“BUKAN
SALAHMU BILA TAK CINTA”
Priit! Priit! Priiit!, wasit pun
meniup peluitnya sebagai tanda akhir dari pertandingan tim bolaku melawan tim
Angkasa FC. Lelah rasanya bermain 90 menit penuh karena menjadi starter. Hasil
yang cukup memuaskan, karena kerjaku dan tim tidak sia-sia, berhasil menahan
imbang klub yang kuat dan besar itu dengan skor 1-1. Walaupun di Surabaya,
kandang Angkasa FC, timku berhasil mencuri satu poin untuk pundi-pundi nilai di
pertandingan Sudirman Cup, perhelatan yang cukup bergengsi yang
mempertandingkan klub-klub bola besar antar Jawa-Bali. Timku masuk grup D yang
semua timnya berasal dari luar DKI Jakarta, kota kelahiran sekaligus tempat
tinggalku. Sudirman Cup adalah ajang bergengsi sepak bola yang baru aku ikuti,
selama 5 tahun bergabung di Sekolah Sepak Bola atau SSB Pirata Jaya FC, Jakarta
Selatan.
“Irwan
Gumilang Rahman, saya mau bicara dengan kamu sebentar!”, panggil pelatihku, pak
Mustafa di ruang ganti.
“Iya
pelatih, ada apa ya?”, jawabku.
“Saya
mau kalau kamu main lebih menyerang lagi, karena tadi kamu mainnya kurang
terbuka. Nanti di pertandingan selanjutnya, saya berharap kamu lebih baik lagi
mainnya, karena lawan kita selanjutnya adalah Taruna Raya FC-Bandung. Kamu tahu
kalau itu klub bagus kan? Nah, pokoknya kamu harus koordinasi lebih dengan
teman-teman kamu!“, pelatih Mustafa menegurku.
“Baik
pelatih, saya akan berusaha semaksimal mungkin dengan teman-teman. Maaf pelatih
jika tadi permainan saya kurang bagus”, jawabku.
“Iya,
tidak apa-apa, saya memaklumi kamu, toh senior-seniormu juga tadi mengandalkan
kamu. Ya sudah, sekarang kamu istirahat, setelah itu kita langsung pulang ke
Jakarta, beritahukan teman-teman kamu ya?”, ujar pelatih Mustafa.
“Iya
pelatih”, jawabku dengan tegas.
FFF
Karena hari ini hari Minggu atau hari
libur sekolah, aku manfaatkan waktu satu hari dengan bermain game, bermain
bola, dan lainnya.
“Mbak
Tini, mbak Tini darimana?”, tanyaku pada mbak Tini, pembantu dirumahku.
“Habis
dari sebelah rumah mas, ada tetangga yang baru pindah dari Bandung, pak Edi dan
keluarganya”, jawab mbak Tini.
“Oh..”,
jawabku tenang.
“Eh,
mas, ada anak perempuannya juga lho mas, cantik, sepertinya seumuran dengan
mas, bisa untuk dijadikan sahabat itu mas, yang mbak tahu kan mas belum punya
sahabat perempuan”, canda mbak Tini.
“Aduuh,
mbak Tini itu ada-ada saja”, jawabku sambil mencubitnya.
“Sakit
mas. Ya tidak apa-apa, sesekali punya teman dekat perempuan, mas”, ujarnya.
“Sudahlah
mbak, yang jelas kompleks kita ini akan semakin ramai, itu saja”, balasku sambil
meninggalkan mbak Tini.
FFF
“Hai, Wan, kemarin
bagaimana pertandingannya, sukses tidak?”, Tanya Deni, seketika membangunkan
lamunanku dikelas.
“Kamu
ini Den, mengagetkanku saja. Kemarin?, ya sukses Den, tapi kalau menang belum
saatnya, hanya ditahan imbang”, jawabku dengan bangga.
“Nanti
sore kamu latihan lagi?”, tanyanya.
“Iyalah,
akhir-akhir ini latihanku setiap hari”.
“Ya
sudah, sehabis maghrib aku ke rumah kamu ya?, mau pinjam buku yang kemarin kamu
bawa”.
“Iya
ya, Deni cerewet. Dasar laki-laki cerewet”, jengkelku.
Bel waktu pulang pun berbunyi. Aku
segera meninggalkan SMA Kesatria, SMA ku yang hampir satu tahun menjadi tempat
menunutut ilmu ku karena aku baru kelas X. Anak-anaknya baik, gurunya pun bisa
memaklumi ku karena aku sering absen sekolah karena ada pertandingan. Ya,
itulah risiko jadi pemain bola. Berkali-kali aku mendapat toleransi dari
sekolah.
Saat masuk kompleks rumahku, Villa
Buana Mekar, dengan motorku, tiba-tiba ada seorang gadis yang hendak
menyeberang jalan, tetapi gadis itu tidak melihat ada motor yang kukendarai
lewat. Maklum saja dia menyeberang didepan mobil pick-up yang sedang berhenti.
Kontras saja kalau tidak mengetahui ada motor lewat. Aku hampir jatuh ke aspal
karena kaget dan mengerem mendadak.
“Awaaas!!
Kalau mau menyeberang hati-hati bisa tidak! Ini saya hampir jatuh. Kalau saya
jatuh, terus pingsan, darah berserakan dimana-mana, luka parah, motor saya
rusak, bagaimana?, apa mbak mau tanggung jawab? Masih lumayan luka, kalau saya
meninggal bagaimana? Terus mbak sendiri dibawa ke kantor polisi, dipenjara,
kalau mbak nanti hukumannya hukuman mati bagaimana? Mbak sendiri takut kan?”,
tegasku dengan nada marah dan jengkelnya pada gadis itu.
“Mas,
mas, sabar ! Iya maaf, saya tidak lihat kalau masnya lewat, saya terburu-buru,
habis beli makan bari warung itu. Dan uang saya habis. Kalau mas mau minta
ganti rugi, mas datang saja ke rumah saya, ini alamatnya,” jawab gadis itu
dengan tergesa-gesa sambil memberikan kartu alamat rumahnya padaku.
Aku tak peduli dengan kartu alamat
rumah itu karena tubuhku tak luka sedikitpun dan aku tak merasa rugi. Hanya
saja aku kaget dan langsung mengerem mendadak. Aku terus mengamati langkah
tergesa-gesa gadis yang mungkin seumuranku itu. Parasnya cantik. Tanpa sadar
aku telah melipat dan membuang kartu alamat rumah yang diberikannya. “Biarlah,
yang penting bisa bertemu dengannya”, bisik hati kecilku. Karena sore itu sudah
mendekati waktu latihan sepak bolaku, aku bergegas pulang ke rumah, dan
langsung ganti pakaian.
FFF
“Assalamualaikum”, terdengar
suara dari luar rumah.
“Iya, Waalaikumsalam,
sebentar”. Aku langsung bergegas membuka gerbang rumah. Dan ternyata suara itu
milik gadis yang tadi sore hampir aku
tabrak di jalan. Aku tak mengira, aku pun terkejut, bisa-bisanya dia ke rumahku.
“Lho? Mas yang tadi
hampir nabrak saya kan?”, tanyanya.
“Dari mana kamu tahu
rumah saya?”.
“Saya juga tidak tahu rumah mas sebelumnya. Ya
sudah, perkenalkan, saya Ratna, Ratna Sagita. Saya anaknya pak Edi yang kemarin
baru pindahan di kompleks ini. Rumah saya sebelahnya rumah mas”, sapa gadis itu
sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.
“I..iya.., aku Irwan, Irwan
Gumilang Rahman”, jawabku dengan nada terkejut sambil berjabat tangan.
“Oh iya mas, luka yang tadi masih sakit tidak?,”
tanyanya.
“Aduuuh, sakit sekali, apalagi
kalau terkena air, perihnya bukan main”, balasku dengan sedikit berakting. Luka
yang mana? Kalau tadi luka, sorenya aku tak mungkin latihan sepak bola. Enaknya
membohongi orang cantik, dalam hatiku.
“ Sakit ya mas? Maaf kalau saya
ceroboh”, katanya dengan wajah khawatir.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan
panggil saya mas terus, memangnya saya kakak kamu apa. Panggil saja Irwan. Lalu
tujuan mbak kesini untuk apa?”, tanyaku.
“Iya. Jangan panggil saya mbak
juga, saya masih muda dan saya bukan mbak kamu. Saya hanya mau mengembalikan rantang.
Tadi siang mbak Tini mengantar makanan ke rumah saya. Tolong sampaikan terima
kasih pada mbak Tini ya. Kata ibu saya makanannya enak”, jawabnya.
“Iya nanti saya sampaikan. Tapi
ada syaratnya, minta nomor handphone kamu dulu, nanti baru saya sampaikan”,
pintaku.
“Hmmm.. ya sudahlah, ini. Siapa
tahu kita bisa lebih dekat dan menjadi sahabat. Sanggupkah menjadi sahabat baru
saya?”, tanyanya.
“Dengan senang hati”, jawabku.
Hanya sekadar sahabat? Pikirku dalam hati.
“Ya sudah, saya pulang dulu wan,
terima kasih”.
“Iya sama-sama”, jawabku. Tak
lama Ratna pergi, Dani cerewet pun muncul dari balik taksi biru. Karena
melihatku akan masuk ke dalam rumah, dia pun memanggilku.
“Wan, Irwan, tunggu Wan”, teriaknya
dari seberang jalan.
“Yah, kamu Den, dari mana saja,
aku menunggu kamu dari tadi tidak datang-datang. Waktuku kan sedikit Den. Aku
harus istirahat, tadi saja latihan pulang jam 6 sore, kamu baru datang jam 7,
aku tadi sudah SMS kamu kan?”, jawabku dengan wajah kesal.
“Oh, iya Wan, maaf ya, aku habis
menjenguk bibiku di rumah sakit, jadi tidak sempat membuka handphone”, jawabnya
dengan rasa menyesal.
“Ya sudah, lupakan saja, ini
bukunya yang mau kamu pinjam. Tapi lusa dikembalikan ya, karena aku meminjamnya
di perpustakaan kompleks”, pintaku.
“Baiklah, terima kasih ya Wan.
Kamu memang temanku yang paling baik. Aku langsung pulang saja Wan, barangkali
kamu mau istirahat dulu. sekali lagi terima kasih Wan”, ujar Deni sambil
beranjak dari hadapanku.
“Ya sama-sama, hati-hati di jalan
Den”, jawabku sambil bergegas memasuki rumah. Urusan sudah selesai semua.
Saatnya tidur dan waktunya bermimpi indah. Semoga mimpiku malam ini menjadi
pemain bola andal, dalam hatiku berhayal. Dan semoga mimpi itu bisa terwujud
dalam kehidupanku, karena itu adalah cita-citaku sejak kecil. Amiin. Aku yakin
Tuhan pasti mendengar doaku. Bersambung............ (di page yg lain)
FFF
--26--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar