Halaman

Rabu, 19 November 2014

CARA PEMINDANGAN DAN PETIS IKAN

TUGAS DDTHP
NINDIYA NASTITI
26010213140072



PEMBUATAN PINDANG IKAN

Pemindangan adalah suatu teknik pengolahan dan pengawetan ikan yang cukup popular di Indonesia. Hal ini disebabkan karena produksi pindang  umumnya disukai dan diterima masyarakat mengingat cita rasanya yang spesifik. Pengolahan pindang di Indonesia dilakukan hampir di seluruh daerah bahkan pelosok-pelosok. Pemindangan dilakukan dengan memberikan garam pada ikan sehingga terciptalah rasa yang asin dan khas.
Menurut Badan Riset Kelautan dan Perikanan (2005); Anisah dan Indah (2007), Ikan pindang merupakan salah satu hasil olahan yang cukup populer di Indonesia, dalam urutan hasil olahan tradisional menduduki tempat kedua setelah ikan asin. Dilihat dari sudut program peningkatan konsumsi protein masyarakat, ikan pindang mempunyai prospek yang lebih baik daripada ikan asin. Hal ini mengingat bahwa ikan pindang mempunyai cita-rasa yang lebih lezat dan tidak begitu asin jika dibandingkan dengan ikan asin sehingga dapat dimakan dalam jumlah yang lebih banyak. Kelebihan ikan pindang dan ikan asin ialah ikan pindang merupakan produk yang siap untuk dimakan (ready to eat). Di samping itu juga praktis semua jenis ikan dari berbagai ukuran dapat diolah menjadi ikan pindang.
Menurut Wibowo, S (1999); Anisah dan Indah (2007), ada tiga cara pemindangan yaitu pemindangan dalam larutan garam / pemindangan cue, pemindangan garam, dan pemindangan presto. Jenis ikan yang bisa dipindang cukup beragam. Mulai dari ikan kecil hingga ikan besar dan dari ikan air tawar sampai ikan air laut. Jenis ikan air tawar : nila,  tawes, gurami, mujahir, sepat siam, tambakan, dan ikan mas. Sedangkan jenis ikan laut : layang, kembung, tongkol, bawal, selar, kuro, bandeng, lemuru, pethek, japu, tembang, ekor kuning, dan hiu. Daya simpan ikan pindang antara lain tergantung pada jumlah garam yang dipakai dan lama perebusan.
           
A.        Macam-Macam Pemindangan
Menurut Dirjen Perikanan (1980), pada prinsipnya pemindangan dilakukan dengan merebus ikan dengan suasana bergaram selama waktu tertentu di dalam wadah. Setelah proses pemindangan selesai wadah dimana ikan tersusun, biasanya langsung digunakan sebagai wadah penyimpanan dan pengangkutan pindang untuk dipasarkan. Berdasarkan cara perebusan ikan dalam suasana bergaram, maka dalam prakteknya teknik penggaraman dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu :
1. Pemindangan garam
2. Pemindangan air garam (pemindangan cara cue)

B.        Bahan yang digunakan
Menurut Dirjen Perikanan (1980), bahan mentah yang dapat digunakan untuk pembuatan  ikan pindang dapat berupa ikan basah (ikan segar) dan ikan yang sudah digarami (ikan asin). Jika ikan asin yang dipakai sebagai bahan mentah, maka garam yang digunakan pada proses perebusan lebih sedikit. Daya awet ikan pindang ditentukan oleh faktor berikut :
-  Panas dan garam mengurangi kadar air pada daging ikan sehingga mengganggu kehidupan bakteri.
-  Panas membunuh bakteri secara langsung, dan mengurangi aktivitas enzim.
-  Wadah/pembungkus yang digunakan melindungi ikan terhadap pengotoran dari luar.
Jenis ikan yang dapat dipindang banyak sekali macamnya dan tergantung dari kondisi perikanan setempat. Kebanyakan terdiri dari jenis ikan pelagis seperti laying, selar, japu, tembang, lemuru, kembung, tuna, cakalang, tongkol pantai, dan lain-lain.  Ikan-ikan kecil umumnya dipindang dalam keadaan utuh, sedangkan untuk ikan besar dalam bentuk potongan daging.

C.        Cara melakukan pemindangan
            Berikut cara melakukan pemindangan ikan menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1980) :
a.         Proses pemindangan garam (Pindang badeng)
1.         Mula-mula ikan dicuci dalam keadaan utuh atau potongan-potongan daging. Setelah itu disusun bergantian antara lapisan ikan dan garam dalam bandeng atau paso dimana beberapa centimeter diatas wadah tersebut diletakkan sarangan bambu.
2.         Lubang kecil pada sisi bawah bandeng sementara ditutup dengan potongan kayu. Untuk ikan-ikan kecil antara susunan ikan dipisahkan leh selapis daun bambu agar tidak melekat satu sama lain setelah selesai proses dan juga di bagian tengah wadah diletakkan vertikal bambu agar air perebus dapat mengalir kepermukaan yang paling atas.
3.         Garam yang digunakan adalah 10% dari berat ikan. Sebelum pemasakan ditambah dulu air sumur 8% - 12& dari berat ikan. Pemanasan pertama dengan api besar dilakukan sekitar 2 jam dan selama itu permukaan wadah ditutup dengan kertas koran.
4.         Setelah itu air perebus dibuang habis melalui lubang kecil dibagian bawah. Dari proses pemanasan ini dapat dikeluarkan air sebanyak 3,4 liter dari bahan mentah sebanyak 55 kg.
5.         Setelah itu permukaan ikan ditutup dengan kertas semen basah dan diatas kertas ini ditebarkan garam merata dan rapat terutama pada bagian pinggir badeng. Garam yang ditebar ini sebanyak 8% dari berat ikan awal. Kemudian dilakukan pemanggangan dengan api kecil selama 3 jam untuk lebih menurunkan kadar air. Air yang terbentuk selama proses ini selalu dibuang dan pada akhir proses diperkirakan air yang terdapat dalam badeng telah habis.
6.         Setelah proses kemudian badeng di pak. Mula-mula di bagian dasarnya diletakkan dalam keranjang bamboo dan bagian atasnya diletakkan berturut-turut ditutup dengan kertas semen kemudian dengan nyiru bambu selanjutnya diikat dan siap untuk didistribusikan dan dipasarkan. Pindang badeng memiliki daya awet yang lebih lama pada suhu kamar hingga sekitar 1 bulan apabila disimpan dengan baik dalam keadaan tertutup rapat dalam wadah.

à Bentuk produk dari cara ini biasanya kurang bersih dan bercahaya, karena pada permukaannya terdapat endapan-endapan lemak dan kotoran hasil rebusan. Bentuk fisik ikan kadang-kadang tidak utuh dan bengkok-bengkok. Rasanya lebih asin dan hampir mendekatu aroma ikan kaleng. Teksturnya lebih kompak, padat dan kesat.

b.         Proses pemindangan air-garam (pindang naya, besek)
1.         Mula-mula ikan dicuci dalam keadaan utuh, kemudian disusun dalam naya atau besek sambil ditaburi garam. Untuk naya biasanya hanya satu lapisan ikan. sedangkan untuk besek biasanya dua lapisan ikan (muncar). Untuk pindang naya biasanya digunakan garam 5% - 10% dari berat ikan.
2.        Setelah itu beberapa naya atau besek disusun dan diikat, dan dicelupkan dalam larutan garam yang mendidih dan direbus selama 15 menit hingga 30 menit tergantung dari jenis dan ukuran kesegaran ikan.
3.      Setelah perebusan kemudian naya, besek, atau keranjang diangkat dan kemudian disiram dengan air panas untuk membersihkan permukaan dari kotoran dan kristal garam.
4.        Untuk pindang besek biasanya setelah diangkat  dari bak perebus kemudian disiram dengan air panas dan selanjutnya didinginkan diudara terbuka. Sedangkan untuk pindang naya, setelah diangkat dari perebusan langsung dicelupkan sebentar dalam bak air panas, atau dengan cara menyiram pada tumpukan yang paling atas dan ada juga yang dikerjakan seperti praktik pindang besek.
5.        Selesai pendinginan kemudian beberapa naya dan besek disusun dan diikat kemudian langsung diangkut dengan truk ke pusat distribusi. Apabila tidak terjual habis, maka produk ini biasanya direbus lagi untuk menghindari pembusukan karena pindang cue ini umumnya memiliki daya awet yang pendek sekitar 2-3 hari.

à    Bentuk produk dari cara ini umumnya memiliki rupa yang bersih dan bercahaya, sedang warna spesifik jenis ikan masih kelihatan. Bentuk fisik ikan lebih baik yaitu utuh dan tidak retak. Rasanya tidak begitu asin, sedangkan aromanya hampir seperti ikan rebus biasa. Teksturnya agak longgar dan lembab.



PETIS IKAN

      Petis merupakan komoditi hasil pengolahan ikan yang cukup di kenal, terutama didalam masyarakat di Pulau Jawa, dan biasa digunakan lauk pauk atau campuran makanan rakyat yang khas.
       Petis berasal dari cairan tubuh ikan atau udang yang telah terbentuk selama proses penggaraman kemudian diuapkan melalui prose perebusan lebih lanjut sehingga menjadi larutan yang lebih padat seperti pasta. Menurut Eddy dan Evi, berdasarkan bahan baku yang digunakan, petis dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

A.                Petis dengan Bahan Baku Hasil Sampingan
            Petis dengan bahan baku sari atau ekstrak udang ( hasil sampingan pembuatan ebi) atau sari ikan (hasil sampingan dari pembuatan bekasem, pindang atau peda)dapat dibuat secara berikut:

1.                  Ekstrak ikan atau udang yang diperoleh dari hasil pengolahan sebelumnya disaring terlrbih dahulu agar bersih dari kotoran yang mungkin masih ada. Ekstrak ikan atau udang yang telah besih ditampung dalam sebuah bejana (periuk).
2.                  Tambahkan irisan gula merah ke dalam ekstrak tersebut dengan perbandingan 500g gula untuk setiap 1 kg ekstrak. Jeranglah campuran gula dan ekstrak tersebut diatas api yang tidak terlalu beasr agar tidak terbentuk kerak didasar periuk.
3.                  Sebelum campuran ekstrak ikan atau udang dan gula mengental, lakukan penyaringan kedua untuk membersihkan kotoran yang mungkin berasal dari gula merah.
4.                  Sementara itu didalam satu wadah lain dibuat air tajin yang kemudian dicampurkan ke dalam adonan petis yang sedang direbus sambil terus di aduk-aduk hingga merata.
5.                  Apabila campuran gula, ekstrak ikan atau udang dan tajin sudah agak mengental, tambahkan garam secukupnya ke dalam adonan tersebut . bila ekstrak sudah asin (berasal dari sisa pengolahan ikan pindang, peda, kecap ikan, ebi), sebaiknya tidak dilakukan penambahan garam agar petis yang dihasilakan tidak terlalu asin. Penambahan garam tidak boleh dilakukan pada saat adonan masih encer, agar bila telah mengental rasa petis tidak terlalu asin
6.          Adonan tersebut terus dijerang sampai terbentuk pasta yang kental. Biasanya waktu yang dibutuhkan kurang lebih 6 jam.
7.       Bila adonan petis yang terbentuk banyak mengandung kristal gula, sebaiknya dilakukan penambahan air tajin dan dijerang kembali sampai kental. Sebaiknya bila petis terlalu liat seperti lem, perlu dilakukan penambahan gula merah. Petis yang telah mengental kemudian diangkat sambil tetap diaduk dan dikipasi, agar petis cepat dingin dan tidak timbul bau yang kurang sedap.

B.                 Petis dengan Bahan Baku Daging Ikan Segar
            Petis yang dibuat dari baan baku sari ikan atau udang dapat dibuat dengan cara berikut:
1.                  Ikan atau udang yang akan digunakan sebagai bahan baku harus dibersihkan terlebih dahulu, agar kotoran yang dapat mempengaruhi mutu petis dapat dihilangkan.
2.                  Selanjutnya, daging ikan atau udang ditumbuk sampai halus dan ditambahkan air secukupnya. Setelah diaduk-aduk sampai rata, daging kemudian diperas seperti memeras santan untuk mendapatkan ekstraknya. Ampas perasan tersebut dapat ditumbuk, ditambah air, lalu diperas lagi untuk mendapatkan ekstrak yang kedua.
3.          Campurkan kedua ekstrak tersebut kemudian disaring hingga bersih darikooran maupun partikel-partikel kasar lain.
4.            Langkah selanjutnya addalah proses perebusan seperti pada pembuatan petis dengan bahan baku dari hasil sampingan.


C.        Manfaat Petis
            Petis udang kualitas super dan istimewa cocok untuk memasak seperti telur bumbu petis, Krengseng, campuran pada saus sate dan sambal kecap. Takaran penggunaanya relatif sedikit karana rasanya sudah sangat gurih dan sedap. Petis udang kualitas sedang banyak dipakai untuk saus rujak uleg atau tahu tek (tahu gunting). Umumnya dikombinasi dengan petis kualitas istimewa untuk menambah efek gurih.
            Petis ikan lebih sedikit variasi penggunaanya karna hanya dikenal di daerh Madura dan sebagian wilayah Tuban. Karakter rasanya yang kuat dengan aroma seperti pindang ikan, cenderung asin dibandingkan petis udang yang manis. Telur bumbu petis lebih terasa sedap bila menggunakan petis ikan, di Maduran= biasa dipakai sebagai saus rujak ala Madura.
Komposisi Gizi dalam Petis
protein
Karbohidrat
Fosfor
Kalsium
Zat besi
15-20g/100g
20-40g/100g
36mg/100g
37mg/100mg
3mg/100mg
            Ciri petis yang baik adalah berwarna cerah (tidak kusam), umumnya coklat kehitaman, berbau sedap, kental tetapi sedikit encer daripada margarine. Petis yang terlalu liat dapat dicurigai terlalu banyak mengandung tepung kanji. Rasa dan bau ikan atau udang pada petis masih dapat dikenali dengan mudah. Teksturnya halus dan mudah dioleskan.



DAFTAR PUSTAKA

Anisah, Rifka Nur dan Indah Susilowati. 2007. Kajian Manajemen Pemasaran      Ikan Pindang Layang di Kota Tegal.  Jurnal Pasir Laut 3.3(1) : 4 & 7
Afrianto, Eddy dan Evi Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan.         Kanisius. Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian. 1980. Tehnik Pemindangan Ikan. Jakarta.





--26--

1 komentar: