BUDIDAYA LOBSTER LAUT
TUGAS MATA KULIAH DASAR-DASAR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
ANGGOTA KELOMPOK :
|
HILDA
NOVIYANI H.
|
26010210120018
|
|
NOOR
WIDAYATI
|
26010213120008
|
|
WINARTI
|
26010213120023
|
|
TRI
HANDAYANI
|
26010213120037
|
|
ELFANDRA
A. R.
|
26010213140056
|
|
NURSATIA
|
26010213130071
|
|
KAMARUZZAMAN
ALHAMDY
|
26010213120010
|
|
MOCHAMMAD
ARFA
|
26010213140048
|
|
NINDIYA
NASTITI
|
26010213140072
|
|
MULAT
SUBEKTI
|
26010213140083
|
|
MARINA
MASYITHOH
|
26010213140096
|
|
CITRA
ANDRIANI
|
26010213130107
|
|
SAMSIR
AMRUDIN
|
26010213140118
|
|
FADLILAH
YUNI R.
|
26010213130129
|
PROGRAM
STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
TAHUN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Lobster laut (Panulirus sp.)
atau udang barong merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi. Komoditas ini tidak asing dikalangan masyarakat penggemar
makanan laut (sea food). Lobster terkenal dengan dagingnya yang halus
serta rasanya yang gurih dan lezat. Jika dibandingkan dengan udang jenis
lainnya, lobster memang jauh lebih enak. Tidak salah jika makanan ini merupakan
makanan yang bergengsi yang hanya disajikan di restoran-restoran besar dan
hotel-hotel berbintang. Karena harganya yang mahal, lobster biasanya hanya
dikonsumsi oleh kalangan ekonomi atas.
Mangsa pasar lobster tidak hanya
terbatas di dalam negeri, namun juga diluar negeri. Permintaan akan lobster
selalu meningkat tajam setiap tahunnya. Pada tahun 1990, ekspor lobster ke
Belanda, yang merupakan salah satu negara penggemar lobster di Eropa Barat,
mencapai 745,132 ton atau 89,59% dari total ekspor lobster Indonesia (826 ton).
Di Asia, Jepang dan Hongkong
merupakan pengimpor lobster terbesar. Masyarakat di kedua negara ini terkenel sebagai penggemar masakan laut,
termasuk lobster. Di Jepang, lobster biasanya disajikan dalam bentuk lobster
rebus, dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu asing. Selain itu, lobster
sering kali disajikan dalam acara pernikahan sebagai pengganti kado.
Meskipun termasuk negara penghasil
lobster, kebutuhan lobster Jepang belum terpenuhi sehingga harus mengimpor dari
negera lain. Pada tahun 1990, ekspor lobster Indonesia ke Jepang mencapai
53.443 kg atau 6,43% dari total ekspor lobster Indonesia. Permintaan Hongkong
akan lobster tidak jauh berbada dengan Jepang. Tingginya permintaan lobster di
Hongkong dilatarbelakangi moleh mitos yang terdapat di Cina, yaitu bentuk
lobster yang seperti naga akan dapat mendatangkan hoki bagi yang menyantapnya.
Selain untuk ekspor, kebutuhan pasar
dalam negeri juga meningkat seiring dangan meningkatnya arus wisatawan manca
negara, mengingat sebagian besar konsumen lobster adalah orang asing.
Peningkatan permintaan lobster biasanya diikuti dengan peningkatan harga.
Selain itu, tingginya harga lobster juga disebabkan oleh terbatasnya volume
produksi. Penetapan harga lobster biasanya didasarkan pada jenis, ukuran, dan
kondisi fisik lobster itu sendiri.
Harga lobster tergolong tinggi baik di
pasar domestik maupun pasar ekspor.
Nilai lobster yang tinggi dan akses pasar yang lancar mendorong
penangkapan lobster di alam dilakukan secara intensif. Di Indonesia
terdapat enam jenis lobster, namun yang banyak dikenal oleh masyarakat hanya
dua jenis, yaitu lobster mutiara (Panulirus versicolor) dan lobster
bambu (Panulirus penicillatus). Harga lobster mutiara biasanya lebih
tinggi, dapat mencapai 2-3 kali lipat dibandingkan dengan lobster bambu.
Kondisi fisik (morfologis) lobster pun sangat menentukan tingakat harga.
Lobster yang masih hidup, sehat, dan tidak cacat cenderung lebih mahal.
Sementara, lobster yang cacat atau mati, harganya jauh lebih murah untuk semua
jenis.
Harga lobster relatif stabil. Kalaupun
mengalami fluktasi (pada musim lobster), perubahannya relatif kecil. Mengingat
permintaan negara-negara pengimpor lobster yang hingga saat ini belum terpenuhi, harga lobster akan cenderung
meningkat. Hal ini merupakan peluang bagi para nelayan dan pembudidaya untuk
mengembangkan usaha penangkapan dan budidaya lobster.
Volume permintaan dan harga lobster yang
cenderung meningkat setiap tahun akan sangat menarik minat nelayan untuk
mengadakan penangkapan secara lebih intensif. Demikian juga potensi perairan
laut Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 658.000 km2 (60%), yang
berarti masih ada sekitar 438.800 km2 (40%) yang belum dimanfaatkan.
Dari total luas perairan laut Indonesia (1.097.000 km2), 6.782,48 km2
(0,62) diantaranya merupakan habitat lobster. Pemanfaatan peluang tersebut
dapat dilakukan dengan optimalisasi penangkapan di seluruh perairan Indonesia,
dengan menggunakan alat tangkap tertentu yang tetap memperhatikan kelestarian
habitat alami lobster. Selain dengan penangkapan, dapat juga dilakukan usaha
budidaya lobster secara intensif (dalam bak secara terkontrol). Selain memenuhi
permintaan pasar, usaha budidaya juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan
produksinya. Dikhawatirkan suatu saat populasi lobster laut Indonesia akan
berkurang dan bahkan mungkin punah sehingga perlu dilakukan upaya untuk
melestarikannya.
2. Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini yaitu untuk :
- Mengetahui tujuan utama budidaya lobster laut di Indonesia
- Mengetahui klasifikasi dan
karakteristik lobster laut,
- Mengetahui cara-cara / teknik
membudidayakan lobster laut yang baik
sampai dengan cara penanganan setelah panen agar sampai ke tangan konsumen.
3. Permasalahan
Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu :
a. Bagaimana teknik atau cara-cara membudidayakan lobster
laut yang baik?
b. Bagaimana teknik pembenihan lobster laut?
c. Bagaimana cara menangkap lobster yang telah siap
untuk dipanen, dengan tetap memerhatikan keselamatan lobster dan lingkungan
perairan laut itu sendiri?
d. Bagaimana penanganan lobster pasca dipanen agar
sampai ke tangan konsumen dengan baik?
4. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan
informasi mengenai teknik budidaya lobster laut yang dapat dijadikan sebagai
acuan dalam melakukan budidaya lobster laut mulai
dari anakan sampai menjadi lobster dewasa yang siap di jual ke konsumen.
BAB II
PEMBAHASAN
I.) TINJAUAN PUSTAKA
a. Biologis Lobster
Lobster laut termasuk dalam family
palinuridae. Sistematika lobster telah banyak diungkapkan oleh banyak peneliti,
meskipun terdapat berbagai perbedaan.
Klasifikasi yang dibuat oleh Latreille (1806) dalam Borradaille (1907)
membagi ordo decapoda kedalam dua subordo, yaitu macrura dan brachyura.
Pembagian ini didasarkan atas kondisi (letak) abdomen. Namun, pembagian ini
memiliki banyak kelemahan. Oleh karena itu, H. Milne Edward (1834) dalam
borradaille (1907) menambahkan satu subordo lagi yaitu Anuora. Namun pembagian
ini dirasa masih memiliki kekurangan, sehingga ditambahkan Boas (1880) dalam Borradaille (1907)
mengusulkan dua subordo yang diberi nama reptantia dan naptantia. Lobster dimasukkan
kedalam ordo reptantia, sedangkan udang dimasukkan kedalam ordo naptantia.
Oleh
Waterman dan Chace (1960) dalam moosa M.K dan Aswandy I. (1984), klasifikasi
lobster dijelaskan sebagai berikut :
Super kelas : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Subkelas : Eumalacostraca
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Subordo : Reptantia
Superfamili : Scyllaridae
Famili : Palinuridae
Genus : panulirus
Spesies : Panulirus homarus, P.
Penicillatus, P. Longipes, P.versicolor, P.ornatus, P. poliphagus.
Lobster sering
kali disebut dengan spiny lobster.
Diindonesia, selain dikenal sebagai udang barong atau udang karang, lobster juga memiliki
berbagai nama daerah. Beberapa diantaranya adalah urang takka (makasar), koloura
(kendari), loppa (bone), hurang karang (sunda), udang puyuh (padang), dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin
lobster bisa ditentukan dari letak alat kelaminnya. Alat kelamin jantan
terletak diantara kaki jalan kelima, berbentuk lancip, dan menonjol keluar.
Sementara, alat kelamin betina terletak diantara kaki jalan ketiga, berbentuk
dua lancipan. Lobster jantan biasanya berukuran lebih kecil dibandingakan
dengan lobster betina. Hal ini
diperkuat oleh Carpenter & Niem (1998) dalam Kadafi, et.al.,
jenis kelamin lobster ditentukan dengan melihat letak gonopores. Gonopores lobster jantan terletak pada kaki jalan kelima, sedangkan
lobster betina terletak pada kaki jalan ketiga. Selain
dari letaknya, penentuan jenis kelamin lobster juga dapat dilakukan dengan
memperhatikan ukuran badannya.
![]() |
c. Karakteristik
Sifat dan
kelakuan lobster perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum memulai usaha
budidaya lobster di kolam secara terkontrol. Ketidaktahuan akan sifat dan
kelakuan lobster seringkali menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan budidaya.
Sifat dan kelakuan lobster diuraikan sebagai berikut.
1.
Sifat Nokturnal
Sifat
nokturnal adalah sifat lobster yang melakukan aktivitasnya pada malam hari,
terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang hari lobster
beristirahat dan tinggal di tepi laut berkarang di dekat rumput laut yang
subur, bersama golongan karang. Diharapkan, para pembudidaya lobster
memanfaatkan sifat ini, yakni melakukan pemberian pakan pada malam hari dengan
dosis yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan pada siang hari.
Dengan
sifat nokturnal tersebut, tampak bahwa lobster senang bersembunyi di
tempat-tempat yang gelap. Di alam, lobster bersembunyi pada lubang-lubang yang
terdapat di sisi terumbu karang. Oleh karena itu, tempat budidaya lobster perlu
dilengkapi dengan tempat perlindungan atau tempat persembunyian.
2.
Sifat Ganti Kulit (Moulting/Ecdysis)
Langkah
awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya pergantingan kulit
(moulting atau ecdysis). Peristwa moulting pada Crustacea adalah pergantian
atau penanggalan rangka luar untuk diganti dengan yang baru. Proses ini
biasanya diikuti dengan pertumbuhan dan pertambahan berat badan.
Proses
pergantian kulit pada lobster hampir sama dengan pergantian kulit pada udang
penaeid, misalnya udang windu. Sebelum moulting, lobster mencari tempat
pesembunyian terlebih dahulu tanpa melakukan aktivitas makan dan tidur. Dua
hari kemudian, bagian kepala sudah mulai retak, kemudian dilepaskan dengan
gerakan meloncat.
Setelah berganti kulit,
lobster akan mengisap air sebanyak-banyaknya sehingga tubuhnya terlihat
membengkak. Untuk mengeraskan kulit barunya, lobster membutuhkan gizi yang
cukup dan jumlah pakan yang lebih
banyak. Proses pengerasan kulit biasanya berlangsung selama 1-2 minggu.
3.
Sifat Kanibalisme
Di
alam, pakan yang disukai lobster adalah berbagai jenis kepiting, moluska, dan
ikan. Jika persediaan pakan tidak memadai, lobster akan memangsa sesamanya.
Sifat lobster yang saling memakan sesama jenisnya ini disebut sifat
kanibalisme. Peristiwa ini terjadi terutama jika ada lobster yang sedang dalam
kondisi lemah (sedang berganti kulit) atau pakan yang diberikan kurang tepat
baik jenis, jumlah, frekuensi, maupun waktu pemberian. Oleh karena itu,
diperlukan adanya manajemen pakan yang baik. Selain itu, pemasangan potongan
pipa paralon di dasar bak akan sangan akan membantu lobster yang sedang
berganti kulit untuk menghindari pemangsaan dari lobster lainnya.
4.
Daya Tahan
Pada
umunya, jenis jenis udang mampu bertahan hidup pada perairan dengan kondisi
salinitas yang berubah-ubah (berfluktuasi). Sifat ini disebut eurihaline. Akan
tetapi, beberapa jenis udang, termasuk udang barong atau lobster, merupakan
biota laut yang sangat sensitif terhadap perubahan salinitas dan suhu. Oleh
karena itu, budidaya harus dilakukan
di tempat yang beratap sehingga air hujan tidak masuk ke dalam media budidaya.
Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya fluktuasi salnitas dan suhu yang
terlalu tinggi. Jenis Panulirus sp. lebih toleran terhadap salinitas
antara 25-45%.
Lobster
mencari makan pada malam hari, di sekitar karang yang lebih dangkal.
Lobster bergerak di tempat yang aman pada lubang-lubang karang, merayap untuk
mencari makan. Apabila terkena sinar lampu, lobster akan diam sejenak, kemudian
melakukan pergerakan mundur dan menghindar.
Pada
saat tertentu, biasanya lobster berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk
melakukan pemijahan. Lobster betina yang telah matang telur biasanya berukuran
(dari ujung telson sampai ujung rostrum) sekitar 16cm, sedangkan lobster jantan
sekitar 20cm. Seekor lobster jantan dapat membuahi banyak telur yang kemudian
disimpan di bagian bawah perut lobster betina.
5.
Habitat
Lobster atau udang barong memiliki dua fase
dalam siklus hidupnya, yaitu fase pantai dan fase lautan. Lobster akan memijah
di dasar perairan laut yang berpasir dan berbatu. Telur yang dibuahi akan
menetas menjadi larva yang kemudian bersifat planktonis, melayang-layang dalam
air. Larva yang disebut phylosoma ini memerlukan waktu sekitar 7 bulan
untuk menjadi lobster kecil/muda.
Habitat
alami lobster adalah kawasan terumbu karang di perairan-perairan yang dangkal
hingga 100 m di bawah
permukaan laut. Di Indonesia, terdapat perairan karang yang merupakan habitat
lobster seluas 6700 km2
dan merupakan perairan karang terluas di dunia.
Lobster berdiam di dalam
lubang-lubang karang atau menempel pada dinding karang. Aktivitas organisme ini
relatif rendah. Lobster yang masih muda biasanya hidup di perairan karang di
pantai dengan kedalaman 0,5-30 m
Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan
dasar pasir yang ditumbuhi rumput laut (seagrass). Hal ini diperkuat oleh Chan (1998)
dalam Saputra, habitat udang karang (lobster) pada umumnya adalah di perairan
pantai yang banyak terdapat bebatuan / terumbu karang. Terumbu karang ini
disamping sebagai barrier (pelindung) dari ombak, juga tempat bersembunyi dari
predator serta berfungsi pula sebagai daerah pencari makan. Akibatnya daerah
pantai berterumbu ini juga menjadi daerah penangkapan lobster bagi para
nelayan. Hal ini dapat dilihat dari cara nelayan mengoperasikan alat tangkap
(bintur) di daerah bebatuan di pantai. Setelah menginjak dewasa, lobster akan bergerak ke
perairan yang lebih dalam, dengan kedalaman antara 7-40 m. Perpindahan ini biasanya
berlangsung pada siang dan sore hari.
6. Morfologi lobster
Menurut
Moosa dan Aswandy (1984), morfologi dari lobster yaitu terdiri dari kepala dan
thorax yang tertutup oleh karapas dan memiliki abdomen yang terdiri dari enam segmen.
Karakteristik yang paling mudah untuk mengenali lobster adalah adanya capit (chelae) besar yang
pinggirnya bergerigi tajam yang dimiliki lobster untuk menyobek dan juga
menghancurkan makanannya. Udang karang mudah dikenal karena bentuknya yang
besar dibanding dengan udang lainnya.

Morfologi
dari udang karang atau lobster yaitu mempunyai bentuk badan memanjang,
silindris, kepala besar ditutupi oleh carapace berbentuk
silindris, keras, tebal dan bergerigi. Mempunyai antenna besar dan panjang
menyerupai cambuk, dengan rostum kecil.
Lobster
secara umum memiliki tubuh yang berkulit sangat keras dan tebal, terutama di
bagian kepala, yang ditutupi oleh duri-duri besar dan kecil. Mata lobster agak
tersembunyi di bawah cangkang ruas abdomen yang ujungnya berduri tajam dan
kuat. Lobster memiliki dua pasang antena, yang pertama kecil dan ujungnya
bercabang dua disebut juga sebagai kumis. Antena kedua sangat keras dan panjang
dengan pangkal antena besar kokoh dan ditutupi duri-duri tajam, sedangkan
ekornya melebar seperti kipas. Warna lobster bervariasi tergantung jenisnya,
pola-pola duri di kepala, dan warna lobster biasanya dapat dijadikan tanda
spesifik jenis lobster.
Menurut
Subani (1984), udang karang atau lobster memiliki ciri-ciri yaitu badan besar
dan dilindungi kulit keras yang berzat kapur, mempunyai duri-duri keras dan
tajam, terutama dibagian atas kepala dan antena atau sungut, bagian belakang
badannya (abdomen) dan lembaran ekornya. Pasangan kaki jalan tidak mempunyai
chela atau capit, kecuali pasangan kaki lima pada betina. Pertumbuhan udang
karang sendiri selalu terjadi pergantian kulit atau molting, udang karang
memiliki warna yang bermacam-macam yaitu ungu, hijau, merah, dan abu-abu serta
membentuk pola yang indah. Memiliki antena yang tumbuh dengan baik, terutama
antena kedua yang melebihi panjang tubuhnya.
Secara
morfologi tubuh lobster terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian depan atau cephalothoraxs (kepala
menyatu dengan dada) dan bagian belakang yang disebut abdomen (perut). Seluruh
tubuh lobster terdiri dari ruas-ruas yang tertutup olek kerangka luar yang
keras, bagian kepala terdiri dari 13 ruas dan bagian dada terdiri dari 6 ruas
(Subani, 1984). Menurut Sudradjat (2008), cephalothoraxs tertutup
oleh cangkang yang keras (carapace) dengan
bentuk memanjang kearah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat
bagian runcing yang disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala
bagian bawah, diantara rahang-rahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala
ditutup oleh kelopak kepala dan dibagian dalamnya terdapat insang. Mata
terletak dibagian bawah rostrum, berupa mata majemuk bertangkai yang dapat
digerakkan.
7. Sistem Reproduksi Lobster
Lobster
memiliki siklus hidup yang kompleks. Siklus hidup lobster mengalami beberapa
tingkatan yang berbeda pada tiap jenis. Lobster termasuk binatang yang mengasuh
anaknya walaupun hanya sementara. Menurut Subani (1978), sistem pembuahan
lobster terjadi di luar badan induknya (external fertilization).
Indung telur nya berupa sepasang kantong memanjang terletak mulai dari belakang
perut (stomach) dibawah jantung (pericarduim)
yang dihubungkan keluar oleh suatu pipa peneluran (oviduct) dan bermuara di dasar kaki jalannya
yang ketiga.
Menurut
Moosa dan Aswandy (1984), ukuran panjang total lobster jantan dewasa kurang
lebih 20 cm, dan betina kurang lebih 16 cm, sedangkan umur pertama kali matang
gonad yaitu ditaksir antara 5 tahun – 8 tahun. Pada waktu pemijahan lobster
mengeluarkan sperma (spermatoforik) dan meletakkannya
di bagian dada (sternum) betina mulai dari
belakang celah genital (muara oviduct)
sampai ujung belakang sternum.
Peletakan
spermatoforik ini terjadi sebelum beberapa saat peneluran terjadi. Masa
spermatoforik yang baru saja dikeluarkan sifatnya lunak, jernih dan kemudian
agak mengeras dan warna agak menghitam dan membentuk selaput pembungkus bagian
luar atau semacam kantong sperma.
Pembuahan
terjadi setelah telur-telur dikeluarkan dan ditarik kearah abdomen yaitu dengan
cara merobek selaput pembungkus oleh betina dengan menggunakan cakar (kuku)
yang berupa capit terdapat pada ujung pasangan kaki jalannya. Lobster yang
sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan
dibagian bawah dada (abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi
larva atau biasa disebut burayak atau tumpayak (Moosa dan Aswandy, 1984). Menurut
Hasrun (1996), lobster betina kadang-kadang dapat membawa telur antara 10.000
-100.000 butir, sedangkan pada jenis-jenis yang besar bisa mencapai 500.000
hingga jutaan telur. Banyak sedikitnya jumlah telur tergantung dari ukuran
lobster air laut tersebut.
Menurut
Prisdiminggo (2002), lobster mempunyai periode pemijahan yang panjang puncaknya
pada bulan November sampai Desember. Setiap individu hanya sekali memijah
setahun. Tetapi pada musim perkembangbiakan, lobster dapat melakukannya lebih
dari satu kali pemijahan. Waktu pemijahan sangat berhubungan dengan temperatur.
8. Jenis
Menurut
Moosa dan Aswandy (1984), lobster mendiami suatu perairan tertentu menurut
jenisnya. Berikut jenis-jenis lobster laut :
Ø Panulirus hommarus (lobster
hijau pasir) biasanya ditemukan hidup di perairan karang pada
kedalaman belasan meter, dalam lubang-lubang batu granit atau vulkanis. Jenis
ini sering ditemukan berkelompok dalam jumlah yang banyak dan pada saat masih
muda lebih suka hidup di perairan yang keruh.
Menurut Chan (1998) dalam Saputra, jenis Panullirus hommarus hidup pada
perairan pantai yang jernih pada bebatuan dan karang berpasir. Lobster ini
biasa disebut scapolled spiny lobster/spiny lobster mempunyai
punggung berwarna kebiru-biruan, kehijau-hijauan atau cokelat kemerah-merahan,
dan terdapat bintik-bintik besar dan kecil berwarna kuning terang. Pada bagian
badan terdapat garis kuning, melintang pada bagian sisi belakang segmen
abdomen. Selain itu, terdapat bercak-bercak pada bagian kakinya.
Ø Panulirus
Peniculatus (lobster batu) atau pronghorn spiny/spiny
lobster mempunyai bentuk tubuh berwarna hijau tua atau hijau-kehitaman dengan
sapuan warna coklat melintang. Lobster jantan biasanya berwarna lebih gelap
dari betina. Jenis Panulirus penicillatus biasanya mendiami perairan
dangkal berkarang (tidak jauh
dari pantai) di
bagian luar terumbu karang pada kedalaman 1-4 m, dengan air yang jernih dan berarus kuat.
Ø Panulirus longipes (lobster merah/bintik seribu) mampu beradaptasi pada berbagai habitat, namun lebih
menyukai perairan yang lebih dalam, pada lubang-lubang batt karang. Pada malam
hari, sering ditemukan pada tubir-tubir batuan dan kadang-kadang tertangkap di
perairan yang relatif dangkal (sekitar 1m) dengan air yang jernih dan berarus kuat.
Hal ini diperkuat oleh Chan (1998) dalam Saputra, habitat spesies P.
longipes adalah perairan karang atau bebatuan yang dangkal (tapi
kadang-kadang dijumpai juga pada kedalaman 130 meter). Perairan yang disukai
yang jernih, dengan arus seang, atau kadang-kadang sedikit keruh.
Lobster
ini disebut long legged spiny, mempunyai warna tubuh merah
kecoklatan terang, merah kecoklatan gelap, atau kemerahan. Terdapat
bintik-bintik putih dan setiap ruas kaki bergari-garis coklat atau
kekuning-kuningan memanjang. Spesies ini diperkirakan memiliki dua varietas,
yaitu Panulirus Longipes femoritiga dan Panulirus
Longipes longipes.
Ø Panulirus ornatus (lobster mutiara) lebih menyukai terumbu karang yang agak dangkal dan sering tertangkap di
perairan yang agak keruh, pada karang karang yang tidak tumbuh dengan baik, di
kedalaman 1-8m. Lobster ini disebut ornate
spiny, mempunyai tubuh berwarna hijau berbelang-belang kuning. Pada bagian
abdomen terdapat bintik berwarna kuning.
Ø Panulirus versicolor (lobster hijau) senang berdiam di tempat-tempat yang terlindung di
antara batu-batu karang, pada kedalaman hingga 16m. Jenis ini jarang terlihat berkelompok dalam jumlah
banyak. Lobster ini disebut painted
spiny, yang masih muda mempunyai bentuk tubuh berwarna kebiru-biruan atau keungu-unguan.
Sedangkan lobster dewasa berwarna hijau terang dengan sapuan warna merah,
terutama pada bagian punggung. Bagian kepala berwarna kehitam-hitaman dengan
bercak-bercak putih tersebar pada cangkang kepala. Pada setiap ujung segmen
terdapat guratan berbentuk pipa hitam dengan garis putih di bagian tengahnya.
Antena berwarna coklat muda kekuning-kuningan. Pada kaki didominasi oleh warna
putih.
Ø
Panulirus poliphagus (lobster bambu) banyak
ditemukan hidup di perairan karang yang keruh dan sering kali juga ditemukan di
dasar perairan yang berlumpur agak dalam. Lobster ini
disebut juga mud spiny mempunyai bentuk badan berwarna coklat.
Setiap ujung ruas tubuhnya terdapat guratan berbentuk pipa berwarna putih dan
coklat gelap.
Panulirus poliphagus (lobster bambu) banyak
ditemukan hidup di perairan karang yang keruh dan sering kali juga ditemukan di
dasar perairan yang berlumpur agak dalam. Lobster ini
disebut juga mud spiny mempunyai bentuk badan berwarna coklat.
Setiap ujung ruas tubuhnya terdapat guratan berbentuk pipa berwarna putih dan
coklat gelap.
d. Padat Penebaran
Menurut
Anggoro (1992), padat penebaran adalah jumlah ikan yang ditebarkan atau
dipelihara dalam satu-satuan luas tertentu. Padat penebaran ini erat kaitannya
dengan produksi dan kecepatan tumbuh ikan yang diharapkan. Peningkatan padat
penebaran akan berhenti pada suatu batas tertentu, karena pakan dan lingkungan
menjadi faktor pembatas.
Menurut
Widha (1993), ada dua efek kepadatan yang berpengaruh pada populasi organisme
air, pertama mempengaruhi pertumbuhan dan yang kedua adalah mempengaruhi kelulushidupan.
Padat penebaran yang terlalu tinggi menyebabkan ikan menjadi lemah karena
kompetisi dan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan pakan
sehingga kelulushidupannya akan rendah atau terhambatnya pertumbuhan akibat
kekurangan pakan, dengan demikian ada batas padat penebaran dan batas ini
tergantung dari umur dan ukuran ikan.
Dalam kegiatan pendederan lobster (Panulirus spp) masih mengalami kendala yaitu rendahnya
kelulushidupan pada stadia juvenile lobster. Hal ini diduga karena sifat kanibal pada stadia
juvenil pada lobster. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut
yaitu dengan pengaturan padat penebaran pada stadia juvenile lobster, dengan
padat penebaran yang tepat maka sifat kanibal pada lobster terutama pada stadia
juvenile dapat ditekan dan pertumbuhan serta kelulushidupan juvenile lobster
akan mendapatkan hasil yang terbaik. Penentuan tingkat padat penebaran ini
didasarkan pada pernyataan Dwi Eny Djoko (2006), yaitu padat penebaran yang
ideal untuk pemeliharaan lobster untuk sistem keramba jaring apung sebanyak
15-20 ekor per meter2 luas dasar kolam.
e.
Kelulushidupan
Menurut
Effendie (1997), kelulushidupan merupakan suatu peluang untuk hidup pada saat
tertentu. Metode yang umum digunakan untuk menyatakan tingkat kelulushidupan
adalah perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir percobaan
dengan jumlah individu pada awal percobaan. Kelulushidupan dan pertumbuhan
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi
jenis kelamin, keturunan, umur, reproduksi, ketahanan terhadap penyakit dan
kemampuan memanfaatkan pakan. Faktor eksternal meliputi kualitas air, padat
penebaran, jumlah dan komposisi kelengkapan asam amino dalam pakan.
f. Kualitas
Air
Menurut
Effendi (2003), suhu dan salinitas memainkan peranan yang penting dalam
kehidupan organisme laut dan estuaria. Suhu sangat berperan dalam mempercepat
metabolisme dan kegiatan organ lainnya. Suhu yang tinggi dapat meningkatkan
konsumsi oksigen dan terjadinya pengeringan sel. Keasaman air yang lebih
dikenal dengan pH (Paissanee negatif de H) juga sangat besar
pengaruhnya bagi kehidupan ikan. Keasaman dihitung berdasarkan logaritma
negatif dari ion-ion hidrogen per liter air. Keasaman (pH) yang terlalu tinggi
atau rendah akan meracuni ikan dan hewan lainnya. Derajat keasaman suatu
perairan menunjukan tinggi rendahnya konsentrasi ion hodrogen perairan
tersebut. Kisaran parameter kualitas air untuk pemeliharaan lobster secara
lengkap, disajikan pada tabel berikut :
|
Parameter
|
Kisaran Nilai
|
|
Suhu (oC)
|
11–29*
|
|
Salinitas (‰)
|
25-45***
|
|
DO (ppm)
|
>5***
|
|
Ph
Kedalaman (m)
Amoniak (ppm)
|
7,8-8,5**
11-15*
< 0.1***
|
Sumber:
*Menurut Cook (1978) dalam Cobb and Phillips (1980)
**Menurut
Effendi (2003) ***Menurut
Kanna (2006)
II.) PEMBAHASAN MASALAH
1. Cara
Budidaya Lobster Air Laut yang Baik
A. Pemilihan Lokasi Budidaya
1. Faktor Ekologis
Ekologis merupakan
salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pemilihan lokasi budidaya
lobster. Untuk pemilihan kondisi ekologis yang tepat, harus dikembangkan
beberapa parameter yang dapat digunaan untuk mengkaji dan menilai lokasi
pengembangan lobster jenis tertentu.
· Kondisi
Lingkungan Fisika
Lokasi yang
cocok bagi usaha budi daya lobster adalah daerah pantai yang terletak di
sekitar teluk, selat diantara pulau-pulau yang berdekatan, atau perairan
terbuka dengan terumbu karang penghalang (barrier
reef) yang cukup panjang. Lokasi juga harus bebas dari lalu lintas laut
karena lalu lintas kapal atau perahu dapat mengganggu ketenangan usaha
budidaya.
· Kondisi
Lingkungan Kimiawi
Lahan perairan
untuk budi daya lobster sebaiknya tidak mengalami fluktuasi salinitas yang
tajam. Fluktuasi salinitas di luar kisaran ideal menyebabkan terjadinya stress
pada lobster, ditandai dengan sulitnya berganti kulit (moulting). Kisaran salinitas yang optimal bagi lobster adalah
25-45 %.
2. Faktor Teknis
Faktor teknis
lebih ditekankan pada kondisi lokasi agar dapat mendukung teknologi yang akan
diterapkan . Lokasi yang cocok digunakan dalam budidaya lobster, baik
pembenihan maupun pembeseran, adalah lokasi dengan ketersediaan pasokan air
laut dan air tawar yang cukup. Air laut digunakan dalam pemijahan , pemeliharaan
larva, dan bahkan pemeliharaan induk.
3. Faktor Sosial Ekonomi
Lokasi
yang dipilih sebaiknya mudah dijangkau (accessible)
agar diperoleh kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana , pengelolaan
proses produksi, sampai pemasaran. Lokasi yang strategis akan memberikan
kemudahan dalam transportasi bahan, tenaga kerja, dan hasil panen, serta
kemudahan dalam pemantauan dan pengawasan lobster terhadap pencurian. Usaha
budidaya lobster memerlukan banyak tenaga kerja sehingga berdampak positif
terhadap masyarakat sekitar karena dapat menciptakan lapangan kerja.
4. Aspek Peraturan dan
Perundang-undangan
Lokasi
dan lahan yang dipilih sebagai tapak usaha budi daya lobster sebaiknya tidak
bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Izin usaha
dari pemerintah harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadi hambatan pada saat
akan memulai usaha.
B. Sarana Pembenihan
Sarana pembenihan akan sangat
mempengaruhi kualitas dan kuantitas benih lobster yang dihasilkan. Beberapa
sarana yang dibutuhkan dalam usaha pembenihan lobster adalah sebagai berikut :
1. Calon
Induk
Kualitas dan kuantitas benih yang
akan dihasilkan dalam pembenihan lobster sangat dipengaruhi oleh induk yang
digunakan. Calon induk lobster yang akan dikembangbiakkan harus memenuhi
beberapa persyaratan, yakni berumur 1,5-2,0 tahun, berat 1,0-1,5 kg/ekor untuk
induk jantan dan 1,5-2,0 kg/ekor untuk induk betina, sudah matang gonad
(ditandai dengan warnanya yang lebih cemerlang dengan panjang kerapas minimal
65 mm), serta sehat dan tidak cacat.
2. Pakan
Pakan
yang dibutuhkan dalam pembenihan lobster adalah pakan alami yang berupa rotifer
(Brachionus plicatilis). Selain
rotifer, diperlukan jenis pakan lain untuk melengkapi nutrisi yang tidak
terkandung dalam rotifer, terutama protein. Pakan yang dapat digunakan misalnya
daging ikan rucah. Disamping pakan alami, dapat juga diberikan pakan buatan, seperti
flake yang sering dipakai sebagai
pakan dalam usaha pembenihan udang windu (Penaeus
monodon Fabricius). Di perairan, makanan untuk kebutuhan ikan sebenarnya sudah
tersedia yaitu berupa makanan alami yang banyak sekali macamnya, baik dari
golongan hewan (zooplankton, invertebrate, dan vertebrate),
tumbuhan (phytoplankton maupun
tumbuhan air) dan organisme mati (detritus).
Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan atau
kulitivan diberi pakan berupa ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek
hingga kenyang. Tujuh bulan berikutnya pemberian pakan hanya dilakukan satu
hari sekali dengan dosis 4-6% bobot badan.
3.
Bak Sand Filter dan Reservoir
Sand
Filter (saringan pasir ) berupa bak beton (permanen) yang berisi pasir, ijuk,
kerikil, dan arang yang disusun untuk menjernihkan air. Air yang telah
tersaring ditampung dan diendapkan dalam reservoir
I selama 1-2 hari agar kualitas air yang digunakan lebih terjamin. Selanjutnya
,air dialirkan ke dalam reservoir II
dan siap untuk digunakan. Selama pengendapan kedua, air sebaiknya dperlakukan
dengan aerasi terus –menerus untuk meningkatkan kandungan oksigennya.
4. Bak
Pemeliharaan Induk
Bak pemeliharaan induk terbuat dari
semen atau beton, berbentuk empat persegi panjang berukuran (3 x 2 x 1)m3
atau bujur sangkar berukuran (2 x 2 x 1)m3. Dinding bak bagian dalam
sebaiknya berwarna biru laut dan dasar bak diberi pasir putih setebal 10-15 cm.
Di permukaan pasir putih ditempatkan potongan paralon berdiameter 5 – 6 inci
sepanjang 30-50 cm sebagai tempat perlindungan. Bak ditemptakan di dalam
ruangan tertutup dengan intensitas cahaya matahari pada siang hari tidak
melebihi 1.000 lux. Bak pemeliharaan induk lobster dilengkapi dengan saluran
pemasukan (inlet) pengeluaran air (outlet) untuk mempermudah sirkulasi
air.
5. Bak
Kultur Pakan Alami
Bak kultur pakan almi terdiri atas
bak kultur Chloerella sp. dan rotifer (Brachionus
plicatillis). Jumlah dan kapasitas bak disesuaikan dengan kebutuhan akan
pakan alami tersebut.
6. Bak
Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva / benih
lobster dapat terbuat dari semen (beton) berbentuk persegi panjang, bujur
sangkar, atau lingkaran dengan ukuran dan jumlah diesuaikan dengan skala usaha
yang akan diterapkan. Selain itu, dapat juga digunakan fiberglass atau tangki polikarbonat. Bak pemeliharaan larva
sebaiknya ditempatkan di dalam ruangan untuk mencegah fluktuasi suhu akibat
sinar matahari langsung dan mencegah fluktuasi salinitas akibat hujan.
2.
Teknik
Pembenihan Lobster
Intensitas penangkapan lobster yang
tinggi telah menimbulkan tekanan terhadap populasinya di alam. Selain itu, usaha penangkapan lobster
seringkali dilakukan dengan cara dan alat atau bahan yang tidak ramah
lingkungan sehingga menimbulkan kerusakan pada habitat lobster dan lingkungan.
Kondisi ini jika berlangsung-terus menerus maka populasi lobster di alam akan
semakin terancam kelestariannya.
A. Persiapan
Persiapan yang harus diperhatikan
ketika ingin memulai pembenihan adalah
sarana dan prasarana pembenihan harus higienis, siap pakai, dan bebas dari
bahan cemaran yang dapat mengakibatkan kegagalan proses pembenihan. Beberapa
hal yang harus dilakukan seperti:
· Pembersihan
bak yang akan digunakan dengan menggunakan deterjen dan dikeringkan selama 2-3
hari.
· Pembersiahan
bak pembenihan jua dapat dilakukan dengan cara membasuh bagian dalam bak dengan
kain yang telah dicelupkan kedalam larutan desinfektan, misalnya klorin dengan
dosis 150 ppm atau formalin dengan dosis 50 ppm. Setelah dibasuh, didiamkan
selam 1-2 jam, dan selanjutnya dinetralkan dengan larutan natrium tiosulfat 50
ppm.
· Batu
dan selang aerasi pun perlu dibersihkan. Batu dan selang aerasi yang telah bersih
dipasang pada bak pembenihan dengan kepadatan minimal dua buah batu aerasi/m2.
B. Pemeliharaan
Induk
Induk
dipelihara dalam bak semen atau fiberglass
yang ditempatkan dalam ruangan agar air bak pemeliharaan bebas dari
pengaruh sinar matahari langsung dan air hujan. Pada prinsipnya, pemeliharaan
induk lobster bertujuan untuk menghasilkan induk-induk lobster yang layak untuk
dipijahkan, ditandai dengan kematangan gonad induk tersebut . induk lobster
jantan yang telah matang gonad berwarna lebih terang daripada biasanya, dengan
panjang carapace mencapai 32,65-55,00 mm. pemeliharaan induk lobster jantan
sebaiknya dilakukan secara terpisah dengan induk betina agar tidak terjadi
pemijahan maling.
Pematangan gonad dapat dirangsang
melalui pengelolaan dan pemilihan jenis pakan. Biasanya, lobster menyukai pakan
alami berupa ikan,udang,keong, dan kerang-kerangan dalam bentuk segar. Pakan
diberikan secara ad libitum (sesuai
dengan kebutuhan) dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari. Dengan
pengelolaan dan pemilihan jenis pakan yang baik, diharapkan lobster dapat
matang gonad dan dapat memijah secara alami sehingga tidak perlu dilakukan
pemijahan buatan (ablasi
mata).
C. Pemijahan
Pemijahan
merupakan kegiatan mempertemukan induk jantan dan betina agar dapat kawin dan
menghasilkan telur. Untuk memperlancar proses pemijahan, sebaiknya salinitas
air bak pemijahan dipertahankan 25-45%. Pada umumnya, lobster akan memijah 3-6
jam setelah proses moulting selesai. Lobster jantan yang sedang birahi akan
menarik lobster betina sambil mengeluarkan sejenis zat yang berfungsi untuk
melindungi betina dari serangan lobster lain. Selanjutnya, lobster jantan
membersihkan kotoran yang melekat pada bagian perut dan dada lobster betina dan
membantu membalikkan tubuhnya. Kemudian, lobster jantan akan mengangkat kaki
jalan dan memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin lobster betina untuk
meyemprotkan sperma. Proses ini biasanya berlangsung selama 30 menit.
Setelah pemijahan, telur-telur yang
berada didalam bagian perut lobster betina akan mengalami beberapa kali
pembelahan sel. Biasanya, induk betina yang membawa telur disebut “betina
berry”. Pembelahan pertama terjadi lima jam setelah pemijahan. Pembelahan
kedua, ketiga, keempat, masing-masing terjadi 1,3, dan 4 jam setelah pembelahan
pertama. Selanjutnya, pembelahan berlangsung setiap dua jam sekali dan selesai
30 jam kemudian.
Setelah 30 jam, lobster betina akan
mengeluarkan telur-telur yang telah dibuahi. Satu kali peneluran memerlukan
waktu 30 menit. Telur akan keluar melalui carapace setelah melalui perut dan
lubang kelamin pada saat keluar dari dalam tubuh lobster betina, telur-telur
tersebut diletakkan dibawah perut, melekat pada bulu-bulu ang terdapat pada ummbai-umbai kaki renang.
Pada saat inilah telur lobster harus segera dipindahkan kebak penetasan untuk
ditetaskan .tiga minggu kemudian, telur-telur yang tidak dibuahi akan keuar
dengan sendirinya dari alat kelamin lobster betina.
D. Penetasan
Pada hari ketiga setelah telur
dikeluarkan, tali embrio menbesar menjadi daun embrio. Pada hari keempat dari
daun embrio akan tumbuh perut embrio. Pada hari kelima mulai tumbuh kaki
tambahan, kaki jalan, ekor, dan bulu-bulu halus. Pada hari kedelapan, dasar
mata berubah menjadi sel mata (titik hitam) dan ujung kaki tambahan ditumbuhi bulu-bulu
halus. Pada hari kesembilan, dasar cangkang kepala menjadi transparan dan
oragan-oragan pernapasan, pencernaan, dan pembuangan mulai terbentuk. Pada hari
kedua belas, kaki tambahan bertambah panjang dan oragan-organ baru mulai
terbentuk. Pada hari kudua puluh , telur menetas menjadi naupli loster yang
sering disebut nauplisoma. Biasanya, fase nauplisoma hanya berlangsung beberapa
jam, kemudian berganti kulit menjadi fase filosoma. Dua hari kemudian, filosoma
mulai mencari pakan alami yang berupa rotifera.
Larva yang baru berganti kulit
menjadi filosoma berwarna merah, kemudian berubah menjadi transparan. Didalam
air, filosom sulit dibedakan dengan tumbuhan air karena berbentuk mirip daun.
Namun, apabila diperhatikan secara cermat, ternyata filosoma ini sudah
mempunyai bulu-bulu halus berbentuk kupu-kupu. Selain itu, tulangnya masih
lembek dan kerangka luarnya masih belum mengandung zat kapur.
E. Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan
larva bertujuan untuk memelihara larva yang baru menetas hingga mejadi lobster
muda yang berukuran sekitar 7-10 cm. Kegiatan pemeliharaan larva biasanya
mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan
lainnya. Pada fase larva, lobster sangat sensitif terhadap perubahan
lingkungan, baik suhu dan salinitas maupun jenis, kualitas, dan kuantitas pakan
yang diberikan.
Sebaiknya
larva yang berasal dari induk yang berbeda tidak dipelihara dalam satu wadah
karena kedua kelompok larva tersebut akan mengalami proses bergati kulit (moulting) pada waktu yang berbeda. Hal ini
dapat menyebabkan tingginya tingkat kematian (mortalitas) akibat terjadinya
kanibalisme (saling memangsa) diantara larva yang dipelihara. Selain itu agar
larva dapat tumbuh dengan cepat, kualitas air harus selu dijaga dan
dipertahankan pada kondisi optimal.
a. Penebaran
Nauplisoma
Telur yang telah menjadi nauplisoma
dapat dipindahkan kedalam bak pemeliharaan larva dengan menggunakan ember atau
Waskom. Disarankan agar nauplisoma dipindahkan bersama dengan air medianya
untuk mencegah tingginya tingkat kematian larva paada saat pemindahan larva
harus dilakukan dengan hati-hati dan secepatnya untuk menghindari stress akibat
kepadatan larva yang tinggi dalam bak penetasan.
Pengambilan nauplisoma dari bak
penetasan dilakukan dengan cara mematikan aerasi terlebih dahulu, kemudian
nauplisoma diambil dengan hati-hati menggunakan gayung bersama-sama masa air.
Larva ditampung didalam ember atau wasskom yang dilengkapi aerasi lemah telebih
dahulu, kemudian dipindah ke bak pemeliharan larva.
Penebaran larva sebaiknya dilakukan pada
pagi atau sore hari karena suhu masih relative rendah ataupun disesuaikan
dengan waktu penetasan telur. Padat penebaran larva lobster berkisar antara
10-30 ekor/liter air. Selama pemeliharaan; diusahakan agar air dalam bak
pemeliharaa tetap bersih dan jernih dengan salinitas 31-33 ppt.
b. Pemberian
Pakan
Larva lobster membtuhkan
pakan dalam jumlah tertentu untuk menunjang aktivitas dan pertumbuhannya. Jenis
pakan yang dikonsumsi bervariasi, tergantung pada stadium dan ukuran larva. Pada
umunya, pada fase larva lobster cenderung menyukai pakan alami yang berupa
rotivera. Dengan kepadatan dipertahankan antara 10-15 ekor/ml. larva yang baru
menetas masih mempunyai cadangan makanan didalam tubuhnya, berupa kuning telur.
Kuning telur tersebut akan habis pada hari kedua setelah penetsan. Dengan
demikian, pemberian pakan pertama kali dilakukan pada hari kedua setelah
penetasan.
Sejalan
dengan perkembangan larva, kebutuhan pakan semakin meningkat. Untuk melengkapi
nutrisi, terutama protein ang tidak terdapat dalam rotifer selain itu, dapat
digunakan pakan buatan breupa flakes seperti yang biasa digunakan dalam
pembenihan udang windu. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pada
pagi, siang, dan malam hari.
F. Perkembangan
Larva
Selama pemeliharaan larva akan
mengalami pergantian kulit yaitu, dari stadium nauplisoma, filosoma, perurilla,
hingga mencapai stadium lobster muda. Telur yang baru menetas. Kualitas air
harus dijaga agar fluktuasi suhu dan salinitas tidak terlalu tinggi. Fluktuasi
suhu dan salinitas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lobster sulit berganti
kulit dan dengan demikian terhambat pertumbuhannya.
Pada stadium nauplisoma, nilai pH
media pemeliharaan lobster dipertahankan 9,2 dengan cara menambahkan NaOH
kedalam air. Selama larva berumur kurang dari sebulan, diusahakan agar tidak
dilakukan pergantian air karena larva masih sangat sensitif terhadap perubahan
lingkungan media tumbuhnya.
Pergantian air dapat dilakukan
setelah larva berumur sebulan, yakni dengan mengganti 10% dari volume air
keseluruhannya. Untuk mencegah fluktuasi suhu dan salinitas yang terlalu
tinggi, pergantian air dilakukan dengan system air mengalir(sirkulasi).
Banyaknya air yang digantidapat
ditngkatkan setelah larva menginjak stadium filosoma, yakni 25% dari volume air
keseluruhan, sedangkan pada tingkat perurilla sebanyak 30%. Pergantian air
diatur sedemikian rupa sehinggakondisi air dapat dipertahankan pada kisaran
suhu 28-32oC dan salinitas 25-30 ppt.
G. Panen
Lobster
Panen
dilakukan setelah lobster mencapai ukuran pasar, yaitu 150 – 200
gram/ekor. Benih yang ditebar dengan
ukuran rata-rata 5 gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran rata-rata 120
gram/ekor selama pemeliharaan 10 (sepuluh bulan). Sedangkan benih yang ditebar dengan ukuran 10
gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran rata-rata 120 gram/ekor selama 8 (delapan
bulan).
Udang
karang atau lobster hasil budidaya dipasarkan dalam kondisi hidup dan tidak
cacat, sehingga panen harus dilakukan secara hati-hati. Pemanenan dilakukan
dengan cara mengangkat karamba. Selanjutnya, lobster dipindahkan satu persatu
dari tempat pemeliharaannya ke dalam boks styrofoam. Pengangkutan udang antar
daerah maupun ekspor dilakukan dalam keadaan hidup. Selain itu, suhu diusahakan
rendah sekitar 20o C dengan kondisi tanpa air, tetapi lembab.
3.
Usaha Penangkapan Lobster
·
Pemilihan Alat Tangkap
Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam memilih jenis alat tangkap lobster, terutama tingkat risiko
yang ditimbulkan terhadap hasil tangkapan. Hal ini ditentukan karena sering
kali terjadi lobster tangkapan terluka, kehilanagan salah satu atau lebih organ
tubuh (cacat), atau pun mati akibat pemilihan alat tangkap yang tidak sesuai.
Hal – hal tersebut menyebabkan harga jual rendah.
Salah satu alat tangkap yang
mempunyai risiko kerusakan hasil tangkapan kecil dan menjamin lobster tetap
hidup adalah bubu. Penggunaan bubu juga tidak menimbulkan dampak negatif yang dapat mengancam kelestarian
ekosistem terumbu karang karena tidak
menggunakan racun atau bahan peledak. Bubu sudah lama digunakan oleh nelayan,
terutama untuk menangkap ikan karang, misalnya kerapu dan lobster. Alat tangkap
ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu badan bubu, ijeb-ijeb dan mulut/pintu .
Ijeb – ijeb umumnya berbentuk kerucut, bagian luar terlihat lebar, sedangkan
bagian dalam lebih sempit.
·
Jenis – Jenis Bubu
Di Indonesia, bubu umumnya terbuat
dari bambu, dengan aneka rakam bentuk : bujur sangkar, silindris, gendang
kubus, dan lain – lain. Jenis bubu yang demikian sering dioprasikan di perairan
dekat pantai atau perairan karang dangkal. Dengan perkembangan teknologi
perikanan, khususnya penangkapan ikan laut, bahan dan bentuk bubu pun mengalami
perkembangan. Berdasarkan bahan dan bentuknya, bubu dibedakan menjadi enam
macam, yaitu bubu bone, bubu bali, bubu beehive pot, bubu crayfish, bubu lipat,
dan krendet.
1.
Bubu Bone
Bubu
bone biasanya terbuat dari anyaman bambu, rotan, atau kawat besi. Bubu ini
disebut bubu bone karena biasa digunakan oleh nelayan yang beroprasi di teluk
bone. Pada umumnya bubu bone berbentuk balok/kotak yang dilubangi pada salah satu sisinya.
2.
Bubu Bali
Bubu bali terbuat dari anyaman
bambu. Alat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian luar dan bagian dalam.
Bagian luar berupa silinder menyerupai pagar (sappo) , sedangkan bagian dalam
berbentuk dua kerucut yang saling bertemu pada bagian ujungnya.
3.
Bubu Beehive Pot
Bubu beehive pot juga sering disebut
bubu laba–laba berbentuk menyerupai sarang laba-laba. Alat ini biasa
dioprasikan di daerah karang sehingga disebut juga rock lobster pot. Konstruksi
terdiri atas kerangka besi yang dibalut dengan anyaman rotan, sedangkan mulut
/injap terbuat dari anyaman rotan.
4.
Bubu Crayfish
Bubu crayfish banyak digunakan di
daerah Australia Berat. Sebagian besar terbuat dari bahan kayu dengan kombinasi
bagian atas dan bawah dari pelat besi agar mudah dan cepat tenggelam. Pada
umumnya, jenis bubu ini berbentuk trapesium sehingga juga sering disebut bubu
trapezium.
5.
Bubu Lipat
Bubu lipat berbentuk tidak tepat
persegi panjang , bagian atas berbentuk setengah lingkaran, sedangkan bagian
bawahnya sedikit melengkung. Bubu ini memiliki dua sisi yang pendek dan
dilengkapi dengan mulut.
6.
Krendet
Krendet
biasa digunakan oleh para nelayan di daerah partai selatan Yogyakarta, khusus
Gunung kidul ( pantai Baron , Krakal, dan Kukup ).
·
Pengoperasian Alat
Tangkap
1. Penetapan
Daerah Penangkapan ( Fishing
Ground )
Daerah penangkapan sangat menentukan
keberhasilan usaha penangkapan lobster. Perairan karang yang merupakan habitat
lobster di Indonesia mencapai luasan 6.700 km2. Perairan ini
merupakan perairan karang terluas di dunia. Potensi tersebut terdapat di
perairan sebelah barat Sumatra, Selat Malaka, sebelah selatan pulau jawa,
sebelah timur Kalimantan, perairan Maluku dan Irian Jaya, serta daerah Bali dan
Nusa Tenggara.
2.
Cara Pengoperasian Alat Tangkap
Berdasarkan skala usaha yang
diterapkan, ada dua system pengoprasian alat tangkap lobster dengan menggunakan
bubu, yaitu system tunggal (single trap ) dan sistem berangkai (long line
traps). Sistem tunggal merupakan cara pengoprasian alat tangkap dengan
menggunakan hanya satu buah alat tangkap per satu kali pemasangan. Pengoprasian
sistem tunggal memerlukan sebuah pelampung dan seutas tali dengan panjang
disesuaikan oleh nelayan–nelayan kecil yang mempunyai sarana sederhana dan
modal terbatas.
Pengoperasian sistem berangkai
memerlukan tali utama dengan ukuran panjang disesuaikan dengan banyaknya alat
tangkap yang akan digunakan. Selain itu, sistem ini juga memerlukan tali
pemberat dan pemberatnya serta tali pelampung dan pelampungnya.
a.
Persiapan
Sebelum dioperasikan, seluruh
komponen alat tangkap bubu haarus disiapkan di bagian butiran kapal. Umpan di
pasang kuat – kuat pada masing – masing alat tangkap sehingga tidak mudah
lepas.
b.
Penebaran
Penebaran bubu dapat dilakukan
setiap saat, pada saat kapal bergerak maju dengn kecepatan 3 knot. Tali
pelampung bubu pertama yang dijatuhkan ke laut akan diikuti oleh bubu bubu
berikutnya secara otomatis karena tertarik oleh bubu sebelumnya.
c.
Pengangkatan
Pengangkatan
bubu dilakukan pada siang hari agar lebih mudah menemukan pelampung tanda.
Bagian pertama yang di angkat adalah pelampung tanda, dengan menggunakan
pengait. Selanjutnya, tali pelampung ditarik dengan menggunakan mesin penarik
tali melalui sebuah takal. Takal berfungsi untuk mengurangi beban tarikan dan
gesekan yang dapat menyebabkan kerusakan pada tali.
3.
Tenaga Kerja
Pengoprasian
bubu dengan sistem berangkai (long line traps) dengn bubu sebanyak 10 – 30 buah
memerlukan tenaga kerja sekurang–kurangnya enam orang.
·
Penanganan Hasil
Tangkapan
Lobster
hasil penangkapan diupayakan agar teteap sampai ke tangan konsumen, mengingat
harga lobster hidup lebih tinggi dari pada lobster yang sudah mati. Untuk
mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterampilan tersendiri.
1.
Sistem Pengadukan Air
Penanganan lobster hasil tangkapan
dengan sistem ini sangat sederhana dan biasanya dilakukan oleh nelayan –
nelayan kecil dengan fasilitas kurang memadai. Biasanya, perahu nelayan
dilengkapi dengan bak penanampung lobster. Bak tersebut diisi air laut
secukupnya atau setinggi 15 – 20 cm. permukaan air terus menerus di aduk- aduk
secara terus menerus hingga lobster sampai ke tangan konsumen.
Secara
ekonomi, sistem ini mempunyai keuntungan tersendiri, yakni tidak memerlukan
biaya sehingga tidak terjadi pembengkakan biaya produksi. Namun, secara teknis
sistem ini merugikan karena membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan ruang. Selain itu, sistem ini tidak menjamin
kelangsungan hidup lobster hasil tangkapan karena kelalaian sedikit saja akan
berdampak besar terhadap lobster. Berdasarkan pengamatan nelayan penangkapan
lobster di Teluk Bone, penanganan lobster dengan cara seperti ini hanya bisa di
pertahankan 65% dari total tangkapan.
2.
Sistem Perlakuan Aerasi
Pada prinsipnya, penanganan hasil
tangkapan dengan sistem perlakuan aerasi hampir sama dengan penanganan dengan
sistem pengadukan air. Namun, untuk meningkatkan oksigen terlarut, diupayakan
difusi oksigen secara langsung dengan mencelupkan batu dan slang aerasi ke
dasar wadah penampungan. Pangkal selang aerasi dihubungkan dengan sumber udara
berupa tabung oksigen berupa tabung oksigen .
Keuntungan
sistem ini adalah kelangsungan hidup lobster lebih terjamin karena kandungann
oksigen dalam air relatif stabil. Namun, sistem ini membutuhkan banyak biaya
dan ruang. Meskipun demikian, jika dianalisis secara ekonomi, sistem ini lebih
menguntungkan karena bisa mempertahankan kelangsungan hidup hasil tangkapan
hingga 80-90%.
3.
Pembiusan dengan Suhu Rendah
Penanganan hasil tangkapan dengan sistem
ini biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan atau nelayan tertentu yang
memiliki keterampilan, sarana, dan prasarana yang memadai, dengan modal yang
cukup banyak. Pada prinsipnya, penanganan dengan sistem pembiusan adalah
menekan aktivitas metabolisme dan respirasi selama pengangkutan agar kehidupan
lobster dapat di perhatikan.
4. Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen produk perikanan
dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu panangana produk biologis,
penanganan produk awetan, dan penanganan produk olahan. Khusus komoditas
lobster, penanganan pasca panen hanya mengunakan metode pertama dan kedua,
mengingat pada
umumnya lobster dikonumsi dalam bentuk segar, bukan dalam bentuk olahan.
Penanganan produk biologis merupakan
rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan mutu produk perikanan
tanpa melakukan perubahan bentuk, bahkan lobster dipertahankan dalam keadaan
hidup. Penanganan produk biologis terhadap lobster dipandang sangat perlu,
mengingat harga akan jauh lebih tinggi apabila dalam keadaaan hidup. Penanganan
produk biologis pada lobster dapat dilakukan denagn pengemasa dan pengangkutan
serta penampungan.
A. Pengemasan
dan Pengangkutan
Pada dasarnya, pengemasan dan
pengangkutan lobster dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu metode basah (wet
method) dan metode kering (dry method). Metode basah merupakan suatu cara
pengemasan dan pengangkutan lobster beserta air medianya dengan menggunakan
fiberglass, styroform, atau wadah lainya yang dilengkapi dengan instalasi
aerasi. Sementara, metode kering merupakan cara pengemasan dan pengangkutan
lobster tanpa menggunakan air.
Pengangkutan dengan metode kering adalah
menciptakan kondisi tertentu sehingga metabolisme, respirasi, dan aktivitas lobster
rendah, dengan kondisi tersebut lobster
memiliki kemampuan hidup diluar kondisi habitatnya. Langkah-langkah pengemasan lobster dengan
metode kering adalah sebagai berikut :
a.
Persiapan dan Penanganan Lobster
Sebelum dilakukan pembiusan, diperlukan
beberapa tahap persiapan yang meliputi pemeriksaan kesehatan, pembugaran, dan
pemberokan lobster yang akan diangkut, serta persiapan media dan kemasan untuk
pengangkautan.
b.
Proses Pembiusan
Lobster dibius dengan cara menurunkan
suhu air secara bertahap sampai suhu tertentu. Pembiusan dapat dilakukan
secara langsung pada bak pemeliharaan
ataupun secara tidak langsung dengan mengunakan wadah atau bak lainya, seperti
akuarium dan baskom. Pembiusan lobster secara langsung adalah pembiusan yang
dilakukan pada bak pemeliharaan. Suhu air diturunkan secara berlahan dengan
menyemprotkan es air laut.
c.
Pengemasan
Kemasan yang digunakan adalah kotak styrofoam
yang memiliki daya insulasi tinggi sehingga perubahan suhu didalam kemasan dapat
dipertahankan tetap rendah.
B. Penampungan
Kegiatan penampungan lobster biasanya
dilakukan oleh pedangang pengumpul yang
beroprasi disekitar lokasi pendaratan kapal-kapal perikanan disepanjang pantai.
Pada perinsipnya usaha penampungan lobster sama dengan usaha pembesaran, namun
kegiatan pemeliharaanya bersifat sementara. Lama pemeliharaan tergantung pada
pencapaian target yang telah ditentukan sebelumnya. Selama penampungan ada
bebrapa hal yang harus dilakukan agar lobster tetap hidup dan sehat pada saat
akan dikemas dan diangkut. Hal-hal yang dimaksud meliputi konstruksi dan desain
bak penampungan , pengelolaan kualitas air, managemen pakan, grading, dan
lain-lain.
Penanganan produk awetan lebih tidak menguntungkan
apabila dibandingkan dengan penangana produk biologis karena harga lobster
hidup dapat mencapai 3-5 kali dari harga lobster mati. Namun demikian,
penanganan produk awetan perlu dilakukan selam pemeliharaan atau penangkapan
pasti ada lobster yang mati. Secara umum, penanganan produk awetan hasil
perikanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pengawetan dengan suhu
tinggi (pengasapan dan perebusan), pengawetan dengan suhu rendah (pendinginan
dan pembekuan), pengawetan dengan bahan kimia, dan pengawetan dengan dengan
mengurangi kadar air (pendinginan dan penggaraman). Khusus untuk lobster,
pengawetan biasanya dilakukan dengan suhu rendah, yaitu dengan pembekuan.
Proses
pembekuan
Langkah-langkah kerja dalam proses
pengawetan lobster melalui pembekuan dijelaskan sebagai berikut.
-
Persiapan
Persiapan lobster yang akan dibekukan
sangat sederhana. Lobster terlebih dahulu
dibersihkan dari lumpur , algae, dan zat-zat lain yang biasanya
ditemukan menempel pada tubuh lobster. Pencucian lobster ini harus dilakukan
secra hati-hati dan diusahan agar tidak ada anggota tubuh yang tertinggal,
mengingat sebaiknya lobster diekspor dalam kondisi utuh.
-
Pengemasan 1
Setelah dibersihkan, lobster dibungkus
dengan plastik serta dipres sehingga tertutup rapat. Ukuran plastik yang
digunakan tergantung pada ukuran lobster yang akan dikemas. Sebelum dikemas,
sebaiknya kondisi lobster diamati terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Lobster yang sudah lama mati dan sudah berbau busuk
sebaiknya tidak dikemas karena peluang pemasaranya sangat kecil.
-
Pemasukan dalam freezer
Lobster yang telah dikemas segera
dimasukkan ke dalam freezer untuk dibekukan. Pada umumnya, pembekuan lobster
dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu air blast freezing, contact plate
freezing, dan immersion (spray) freezing.
-
Pelepasan dan
pengemasan 2
Setelah proses pembekuan selesai,
kemasan lobster dikeluarkan dari dalam freezer dengan cara melepasnya satu per
satu. Selanjutnya, lobster ditimbang dan dikemas sesuai dengan permintaan
konsumen. Misalnya, kemasan lobster beku disusun dala kotak yang mempunyai daya
insulasi tinggi, yaitu kotak styrofoam.
BAB
III
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang dapat diambil yaitu :
· Tujuan
utama Budidaya
lobster ait laut adalah memanfaatkan potensi alam indonesia yang kaya akan
hasil laut yang mana secara tidak langsung juga bertujuan meningkatkan
pendapatan masyarakat nelayan dan meningkatkan ekspor produk hasil laut dalam
negeri. Lobster air laut dibudidayakan dari segi pembesaran dan pembenihan.
Pembenihan lobster air laut untuk bertujuan mendapatkan benih.
Pembenihan di lakukan dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina. Benih
yang dihasilkan bisa di budidayakan lewat pembesaran. Pembesaran lobster air
laut bertujuan untuk mendapatkan lobster dewasa yang siap dikonsumsi. Pembesaran
lobster sangat berhubungan dengan laju pertumbuhan.
·
Lobster merupakan
hewan malam (nokturnal). Lobster lebih banyak beraktivitas dan mencari makan
pada malam hari atau saat gelap. Karena itu, pemberian pakan lobster sebaiknya
lebih banyak dilakukan pada malam hari. Pada siang hari, lobster cenderung
untuk diam di tempat persembunyiannya. Mengalami Pergantian Kulit atau
Molting Pertumbuhan lobster ditandai dengan adanya pergantian kulit atau
biasanya dikenal dengan kata “molting”. Seiring dengan pertumbuhannya,
pergantian kulit akan semakin berkurang menjadi beberapa bulan sekali, atau
bahkan bisa satu tahun sekali. Lobster termasuk hewan yang memiliki sifat
kanibal atau memakan sesamanya. Umumnya, lobster yang sedang dalam tahap
molting sangat lemah dan rentan terhadap serangan sesamanya. Untuk itu makanan
yang diberikan untuk lobster yang dibudidayakan harus mencukupi, bila tidak
akan terjadi kanibalisme.
· Teknik membudidayakan
lobster laut yang baik terdiri dari
pemilihan lokasi budidaya, dan sarana pembenihan yang baik. Setelah lobster dibudidayakan
dengan baik, lobster ditangkap dengan menggunakan alat yang benar. Baru setelah
itu lobster mulai masuk dalam tahap pengemasan agar dapat sampai ke tangan
konsumen.
BAB
IV
DAFTAR PUSTAKA
Effendie,
M.I. 1997.
Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka
Nusatama. Yogyakarta.
Effendi,
H. 2003. Telaah Kualitas Air.
Kanisius. Yogyakarta.
Kadafi,
Muammar, et.al., 2006. Aspek Biologi dan
Potensi Lestari Sumberdaya Lobster (Panulirus
spp.) di Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Jurnal Perikanan VIII(1).
Kanna, Iskandar. 2006. Lobster. Kanisius. Yogyakarta.
Moosa,
M.K. dan I. Aswandy. 1984. Udang Karang
(Panulirus spp.) dari Perairan Indonesia. LON LIPI. Jakarta
Phillips,
B.F., J.S. Cobb, and R.W. George, 1980. General Biology. In Cobb, J.S.,
and B.P. Phillips
(eds.). The Biology and Management of Lobsters. Volume I. Physiology and
Behavior.
Academic Press.
Prisdiminggo,
Mashur, M. Nazam, L. Wirajaswadi. 2002. Budidaya
Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes
altivelis) dan Lobster (Panulirus sp) dalam Karamba Jaring Apung (KJA) di Teluk Ekas, Lombok Timur.
Saputra, Suradi Wijaya. 2009. Status Pemanfaatan Lobster (Panulirus sp) di Perairan Kebumen. Jurnal Saintek Perikanan
Vol. 4, No. 2
Subani,
W., 1987. Perikanan Udang Barong (Spiny Lobster) dan Prospek Masa
Depannya.
Bulletin Penelitian Perikanan Volume I (3). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan,
Jakarta.
______1984. Studi Mengenai Pergantian Kulit Udang Barong
(Spiny Lobster, Panulirus spp) Kaitannya dengan Hasil Tangkapan.
Laporan Penelitian Perikanan Laut.
--26--


i need help please this for my school project thankyou so much
BalasHapushttp://kelabang.godaddysites.com/
.
Linkaja88.net Agen Judi Online Linkaja Terbesar serta Terpercaya di Indonesia yang berlicensi dan berlokasi di Filipina !
BalasHapusMenyediakan Berbagai Jenis Judi Online Lengkap yang populer!
• S128
• SV388
• JOKER123
• SBOBET
• CBET
• 368BET
• BACCARAT
• SICBO
• ROULETTE
• SLOT
» Situs Judi Sabung Ayam Online Deposit Linkaja
» Daftar Sabung Ayam Online
» Judi Online Linkaja
Kontak Lengkap Klik » http://bit.ly/kontakonline24jam
Pengakuan tulus dari: FATIMAH TKI, kerja di Singapura
BalasHapusSaya mau mengucapkan terimakasih yg tidak terhingga
Serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya
kepada KY FATULLOH saya sudah kerja sebagai TKI
selama 5 tahun Disingapura dengan gaji Rp 3.5jt/bln
Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Apalagi setiap bulan Harus mengirimi Ortu di indon
Saya mengetahui situs KY FATULLOH sebenarnya sdh lama
dan jg nama besar Beliau
tapi saya termasuk orang yg tidak terlalu yakin
dengan hal gaib. Karna terdesak masalah ekonomi
apalagi di negri orang akhirnya saya coba tlp beliau
Saya bilang saya terlantar disingapur
tidak ada ongkos pulang.
dan KY FATULLOH menjelaskan persaratanya.
setelah saya kirim biaya ritualnya.
beliau menyuruh saya untuk menunggu
sekitar 3jam. dan pas waktu yg di janjikan beliau menghubungi
dan memberikan no.togel "8924"mulanya saya ragu2
apa mungkin angka ini akan jp. tapi hanya inilah jlnnya.
dengan penuh pengharapan saya BET 200 lembar
gaji bulan ini. dan saya benar2 tidak percaya & hampir pingsan
angka yg diberikan 8924 ternyata benar2 Jackpot….!!!
dapat BLT 500jt, sekali lagi terima kasih banyak KY
sudah kapok kerja jadi TKI, rencana minggu depan mau pulang
Buat KY,saya tidak akan lupa bantuan & budi baik KY.
Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
Buat Saudaraku yg mau mendapat modal dengan cepat
~~~Hub;~~~
Call: 0823 5329 5783
WhatsApp: +6282353295783
Yang Punya Room Trimakasih
----------
Raih Kemenangan Besar Anda Disitus MARIO QQ, Hanya Dengan Modal Rp.10.000 Anda Bisa Menangkan Jackpot Jutaan Rupiah Setiap Harinya !!!
BalasHapus✅ BONUS TURN OVER 0.3%
✅ BONUS REFFERAL 15%
✅ WIN RATE GAME 96,9%
✅ 100% PLAYER Vs PLAYER ( NO ROBOT & ADMIN )
✅ Minimal Deposit Bank : Rp.10.000 (BCA MANDIRI BNI BRI DANAMON)
✅ Minimal Deposit Pulsa : Rp.10.000
✅ Support E-Cash : GOPAY , DANA , OVO , LINK
Berapapun Kemenangan Bosku Pasti Akan Kami Bayar dan Kita Proses Dengan Cepat !!!
Hanya Disitus MARIO QQ Yang Memberikan JACKPOT dan BONUS TURN OVER Yang FANTASTIS Loh !!! Ayo Tunggu Apalagi Buruan Daftarkan dan Mainkan
Langsung Disitus Resmi MARIO QQ Dibawah Ini melalui :
WHATSAPP +62 821-4331-1663
Link Alternatif :
- www.qmario.com
- www.qmario. net