddin, 2009). Tujuan pembenihan ikan pada dasarnya untuk memproduksi / menghasilkan benih yang berkualitas unggul / baik. Benih yang unggul ditandai dengan pertumbuhan yang lebih cepat. Benih unggul juga bukan dari satu keturunan yang sama (dari induk yang sama).
3.1.      Wadah Budidaya
            Wadah budidaya gurami bisa dalam kolam semen maupun kolam tanah. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak berporos. Karena jika berporos akan cepat menyerap air (merembes). Kalau bisa cenderung memakai tanah liat atau lempung, tidak berbatu-batu, cukup mengandung humus sehingga dapat menumbuhkan pakan alami. Tanah yang subur banyak ditemukan dan tumbuh berbagai pakan alami di dasar tanah tersebut. Lokasi budidaya juga harus jauh dari jalan raya (kebisingan), karena akan menyebabkan induk gurami mengalami stress, akibatnya bisa jadi induk tidak akan melakukan proses pemijahan.
3.2.      Kegiatan Pembenihan
            Kegiatan pembenihan gurami meliputi pemilihan induk, pemeliharaan induk, teknik pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva hingga benih siap didederkan lebih lanjut yaitu ukuran biji oyong atau gabah (umur 30-40 hari).
a.         Pemilihan induk
            Berikut ini ciri-ciri induk unggul dan berkualitas ikan gurami :
-          Induk dipilih diantara suatu peranakan yang pertumbuhannya paling cepat, dan tidak berada dalam keturunan yang sama.
-          Kondisi tubuh sehat dan bentuk badan normal
-          Gerakan ikan normal dan lincah
-          Susunan sisik rapid an teratur; licin dan mengkilat; serta tidak ada luka
-          Umur produktif 4-10 tahun untuk induk betina dan 3-7 tahun untuk induk jantan.
-          Berat badan induk lebih dari 2 kg/ekor. Berat badan induk jantan diusahakan lebih besar dibandingkan induk betina.
-          Khusus induk jantan dipilih yang berdagu besar dan tebal. Hal ini karena yang demikian akan pandai dalam membuat sarang dan akan memudahkan perannya dalam pemindahan telur ke dalam sarang. (Mahyuddin, 2009)
b.         Pemeliharaan induk
            Induk maupun calon induk yang akan dipijahkan dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk, dengan tujuan mempercepat proses pematangan gonad serta menjaga kesehatan induk. Kolam induk jantan dan betina hendaknya dipisahkan, karena jika disatukan maka khawatir akan terjadi pemijahan yang tidak terkontrol. Kolam pemeliharaan induk dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok, tetapi dasar kolam diusahakan tetap tanah, karena bau tanah dapat membantu mempercepat pematangan gonad induk gurami. Induk gurami diberi makan dua macam pakan yaitu dari tumbuhan (daun talas, kangkung, kacang hijau, ketela pohon, dan daun pepaya) dan pakan buatan (pelet dengan protein minimal 25%). Pakan tumbuhan diberikan 5-10 % dari total bobot ikan perhari. Pakan pelet hanya sebagai pelengkap, karena pakan tumbuhan harus dalam prosentase yang lebih banyak agar telur yang dihasilkan akan mudah terurai dan tidak diselubungi lemak. Dengan pengelolaan yang baik maka setiap 3 bulan sekali induk gurami dapat dipijahkan kembali.
c.         Pemilihan induk siap pijah
            Untuk mempercepat pematangan gonad induk dapat dilakukan beberapa cara :
-                      Aliran air. Kolam pemijahan harus dilengkapi saluran air masuk dan pengeluaran, agar aliran air yang masuk kolam dapat merangsang ikan untuk matang gonad dan memijah.
-                      Tanah. Bau tanah dapat merangsang / memicu pematangan gonad.
-                      Pakan daun sente / talas
-                      Manipulasi suhu
-          Manipulasi cahaya
            Ciri ikan gurami betina dan jantan yang siap dipijahkan adalah :
-          Induk betina : perut tampak buncit dan membesar ke arah belakang, perut terasa lembek/lunak, pada alat kelamin/disekitar anus terlihat berwarna putih kemerahan dan agak menonjol, warna tubuh relative terang, dan pergerakan induk lebih lamban.
-          Induk jantan : bentuk perut meruncing ke arah anus, aktivitas induk mengumpulkan bahan sarang (ijuk, sabut kelapa atau rumput kering), selalu beriringan dengan induk betina, tingkah lincah dan agresif, alat kelamin tampak memerah dan warna  tubuh cenderung merah dan hitam terang, jika ditekan bagian perut kea rah alat kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih jernih.

d.         Persiapan pemijahan
            Kolam pemijahan sebaiknya dengan dasar tanah agar bau tanahnya dapat merangsang induk gurami untuk segera memijah. Tahapan persiapan kolam pemijahan adalah sebagai berikut :
-          Kolam dikeringkan selama 3-7 hari, tujuannya untuk merangsang birahi induk agar segera kawin, membunuh hama penyakit, serta membuang gas-gas yang membahayakan ikan (ammonia)
-          Setelah itu dilakukan pengapuran dengan dosis 100 gr/m2. Pemberian kapur bertujuan menaikkan pH dan membunuh bibit penyakit.
-          Pengisian air kolam sedalam 80 cm dengan air bersih dan jernih. Setelah 3-4 hari maka induk dapat dimasukkan ke kolam  pemijahan.
            Di alam, induk gurami jantan membuat sarang yang terbuat dari rumput-rumput kering yang disusun di pojokan kolam. Agar proses pemijahan berlangsung cepat, pembudidaya perlu menyediakan tempat kerangka sarang (sosog) dan bahan yang diperlukan untuk membuat sarang (ijuk/serabut kelapa). Diameter mulut sosog antara 25-30 cm dan dalamnya 30-40 cm. Pemasangan sosog dilakukan di pematang dengan cara bagian tangkainya ditancapkan de pematang kolam. Jarak pemasangan sosog satu dengan lainnya sekitar 2-4 m.
Description: sosog+sarang+pemijahan+ikan+gurami PERSIAPAN PEMIJAHAN IKAN GURAME





                                                Gambar 4. Sosog
Description: bahan+sarang+ikan+gurami++ijuk+sabut+kelapa PERSIAPAN PEMIJAHAN IKAN GURAME





                                                Gambar 5. Bahan sarang
e.         Teknik pemijahan
            Dasar kolam sebaiknya berupa tanah. Kolam pemijahan jangan terlalu luas karena akan menyebabkan gerakan induk kurang produktif. Umumnya berbentuk persegi panjang ukuran 20-200 m2, tetapi yang umum diterapkan yaitu 20-25 m2 dengan sistem paket/pasangan yaitu dalam satu kolam diisi 1 ekor jantan dan 3 ekor betina (1:3 atau 5 meter/induk). Kedalaman kolam sekitar 75-100 cm.
            Proses pemijahan ikan gurami membutuhkan waktu relatif lama, dan sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan gonad induk dan rangsangan dari luar. Biasanya berlangsung setelah 15-30 hari induk dilepas ke kolam pemijahan. Induk jantan akan membuat sarang yang dapat berlangsung 1-2 minggu tergantung kondisi induk dan lingkungannya. Setelah  itu induk jantan akan menghampiri dan menggiring induk betina untuk melakukan pemijahan dan biasanya terjadi didepan mulut sarang. Fertilisasinya terjadi secara eksternal yaitu bertemunya telur dan sperma di luar tubuh. Induk betina akan menyemprotkan telur-telurnya melalui lubang sarang, kemudian induk jantan membuahi dengan menyemprotkan spermanya pada telur. Telur yang tercecer diluar sarang akan dimasukkan induk jantan ke dalam lubang sarang dengan mulutnya.
            Waktu pemijahan biasanya terjadi pada sore hari, yaitu antara pukul 14.00 – 17.00. Setelah pemijahan selesai, induk jantan akan menutup lubang sarang dengan ijuk/sabut kelapa/rumput kering yang menandakan dalam sarang sudah ada telur. Telur di sarang dapat diambil 1 hari setelah pemijahan. Induk betina dalam menjaga telur dan sarangnya sesekali mengipaskan sirip terutama ekornya ke arah sarang. Tujuannya untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air guna membantu menetaskan telur-telur dalam sarang.
            Penanda telur sudah keluar yaitu adanya bau amis yang dapat dicium di sekitar sarang serta adanya lapisan minyak di sekitar sarang. Namun jika tanda tersebut tidak tampak maka dilakukan pemeriksaan telur di sarang dengan cara meraba menggunakan tangan.
            Ada beberapa tahap pemijahan dari ikan gurami, yaitu :
-                      Pemijahan alami
kelemahan : tidak diketahui pasti waktu terjadinya pemijahan.
keunggulan : fekunditas lebih tinggi, karena telur dan sperma yang keluar benar-benar sudah matang sehingga tingkat keberhasilan tinggi.
-                      Pemijahan semi buatan
yaitu dengan menyeleksi induk jantan dan betina yang sudah matang, kemudian dilakukan penyuntikan dengan hormon (contohnya :  hormon ovaprim) untuk memacu pematangan akhir pada gonad dan ovulasi terjadi lebih cepat.
Pada betina disuntik dengan dosis 2x lipat dari jantan. Kemudian dicampur antara jantan dan betina yang sudah disuntik untuk selanjutnya dipijahkan secara alami.
-                      Pemijahan buatan
yaitu murni ada campur tangan dari manusia. Dengan disuntik hormon lalu dilakukan stripping pengurutan / penekanan dari bawah sirip dada sampai lubang genital) hingga keluar telur dan spermanya. Menggunakan hormon Ovaprim, hipofisa.
kelemahan : tingkat keberhasilan rendah karena kemungkinan ada  telur atau sperma yang belum matang gonad.
keuntungan : waktu keluarnya telur dapat ditentukan oleh manusia karena adanya penyetrippingan yang dilakukan.
f.          Penetasan telur
            Pemisahan telur dari sarang dilakukan dengan tahapan :
-                     Sarang dimasukkan dalam wadah / baskom
-                     Lalu dikeringkan perlahan-lahan dan dibersihkan dari sarang. Minyak harus dibuang karena akan memengaruhi ketersediaan oksigen terlarut dan air tercemar sehingga proses penetasan telur bisa terganggu. Daun ketela / kertas koran dapat digunakan untuk mengurangi/menyerap minyak.
-                     Telur dicuci sampai bersih, lalu dimasukkan dalam air bersih.
            Proses penetasan telur dilakukan dari telur menetas hingga menjadi larva kurang lebih 9-12 hari. Ciri telur yang baik (hidup) yaitu berwarna kuning bening, transparan dan mengkilap.  Ciri telur yang tidak baik (mati) yaitu berwarna kuning keputihan dan agak kusam sehingga harus segera dibuang.           Telur terlebih dahulu di aklimatisasi dalam mangkok plastik dan biarkan mengapung di air selama 5-10 menit.
            Wadah untuk menetaskan telur bisa memakai akuarium, bak ember, maupun paso. Bak ember dengan volume 20 liter, diameter 50-60 cm dan berwarna hitam, ketinggian air sekitar 15-20 cm. Air dalam wadah penetasan sebelum digunakan sebaiknya diberi larutan methylene blue untuk mencegah timbulnya jamur pada telur gurami. 1-2 hari sebelum telur dimasukkan, air dalam wadah penetasan diaerasi terlebih dahulu untuk menetralisir gas beracun. Padat penebaran telur dalam bak ember antara 1000-1250 butir per ember. Proses penetasan dari telur menjadi larva berlangsung selama 9-12 hari. Faktor utama yang memengaruhi penetasan yaitu suhu­. Jika suhunya rendah maka penetasannya lama. Hal ini disebabkan karena metabolisme dalam tubuh ikan semakin rendah. Setelah telur menetas maka dipindahkan ke bak pemeliharaan larva (lanjutan). Pemeliharaan larva dilakukan selama 30 hari. Pemberian pakan pada larva dilakukan bertahap, yaitu dimulai saat kuning telur habis. Pemberian pakan larva yang efektif yaitu hari ke 8-10 setelah telur menetas. Pada hari ke-8, kuning telur yang merupakan cadangan makanan larva mulai menipis dan mulai belajar mencari makan sendiri. (Mahyuddin, 2009)



DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Yusuf. 2010. Buku Pintar Budidaya dan Bisnis Gurami. Jakarta :             Agromedia Pustaka.

Mahyuddin, Kholish. 2009. Panduan Lengkap Agribisnis Ikan Gurami. Jakarta :    Penebar Swadaya.



--26--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar