TUGAS
MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN
POTENSI
DAN PELUANG BUDIDAYA POLIKULTUR (UDANG WINDU, IKAN BANDENG, DAN RUMPUT LAUT) DI
TAMBAK TRADISIONAL
Oleh
:
NINDIYA NASTITI
26010213140072
PROGRAM
STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
DIPONEGORO
TAHUN
2014
I. PENDAHULUAN
Wilayah
pesisir merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik tertentu dan subur,
sehingga memiliki daya tarik yang besar sebagai tujuan wisata dan pengembangan
kegiatan perikanan serta tujuan lain yang menghasilkan banyak keuntungan
finansial. Kegiatan perikanan di wilayah pesisir adalah usaha perikanan
budidaya di tambak tradional, seperti polikultur untuk udang, ikan bandeng dan
atau udang dan ikan bandeng (Dahuri et al dalam Murachman et al, 1996). Pembudidayaan ikan
merupakan kegiatan memelihara, membesarkan dan memanen hasilnya dalam
lingkungan yang terkontrol. Pembudidayaan ikan dapat dilakukan secara
polikultur yaitu pembudidayaan ikan lebih dari satu jenis secara terpadu.
Udang windu, ikan bandeng dan rumput
laut secara biologis memiliki sifat–sifat yang dapat bersinergi sehingga
budidaya polikultur semacam ini dapat dikembangkan dan mempunyai potensi
keuntungan yang tinggi. Bentuk bentuk budidaya polikultur ini ramah terhadap
lingkungan. Rumput laut merupakan penyuplai oksigen melalui fotosintesis pada
siang hari dan memiliki kemampuan untuk menyerap kelebihan nutrisi dan cemaran
yang bersifat toksik di dalam perairan. Sedangkan ikan bandeng sebagai pemakan
plankton merupakan pengendali terhadap kelebihan plankton dalam perairan. Kotoran
udang, ikan bandeng dan bahan organik lainnya merupakan sumber hara yang dapat
dimanfaatkan oleh rumput laut dan fitoplankton untuk pertumbuhan (Ayu et al, 20110. Hubungan yang seperti ini
dapat menyeimbangkan ekosistem perairan. Oleh karena itu, dalam makalah ini
saya mencoba menguraikan potensi dan cara mewujudkan bisnis budidaya air payau
dalam tambak tradional ini.
II. ISI
2.1. Cara mewujudkan
Proses
budidaya polikultur udang windu, ikan bandeng dan rumput laut secara
tradisional terdiri dari enam komponen lokasi tambak, persiapan tambak,
pemeliharaan, panen, sosial kelembagaan dan ekonomi. Masing–masing komponen
memiliki sub komponen dan persyaratan. Ada hubungan keterkaitan satu komponen
dengan komponen lainnya dalam proses budidaya polikultur. Aspek-aspek menurut Murachman
et
al (2010) yaitu :
1. Lokasi
Tambak
Lokasi tambak berada di pantai dekat
laut, tanah dari jenis alluvial kelabu dimana bertekstur lempung liat berpasir,
dengan ketinggian 0–3 m diatas permukaan laut serta kemiringan kurang dari
2,0%.
2. Persiapan
Tambak
a) Tambak Polikultur
Tambak polikultur udang windu, ikan
bandeng dan rumput laut dengan luas antara 2–6 ha tiap petak dengan kedalaman
90–100 cm dilengakpi pintu air, pematang, caren dan plataran tambak.
b) Pengapuran
Pengapuran bertujuan untuk
menurunkan keasaman tanah atau menaikkan pH tanah dan menjaga kestabilan
kualitas air. Pengapuran menggunakan kapur dolomit minimal 2 kgha-1–100 kgha-1
atau rata–rata sebanyak 31,65 kgha-1. Pengapuran dilakukan sekali dalam satu
musim tanam. Pengapuran dilakukan setelah pengeringan.
c) Pengeringan
Pengeringan dilakukan setelah 3–5
hari setelah pemberian saponin. Pengeringan bertujuan untuk meningkatkan pH
yang turun pada pemeliharaan sebelumnya, selain itu pengeringan juga berfungsi
sebagai pengendali kompetitor dan hama.
d) Pemberian Saponin
Pemberian saponin bertujuan untuk
membasmi hama tambak berupa ikan liar, ular dan lainnya. Pemberian saponin
dilakukan setelah panen terakhihr. Pemberian saponin dilakukan minimal 2,5
kgha-1 dan maksimal 25 kgha-1 atau rata–rata 16,18 kgha-1.
e) Pemupukan
Pemupukan
bertujuan untuk menumbuhkan fitoplankton. Fitoplankton selain dapat memberikan
tambahan oksigen terlarut kedalam air, juga berfungsi sebagai makanan alami
bagi udang dan ikan bandeng. Pemupukan menggunakan pupuk urea dan TSP.
Penggunaan urea minimal 5,0 kgha-1 dan maksimal 100 kgha-1 atau rata–rata 55,15
kgha-1. Sedangkan pupuk TSP minimal 1,0 kgha-1 dan maksimal 100 kgha-1 atau
rata-rata 32,12 kgha-1.
f) Pemasukan Air
Setelah pemupukan dilakukan
pemasukan air secara bertahap. Tambak siap di tebar rumput laut, dengan
ketinggian air 30 cm di tambak. DO ± 7 mg/l, Alkalinitas ± 7,3 mg/l, Suhu air ±
32 °C,
Salinitas ± 8,75 permil , pH ± 7. Diperlukan sebuah saluran utama yang
berfungsi mengalirkan atau mengambil air dari sungai yang airnya payau (Inlet
dan Outlet)
3. Pemeliharaan
a) Penebaran Rumput Laut
Penebaran rumput laut dilakukan
tujuh hari setelah pemupukan pada ketinggian air 10–15 cm. Kemudian ari
dinaikkan lagi mencapai ketinggian 90–100 cm. Padat tebar rumput laut 975,47
kgha-1 dengan ukuran bibit 5 gram dari jenis Gracillaria sp.
b) Penebaran Nener Bandeng
Penebaran nener bandeng dilakukan
tujuh hari setelah penebaran rumput laut. padat tebar nener bandeng 2.381,33
ekor tiap hektar tambak dengan ukuran panjang 3–5 cm.
c) Penebaran Udang Windu
Penebaran udang windu dilakukan
tujuh hari setelah penebaran ikan bandeng. Padat tebar udang windu 14.472 ekor
tiap hektar tambak dengan ukuran panjang 1,0–1,5 cm.
4. Perawatan
Pada pemeliharaan dan perawatan ada
hubungan kegiatan yang dilakukan yaitu penambahan pupuk, pergantian air dan
menjaga keamanan tambak. penambahan pupuk urea dilakukan pada setiap setelah panen
rumput laut. Penambahan pupuk urea sebanyak 5, 257 kgha-1. Penambahan pupuk ini
dilakukan sebanyak tiga sampai empat tahap sesuai dengan banyaknya panen rumput
laut dalam satu musim panen. Sedangkan pergantian air dilakukan dua kali dalam
satu bulan. Pergantian air minimal 30% dari jumlah air tambak. penjaga keamanan
tambak terutama dilakukan terhadap kemungkinan adanya pencurian dan kebocoran
tambak. Keamanan dilakukan oleh penjaga tambak.
5. Panen
Panen dilakukan secara bertahap.
Untuk rumput laut dalam satu musim panen dilakukan 3–4 kali panen. Panen rumput
laut pertama dilakukan pada umur 2 bulan, untuk berikutnya dilakukan panen pada
umur setiap 1,5 bulan. Pada setiap selesai panen rumput laut dilakukan
pemupukan tambahan. Panen udang windu dilakukan pada umur tiga bulan, sedangkan
panen ikan bandeng dilakukan pada umur lima bulan. Panen rumput laut dilakukan
dengan menggunakan tangan dan serok. Sedangkan panen udang windu dilakukan
dengan menggunakan prayang dan panen ikan bandeng dilakukan dengan menggunakan
jaring.
6. Produksi
Produksi udang windu, ikan bandeng
dan rumput laut pada budidaya polikultur dalam satu musim panen adalah udang
windu sebanyak 201,11 kg dengan ukuran 34 ekor tiap kilogram dengan daya tahan
hidup 53 %. Sedangkan produksi ikan bandeng sebanyak 1180,56 kgha-1, ukuran
rata–rata 4,26 ekor tiap kilogram dengan daya tahan hidup 95 %.
2.2. Analisis usaha (per siklus panen, ± 5
bulan)
1. Biaya investasi
|
Pembuatan
Tambak (1 ha)
|
Rp
1.500.000,-
|
|
Peralatan Budidaya (serok, jaring,
prayang, dll)
|
Rp
500.000,-
|
2. Biaya operasional
|
Benih
-
Rumput laut
-
Udang Windu (PL 25)
-
Ikan Bandeng
|
Rp 6500,-/kg
@ 970 kg @ 3 kali
Rp
100,-/ekor @ 20.000 ekor @2 kali
Rp
350,-/ekor @2500 ekor @ 1 kali
|
Rp
18.915.000
Rp 6.000.000,-
Rp 875.000,-
|
|
Pakan
-
Pakan udang (50 kg)
-
Pakan Bandeng (100 kg)
|
Rp 375.000,-
Rp 600.000,-
|
|
|
Pupuk
Phonska
|
Rp 315.000,-
|
|
|
Kapur
dolomit dan Saponin
|
Rp 100.000,-
|
|
|
Pupuk urea
dan TSP
|
Rp 350.000,-
|
|
|
TOTAL
|
Rp
27.530.000,-
|
|
|
Upah penjaga tambak
|
Rp 1.000.000,-/bulan @ 5 bulan
|
Rp 5.000.000,-
|
3. Pendapatan
|
Panen Rumput
Laut
|
Rp
7.000,-/kg @ 1000 kg @ 3 kali
|
Rp
21.000.000,-
|
|
Panen Udang Windu
|
Rp 70.000,-/kg @ 200 kg @ 2 kali
|
Rp 28.000.000,-
|
|
Panen Ikan Bandeng
|
Rp 14.000,-/kg @ 300 kg @ 1 kali
|
Rp
4.200.000,-
|
|
TOTAL
|
Rp 53.200.000,-
|
|
4. Keuntungan
per siklus panen
=
PENDAPATAN – BIAYA OPERASIONAL – UPAH TENAGA KERJA
=
Rp 53.200.000,- – Rp 27.530.000,- – Rp 5.000.000,-
=
Rp 20.670.000,-
III. PENUTUP
Udang
windu (Penaeus monodon) merupakan
salah satu komoditas unggulan yang terkenal di pasaran. Namun dari tahun ke
tahun produktivitas udang windu terus menurun. Tidak lain penyebabnya adalah
masalah kualitas air media budidaya udang. Oleh karena itu, perlu adanya sistem
pengelolaan kualitas air yang ramah lingkungan, antara lain yaitu sistem
penerapan biofilter dengan menggunakan komoditas yang ramah lingkungan. Rumput
laut sebagai komoditas perikanan diketahui mampu menjadi biofilter dalam
pengelolaan kualitas air. Rumput laut dapat mengabsorbsi kelebihan bahan
organik di perairan sehingga akan mengurangi timbulnya ammonia pada perairan
tersebut. Pemanfaatan rumput laut sangat cocok sekali untuk membantu
pengelolaan kualitas air pada tambak budidaya udang windu. Selain itu ditambah
dengan ikan bandeng agar menambah keuntungan budidaya. Kondisi seperti ini jika
dimanfaatkan akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Selain itu juga dapat
membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain / masyarakat sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Ayu EP, Wike . Melki dan Kurniati.
(2011). Uji Antibakteri Ekstrak Gracilaria sp (Rumput Laut) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus.
Murachman, Nuhfil Hanani, Soemarno,
Sahri Muhammad. 2010. Model Polikultur
Udang Windu (Penaeus monodon
Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria Sp.)
Secara Tradisional. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari. Vol. 1 No.1 Tahun 2010.
--26--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar