Halaman

Minggu, 21 April 2013

Contoh Cerpen Bahasa Indonesia


“BUKAN SALAHMU BILA TAK CINTA”
          

       Priit! Priit! Priiit!, wasit pun meniup peluitnya sebagai tanda akhir dari pertandingan tim bolaku melawan tim Angkasa FC. Lelah rasanya bermain 90 menit penuh karena menjadi starter. Hasil yang cukup memuaskan, karena kerjaku dan tim tidak sia-sia, berhasil menahan imbang klub yang kuat dan besar itu dengan skor 1-1. Walaupun di Surabaya, kandang Angkasa FC, timku berhasil mencuri satu poin untuk pundi-pundi nilai di pertandingan Sudirman Cup, perhelatan yang cukup bergengsi yang mempertandingkan klub-klub bola besar antar Jawa-Bali. Timku masuk grup D yang semua timnya berasal dari luar DKI Jakarta, kota kelahiran sekaligus tempat tinggalku. Sudirman Cup adalah ajang bergengsi sepak bola yang baru aku ikuti, selama 5 tahun bergabung di Sekolah Sepak Bola atau SSB Pirata Jaya FC, Jakarta Selatan.
“Irwan Gumilang Rahman, saya mau bicara dengan kamu sebentar!”, panggil pelatihku, pak Mustafa di ruang ganti.
“Iya pelatih, ada apa ya?”, jawabku.
“Saya mau kalau kamu main lebih menyerang lagi, karena tadi kamu mainnya kurang terbuka. Nanti di pertandingan selanjutnya, saya berharap kamu lebih baik lagi mainnya, karena lawan kita selanjutnya adalah Taruna Raya FC-Bandung. Kamu tahu kalau itu klub bagus kan? Nah, pokoknya kamu harus koordinasi lebih dengan teman-teman kamu!“, pelatih Mustafa menegurku.
“Baik pelatih, saya akan berusaha semaksimal mungkin dengan teman-teman. Maaf pelatih jika tadi permainan saya kurang bagus”, jawabku.
“Iya, tidak apa-apa, saya memaklumi kamu, toh senior-seniormu juga tadi mengandalkan kamu. Ya sudah, sekarang kamu istirahat, setelah itu kita langsung pulang ke Jakarta, beritahukan teman-teman kamu ya?”, ujar pelatih Mustafa.
“Iya pelatih”, jawabku dengan tegas.
FFF
          Karena hari ini hari Minggu atau hari libur sekolah, aku manfaatkan waktu satu hari dengan bermain game, bermain bola, dan lainnya.
“Mbak Tini, mbak Tini darimana?”, tanyaku pada mbak Tini, pembantu dirumahku.
“Habis dari sebelah rumah mas, ada tetangga yang baru pindah dari Bandung, pak Edi dan keluarganya”, jawab mbak Tini.
“Oh..”, jawabku tenang.
“Eh, mas, ada anak perempuannya juga lho mas, cantik, sepertinya seumuran dengan mas, bisa untuk dijadikan sahabat itu mas, yang mbak tahu kan mas belum punya sahabat perempuan”, canda mbak Tini.
“Aduuh, mbak Tini itu ada-ada saja”, jawabku sambil mencubitnya.
“Sakit mas. Ya tidak apa-apa, sesekali punya teman dekat perempuan, mas”, ujarnya.
“Sudahlah mbak, yang jelas kompleks kita ini akan semakin ramai, itu saja”, balasku sambil meninggalkan mbak Tini.
FFF


“Hai, Wan, kemarin bagaimana pertandingannya, sukses tidak?”, Tanya Deni, seketika membangunkan lamunanku dikelas.
“Kamu ini Den, mengagetkanku saja. Kemarin?, ya sukses Den, tapi kalau menang belum saatnya, hanya ditahan imbang”, jawabku dengan bangga.
“Nanti sore kamu latihan lagi?”, tanyanya.
“Iyalah, akhir-akhir ini latihanku setiap hari”.
“Ya sudah, sehabis maghrib aku ke rumah kamu ya?, mau pinjam buku yang kemarin kamu bawa”.
“Iya ya, Deni cerewet. Dasar laki-laki cerewet”, jengkelku.
          Bel waktu pulang pun berbunyi. Aku segera meninggalkan SMA Kesatria, SMA ku yang hampir satu tahun menjadi tempat menunutut ilmu ku karena aku baru kelas X. Anak-anaknya baik, gurunya pun bisa memaklumi ku karena aku sering absen sekolah karena ada pertandingan. Ya, itulah risiko jadi pemain bola. Berkali-kali aku mendapat toleransi dari sekolah.
          Saat masuk kompleks rumahku, Villa Buana Mekar, dengan motorku, tiba-tiba ada seorang gadis yang hendak menyeberang jalan, tetapi gadis itu tidak melihat ada motor yang kukendarai lewat. Maklum saja dia menyeberang didepan mobil pick-up yang sedang berhenti. Kontras saja kalau tidak mengetahui ada motor lewat. Aku hampir jatuh ke aspal karena kaget dan mengerem mendadak.
“Awaaas!! Kalau mau menyeberang hati-hati bisa tidak! Ini saya hampir jatuh. Kalau saya jatuh, terus pingsan, darah berserakan dimana-mana, luka parah, motor saya rusak, bagaimana?, apa mbak mau tanggung jawab? Masih lumayan luka, kalau saya meninggal bagaimana? Terus mbak sendiri dibawa ke kantor polisi, dipenjara, kalau mbak nanti hukumannya hukuman mati bagaimana? Mbak sendiri takut kan?”, tegasku dengan nada marah dan jengkelnya pada gadis itu.
“Mas, mas, sabar ! Iya maaf, saya tidak lihat kalau masnya lewat, saya terburu-buru, habis beli makan bari warung itu. Dan uang saya habis. Kalau mas mau minta ganti rugi, mas datang saja ke rumah saya, ini alamatnya,” jawab gadis itu dengan tergesa-gesa sambil memberikan kartu alamat rumahnya padaku.
          Aku tak peduli dengan kartu alamat rumah itu karena tubuhku tak luka sedikitpun dan aku tak merasa rugi. Hanya saja aku kaget dan langsung mengerem mendadak. Aku terus mengamati langkah tergesa-gesa gadis yang mungkin seumuranku itu. Parasnya cantik. Tanpa sadar aku telah melipat dan membuang kartu alamat rumah yang diberikannya. “Biarlah, yang penting bisa bertemu dengannya”, bisik hati kecilku. Karena sore itu sudah mendekati waktu latihan sepak bolaku, aku bergegas pulang ke rumah, dan langsung ganti pakaian.
FFF
“Assalamualaikum”, terdengar suara dari luar rumah.
“Iya, Waalaikumsalam, sebentar”. Aku langsung bergegas membuka gerbang rumah. Dan ternyata suara itu milik gadis yang tadi sore hampir  aku tabrak di jalan. Aku tak mengira, aku pun terkejut, bisa-bisanya dia ke rumahku.
“Lho? Mas yang tadi hampir nabrak saya kan?”, tanyanya.
“Dari mana kamu tahu rumah saya?”.
“Saya juga tidak tahu rumah mas sebelumnya. Ya sudah, perkenalkan, saya Ratna, Ratna Sagita. Saya anaknya pak Edi yang kemarin baru pindahan di kompleks ini. Rumah saya sebelahnya rumah mas”, sapa gadis itu sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.
“I..iya.., aku Irwan, Irwan Gumilang Rahman”, jawabku dengan nada terkejut sambil berjabat tangan.
 “Oh iya mas, luka yang tadi masih sakit tidak?,” tanyanya.
“Aduuuh, sakit sekali, apalagi kalau terkena air, perihnya bukan main”, balasku dengan sedikit berakting. Luka yang mana? Kalau tadi luka, sorenya aku tak mungkin latihan sepak bola. Enaknya membohongi orang cantik, dalam hatiku.
“ Sakit ya mas? Maaf kalau saya ceroboh”, katanya dengan wajah khawatir.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan panggil saya mas terus, memangnya saya kakak kamu apa. Panggil saja Irwan. Lalu tujuan mbak kesini untuk apa?”, tanyaku.
“Iya. Jangan panggil saya mbak juga, saya masih muda dan saya bukan mbak kamu. Saya hanya mau mengembalikan rantang. Tadi siang mbak Tini mengantar makanan ke rumah saya. Tolong sampaikan terima kasih pada mbak Tini ya. Kata ibu saya makanannya enak”, jawabnya.
“Iya nanti saya sampaikan. Tapi ada syaratnya, minta nomor handphone kamu dulu, nanti baru saya sampaikan”, pintaku.
“Hmmm.. ya sudahlah, ini. Siapa tahu kita bisa lebih dekat dan menjadi sahabat. Sanggupkah menjadi sahabat baru saya?”, tanyanya.
“Dengan senang hati”, jawabku. Hanya sekadar sahabat? Pikirku dalam hati.
“Ya sudah, saya pulang dulu wan, terima kasih”.
“Iya sama-sama”, jawabku. Tak lama Ratna pergi, Dani cerewet pun muncul dari balik taksi biru. Karena melihatku akan masuk ke dalam rumah, dia pun memanggilku.
“Wan, Irwan, tunggu Wan”, teriaknya dari seberang jalan.
“Yah, kamu Den, dari mana saja, aku menunggu kamu dari tadi tidak datang-datang. Waktuku kan sedikit Den. Aku harus istirahat, tadi saja latihan pulang jam 6 sore, kamu baru datang jam 7, aku tadi sudah SMS kamu kan?”, jawabku dengan wajah kesal.
“Oh, iya Wan, maaf ya, aku habis menjenguk bibiku di rumah sakit, jadi tidak sempat membuka handphone”, jawabnya dengan rasa menyesal.
“Ya sudah, lupakan saja, ini bukunya yang mau kamu pinjam. Tapi lusa dikembalikan ya, karena aku meminjamnya di perpustakaan kompleks”, pintaku.
“Baiklah, terima kasih ya Wan. Kamu memang temanku yang paling baik. Aku langsung pulang saja Wan, barangkali kamu mau istirahat dulu. sekali lagi terima kasih Wan”, ujar Deni sambil beranjak dari hadapanku.
  
“Ya sama-sama, hati-hati di jalan Den”, jawabku sambil bergegas memasuki rumah. Urusan sudah selesai semua. Saatnya tidur dan waktunya bermimpi indah. Semoga mimpiku malam ini menjadi pemain bola andal, dalam hatiku berhayal. Dan semoga mimpi itu bisa terwujud dalam kehidupanku, karena itu adalah cita-citaku sejak kecil. Amiin. Aku yakin Tuhan pasti mendengar doaku. Bersambung............ (di page yg lain)
FFF

--26--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar