Halaman

Rabu, 19 November 2014

POTENSI DAN PELUANG BUDIDAYA POLIKULTUR

TUGAS MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN
POTENSI DAN PELUANG BUDIDAYA POLIKULTUR (UDANG WINDU, IKAN BANDENG, DAN RUMPUT LAUT) DI TAMBAK TRADISIONAL

Oleh :
NINDIYA NASTITI
26010213140072




PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
TAHUN 2014





I.       PENDAHULUAN
          Wilayah pesisir merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik tertentu dan subur, sehingga memiliki daya tarik yang besar sebagai tujuan wisata dan pengembangan kegiatan perikanan serta tujuan lain yang menghasilkan banyak keuntungan finansial. Kegiatan perikanan di wilayah pesisir adalah usaha perikanan budidaya di tambak tradional, seperti polikultur untuk udang, ikan bandeng dan atau udang dan ikan bandeng (Dahuri et al dalam Murachman et al, 1996). Pembudidayaan ikan merupakan kegiatan memelihara, membesarkan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol. Pembudidayaan ikan dapat dilakukan secara polikultur yaitu pembudidayaan ikan lebih dari satu jenis secara terpadu.
            Udang windu, ikan bandeng dan rumput laut secara biologis memiliki sifat–sifat yang dapat bersinergi sehingga budidaya polikultur semacam ini dapat dikembangkan dan mempunyai potensi keuntungan yang tinggi. Bentuk bentuk budidaya polikultur ini ramah terhadap lingkungan. Rumput laut merupakan penyuplai oksigen melalui fotosintesis pada siang hari dan memiliki kemampuan untuk menyerap kelebihan nutrisi dan cemaran yang bersifat toksik di dalam perairan. Sedangkan ikan bandeng sebagai pemakan plankton merupakan pengendali terhadap kelebihan plankton dalam perairan. Kotoran udang, ikan bandeng dan bahan organik lainnya merupakan sumber hara yang dapat dimanfaatkan oleh rumput laut dan fitoplankton untuk pertumbuhan (Ayu et al, 20110. Hubungan yang seperti ini dapat menyeimbangkan ekosistem perairan. Oleh karena itu, dalam makalah ini saya mencoba menguraikan potensi dan cara mewujudkan bisnis budidaya air payau dalam tambak tradional ini.

II.        ISI
2.1.      Cara mewujudkan
            Proses budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut secara tradisional terdiri dari enam komponen lokasi tambak, persiapan tambak, pemeliharaan, panen, sosial kelembagaan dan ekonomi. Masing–masing komponen memiliki sub komponen dan persyaratan. Ada hubungan keterkaitan satu komponen dengan komponen lainnya dalam proses budidaya polikultur. Aspek-aspek menurut Murachman  et al (2010) yaitu :
1.         Lokasi Tambak
            Lokasi tambak berada di pantai dekat laut, tanah dari jenis alluvial kelabu dimana bertekstur lempung liat berpasir, dengan ketinggian 0–3 m diatas permukaan laut serta kemiringan kurang dari 2,0%.
2.         Persiapan Tambak
a)         Tambak Polikultur
            Tambak polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut dengan luas antara 2–6 ha tiap petak dengan kedalaman 90–100 cm dilengakpi pintu air, pematang, caren dan plataran tambak.
b)         Pengapuran
            Pengapuran bertujuan untuk menurunkan keasaman tanah atau menaikkan pH tanah dan menjaga kestabilan kualitas air. Pengapuran menggunakan kapur dolomit minimal 2 kgha-1–100 kgha-1 atau rata–rata sebanyak 31,65 kgha-1. Pengapuran dilakukan sekali dalam satu musim tanam. Pengapuran dilakukan setelah pengeringan.
c)         Pengeringan
            Pengeringan dilakukan setelah 3–5 hari setelah pemberian saponin. Pengeringan bertujuan untuk meningkatkan pH yang turun pada pemeliharaan sebelumnya, selain itu pengeringan juga berfungsi sebagai pengendali kompetitor dan hama.
d)         Pemberian Saponin
            Pemberian saponin bertujuan untuk membasmi hama tambak berupa ikan liar, ular dan lainnya. Pemberian saponin dilakukan setelah panen terakhihr. Pemberian saponin dilakukan minimal 2,5 kgha-1 dan maksimal 25 kgha-1 atau rata–rata 16,18 kgha-1.
e)         Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menumbuhkan fitoplankton. Fitoplankton selain dapat memberikan tambahan oksigen terlarut kedalam air, juga berfungsi sebagai makanan alami bagi udang dan ikan bandeng. Pemupukan menggunakan pupuk urea dan TSP. Penggunaan urea minimal 5,0 kgha-1 dan maksimal 100 kgha-1 atau rata–rata 55,15 kgha-1. Sedangkan pupuk TSP minimal 1,0 kgha-1 dan maksimal 100 kgha-1 atau rata-rata 32,12 kgha-1.
f)         Pemasukan Air
            Setelah pemupukan dilakukan pemasukan air secara bertahap. Tambak siap di tebar rumput laut, dengan ketinggian air 30 cm di tambak. DO ± 7 mg/l, Alkalinitas ± 7,3 mg/l, Suhu air ± 32 °C, Salinitas ± 8,75 permil , pH ± 7. Diperlukan sebuah saluran utama yang berfungsi mengalirkan atau mengambil air dari sungai yang airnya payau (Inlet dan Outlet)
3.         Pemeliharaan
a)         Penebaran Rumput Laut
            Penebaran rumput laut dilakukan tujuh hari setelah pemupukan pada ketinggian air 10–15 cm. Kemudian ari dinaikkan lagi mencapai ketinggian 90–100 cm. Padat tebar rumput laut 975,47 kgha-1 dengan ukuran bibit 5 gram dari jenis Gracillaria sp.
b)         Penebaran Nener Bandeng
            Penebaran nener bandeng dilakukan tujuh hari setelah penebaran rumput laut. padat tebar nener bandeng 2.381,33 ekor tiap hektar tambak dengan ukuran panjang 3–5 cm.
c)         Penebaran Udang Windu
            Penebaran udang windu dilakukan tujuh hari setelah penebaran ikan bandeng. Padat tebar udang windu 14.472 ekor tiap hektar tambak dengan ukuran panjang 1,0–1,5 cm.

4.         Perawatan
            Pada pemeliharaan dan perawatan ada hubungan kegiatan yang dilakukan yaitu penambahan pupuk, pergantian air dan menjaga keamanan tambak. penambahan pupuk urea dilakukan pada setiap setelah panen rumput laut. Penambahan pupuk urea sebanyak 5, 257 kgha-1. Penambahan pupuk ini dilakukan sebanyak tiga sampai empat tahap sesuai dengan banyaknya panen rumput laut dalam satu musim panen. Sedangkan pergantian air dilakukan dua kali dalam satu bulan. Pergantian air minimal 30% dari jumlah air tambak. penjaga keamanan tambak terutama dilakukan terhadap kemungkinan adanya pencurian dan kebocoran tambak. Keamanan dilakukan oleh penjaga tambak.
5.         Panen
            Panen dilakukan secara bertahap. Untuk rumput laut dalam satu musim panen dilakukan 3–4 kali panen. Panen rumput laut pertama dilakukan pada umur 2 bulan, untuk berikutnya dilakukan panen pada umur setiap 1,5 bulan. Pada setiap selesai panen rumput laut dilakukan pemupukan tambahan. Panen udang windu dilakukan pada umur tiga bulan, sedangkan panen ikan bandeng dilakukan pada umur lima bulan. Panen rumput laut dilakukan dengan menggunakan tangan dan serok. Sedangkan panen udang windu dilakukan dengan menggunakan prayang dan panen ikan bandeng dilakukan dengan menggunakan jaring.
6.         Produksi
            Produksi udang windu, ikan bandeng dan rumput laut pada budidaya polikultur dalam satu musim panen adalah udang windu sebanyak 201,11 kg dengan ukuran 34 ekor tiap kilogram dengan daya tahan hidup 53 %. Sedangkan produksi ikan bandeng sebanyak 1180,56 kgha-1, ukuran rata–rata 4,26 ekor tiap kilogram dengan daya tahan hidup 95 %.
2.2.      Analisis usaha (per siklus panen, ± 5 bulan)
1.         Biaya investasi
Pembuatan Tambak (1 ha)
Rp 1.500.000,-
Peralatan Budidaya (serok, jaring, prayang, dll)
Rp     500.000,-

2. Biaya operasional
Benih
-        Rumput laut
-       Udang Windu (PL 25)
-       Ikan Bandeng
Rp 6500,-/kg @ 970 kg @ 3 kali
Rp 100,-/ekor @ 20.000 ekor @2 kali
Rp 350,-/ekor @2500 ekor @ 1 kali
Rp 18.915.000
Rp  6.000.000,-
Rp      875.000,-
Pakan
-       Pakan udang (50 kg)
-        Pakan Bandeng (100 kg)
Rp      375.000,-
Rp      600.000,-
Pupuk Phonska
Rp      315.000,-
Kapur dolomit dan Saponin
Rp      100.000,-
Pupuk urea dan TSP
Rp      350.000,-
TOTAL
Rp   27.530.000,-

Upah penjaga tambak
Rp 1.000.000,-/bulan @ 5 bulan
Rp 5.000.000,-

3. Pendapatan
Panen Rumput Laut
Rp 7.000,-/kg @ 1000 kg @ 3 kali
Rp 21.000.000,-
Panen Udang Windu
Rp 70.000,-/kg @ 200 kg @ 2 kali
Rp 28.000.000,-
Panen Ikan Bandeng
Rp 14.000,-/kg @ 300 kg @ 1 kali
Rp   4.200.000,-
TOTAL
Rp 53.200.000,-

4. Keuntungan per siklus panen
= PENDAPATAN – BIAYA OPERASIONAL – UPAH TENAGA KERJA
= Rp 53.200.000,- – Rp 27.530.000,- – Rp 5.000.000,-
= Rp 20.670.000,-


III.       PENUTUP
            Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan yang terkenal di pasaran. Namun dari tahun ke tahun produktivitas udang windu terus menurun. Tidak lain penyebabnya adalah masalah kualitas air media budidaya udang. Oleh karena itu, perlu adanya sistem pengelolaan kualitas air yang ramah lingkungan, antara lain yaitu sistem penerapan biofilter dengan menggunakan komoditas yang ramah lingkungan. Rumput laut sebagai komoditas perikanan diketahui mampu menjadi biofilter dalam pengelolaan kualitas air. Rumput laut dapat mengabsorbsi kelebihan bahan organik di perairan sehingga akan mengurangi timbulnya ammonia pada perairan tersebut. Pemanfaatan rumput laut sangat cocok sekali untuk membantu pengelolaan kualitas air pada tambak budidaya udang windu. Selain itu ditambah dengan ikan bandeng agar menambah keuntungan budidaya. Kondisi seperti ini jika dimanfaatkan akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Selain itu juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain / masyarakat sekitar.



DAFTAR PUSTAKA

Ayu EP, Wike . Melki dan Kurniati. (2011). Uji Antibakteri Ekstrak Gracilaria sp (Rumput           Laut) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Murachman, Nuhfil Hanani, Soemarno, Sahri Muhammad. 2010. Model Polikultur Udang            Windu (Penaeus monodon Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan            Rumput Laut (Gracillaria Sp.) Secara Tradisional. Jurnal Pembangunan dan Alam   Lestari. Vol. 1 No.1 Tahun 2010.




--26--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar