lanjutan Cerpen "Bukan Salahmu Bila Tak Cinta"
Ternyata
Ratna, tetangga baruku, juga bersekolah di sekolahku, SMA Kesatria. Hari ini
dia baru masuk sekolah karena urusan administrasi perpindahan sekolahnya baru
selesai kemarin.
“Hai
Rat, sekolah disini juga? Masuk di kelas berapa?”, tanyaku ketika bertemu
dengannya di kantin sekolah.
“Hai
juga wan, iya aku kelas X, dan masuk di kelas X.2 alias sepeda”, jawabnya
sambil bercanda padaku, ya sepeda adalah perkumpulan anak-anak sepuluh dua.
“Oh,
aku di kelas X.1 alias sepatu, sebelah ruang kelasmu. Jadi kita bisa berangkat
dan pulang sekolah bersama-sama kan Rat?”, pintaku sambil membalas candanya,
sepatu adalah perkumpulan anak-anak sepuluh satu.
“Iya wan, jadinya aku bisa punya teman dekat”,
jawabnya.
“Benar.
Sebelumnya kamu dari SMA mana Rat?”, tanyaku sambil beranjak keluar dari kantin
sekolah bersama Ratna.
“Aku
dari SMA 141, daerah Jakarta Timur. Tapi karena jarak Jakarta Timur dengan
Jakarta Selatan cukup jauh, ayahku memintaku untuk pindah sekolah saja, dan dia
menyarankan agar aku masuk disini, SMA Kesatria. Kata orang-orang SMA ini bagus
dan Standar Nasional, jadi apa salahnya aku coba, walaupun sebentar lagi kita
kenaikan kelas ke kelas XI”.
“Iya,
berarti kamu di kelas X ini hanya dua bulan ya Rat?”, tanyaku.
“Hmmm,
kalau dihitung benar juga katamu Wan. Tapi tidak apa-apa, selagi aku bisa
menyesuaikan, apa salahnya”, jawabnya.
“Ya
sudah, nanti kita pulang sama-sama ya Rat?”, pintaku.
“Boleh,
nanti aku tunggu kamu di depan sekolah”, jawabnya sambil meninggalkanku, dan
kamipun memasuki ruang kelas masing-masing. Ohh Ratna, mungkin kamu akan banyak
disukai laki-laki disekolah ini, kamu cantik, baik pula.
“Wan,
melamunkan apa kamu? Awas nanti ada setan yang masuk, repot nanti kalau kamu
kesurupan!”, panggil Deni yang membangunkan lamunanku tentang Ratna, akupun
terkejut. Untuk kesekian kalinya Deni hadir di hadapanku ketika aku melamun.
“Kamu
ini Den, selalu seperti ini. Bagaimana kalau nanti aku pingsan karena serangan
jantung? Masih lumayan pingsan, kalau tiba-tiba mati mendadak bagaimana? Apa
kamu mau tanggung jawab?”, tanyaku bercanda dengan akting wajah kesal.
“Wan,
Wan, terlalu berlebihan kata-katamu, kamu ini bercanda terus, tidak mungkin
sampai seperti itu. Kita kan masih muda, jadi umur kita masih panjang”,
jawabnya sambil duduk di sebelahku di depan kelas.
“Kamu
yang terlalu berlebihan, bukan masalah umur, Den, kita tidak tahu kapan kita
meninggal”, tanyaku dengan wajah kesal, dan kali ini benar-benar kesal.
FFF
“Ya sudah. Aku minta maaf. Eh
Wan, tadi kamu bicara dengan siapa waktu di kantin? Anak baru disini ya?”,
tanyanya padaku dengan wajah heran.
“Iya, memangnya ada apa?”, jawabku.
“Namanya siapa, Wan? Boleh tidak
aku minta nomor handphone-nya? Kamu
kan dekat dengannya”, pintanya sambil menikmati makanan yang ada ditangannya.
“Namanya Ratna, Ratna Sagita,
kelas X.2, musuh kita. Ini ambil saja di handphone-ku,
cari sendiri”, jawabku sambil memberikan handphone
ke Deni. Ya, aku ikhlas memberikannya ke Deni. karena Deni adalah teman
baikku, setiap aku tidak masuk sekolah karena bertanding, Deni lah yang setia
meminjamiku buku pelajaran dan mengajarinya. Oleh karena itu aku dipandang unggul
di kelas. Sebenarnya itu berkat Deni yang mengajariku ketika aku tidak bisa
dalam suatu pelajaran.
“Terima kasih ya, Wan. Sekali
lagi kamu memang teman yang baik”, ujarnya dengan wajah gembira.
FFF
Dan
pertemananku dengan Ratna berlanjut hingga kelas XI. Aku masuk di jurusan IPS,
dan Ratna masuk di jurusan IPA. Walaupun kami di jurusan yang berbeda, tetapi
kami berangkat dan pulang sekolah hampir bersama-sama setiap hari. Kami pun
sering bercanda, tertawa bersama, kadang juga Ratna menemaniku latihan sepak
bola, dan bermain bola bersama di jalan depan rumah. Itulah yang membuat kami
semakin dekat dan dia menganggapku sebagai sahabat, begitu pula denganku yang
sebenarnya sedikit kecewa karena memendam perasaan cintaku padanya. Tak apalah
Rat, Tak mengapa bila kamu tak cinta padaku, dan mungkin seperti ini akan lebih
baik. Ternyata dia juga menyukai sepak bola. Dia selalu mendengarkan
keluhan-keluhanku, memberi saran padaku, dan kadang kami tebak-tebakan atau
taruhan setiap ada pertandingan sepak bola. Tak jarang, tebakannya benar dan
tepat. Ibarat seseorang yang mempunyai indera keenam. Lama-lama akupun
menyebutnya sebagai dukun bola alias Dubol, karena kemampuan menebaknya.
“Rat, besok aku ada pertandingan
sepak bola, melanjutkan Piala Sudirman yang tengah berlangsung. Dan lawan timku
adalah Taruna Raya FC, Bandung. Aku butuh penerawangan indera keenam kamu
tentang pertandinganku besok”, tanyaku pada Ratna dengan sedikit bercanda.
“Aku tidak punya indera keenam,
Wan. Selama ini kan hanya perkiraanku saja. Kamu ini ada-ada saja. Besok kamu
bertanding? Wahh, kehilangan kamu jadinya, sepi tak ada kamu, Wan. Karena
Taruna Raya FC adalah tim yang sama-sama kuat dengan tim kamu, aku perkirakan
besok hasilnya imbang, dan tidak ada satupun gol yang dicetak dalam pertandinganmu
besok. Jadi, kamu siap-siap kecewa saja, Wan”, jawabnya dengan tertawa, haha.
“Lantas, kamu mau berangkat
kapan, Wan? Besok pertandingannya, kamu masih santai-santai saja”, lanjut
Ratna, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bicara.
“Nanti malam aku berangkat, kata
siapa aku santai-santai saja. Barang-barang di dalam rumah sudah siap semua.
Apa iya Rat? Imbang? Awas saja kalau tebakanmu salah, kamu harus mentraktir
aku, atau sebaliknya”, jawabku sambil meninggalkannya di depan pintu garbing
rumahnya.
“Boleh, siapa takut!”, teriaknya
dengan penuh keyakinan.
Malamnya
pun aku berangkat, dan besoknya pertandingan dimulai. Tak kusangka. Tebakan
Ratna pun ampuh. Pertandingan imbang dengan skor 0-0 alias kacamata. Aku harus
mentraktir Ratna, pikirku. Ya sudahlah, sesekali makan bersama dengannya, apa
salahnya.
“Kamu mau makan apa, Rat?”,
tanyaku pada Ratna ketika memasuki sebuah pusat perbelanjaan terkenal di daerah
Jakarta Selatan.
“Aku Pizza saja lah, Wan. Nanti
kita makan sama-sama. Lebih enak ‘kan kalau bersama-sama”, pintanya. Dalam
hatiku, sebenarnya aku mau tidak saat makan Pizza Rat, waktu kita bersama-sama,
tapi aku mau kamu setiap waktu bisa ada untukku. Tapi itu tidak mungkin, kamu
mungkin tidak punya rasa cinta padaku. Dengan sikapmu yang dingin aku bisa
menilainya.
”Melamun apa, Wan?”, tanya Ratna
seketika mengejutkanku.
“Oh, tidak. Aku hanya teringat
pertandingan kemarin. Waktu si Andi yang jadi defender timku itu cedera. Engkelnya patah. Kasihan dia”, jawabku
dengan bohong.
“Cedera? Kasihan juga dia. Eh,
Wan, kamu tahu si Deni tidak, teman sekelasmu waktu kelas sepuluh dulu?”,
tanyanya saat kita makan.
“Iya, aku tahu. Memangnya ada apa
mbah dubol?”, jawabku sambil bercanda dengan nama yang biasa aku sebut, dukun
bola.
““Sudah ya bercandanya, aku
serius, Wan”, pintanya.
“Iya, sungguh. Bahkan lebih dari
sekadar tahu. Dia teman dekatku waktu kelas X, karena kita satu bangku. Ada apa
dengannya, Rat?”, tanyaku heran.
“Aku boleh minta nomor handphone-nya tidak? Tolong ya, Wan, aku
suka sama dia. Dulu kami pernah dekat, tetapi akhir-akhir ini kami putus
kontak, entahlah, mungkin nomor handphone-nya
ganti. Tolong lah Wan, bantu sahabatmu ini”, jawabnya dengan jawaban yang
sangat mengagetkanku. Tanpa aku sadari selama ini, ternyata sejak Deni meminta
nomor handphone Ratna padaku dulu,
mereka memulai kedekatan itu.
“Iya, aku mengerti, ambil saja di handphone-ku”, jawabku dengan wajah
dingin, wajah lemas dan untuk kesekian kalinya perasaan yang tak masuk akal itu
hadir dalam benakku. Kali ini aku mencoba lebih bersikap dewasa di hadapannya.
Ratna mungkin menyadari bahwa aku sayang padanya karena dia adalah sahabatku.
Ya, sahabat yang mengalah walau sakit hati, pikirku.
“Terima kasih ya, Wan. Kamu
memang sahabatku yang tak ada duanya”, jawabnya dengan girang.
FFF
Semakin hari, semakin tidak keruan. Ratna yang kesenangan dan aku benar-benar dirundung kesedihan karena melihat dan mendengarkan Ratna dan cerita-cerita tentang pacar barunya, Deni. Perasaanku benar-benar campur aduk, antara sedih dan senang. Aku sayang padanya, aku juga harus merelakannya bahagia walaupun kebahagiaan itu bukan bersamaku, pikirku. Sehari, seminggu, sebulan. Ratna dan Deni semakin dekat dan sulit untuk dipisahkan. Itu yang membuatku seperti menjadi orang asing saat mereka bersama. Jangankan untuk bermain ke rumahku, mengajak makan di kantin sekolah pun sudah tak pernah lagi. Dan aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Ratna walaupun rumah kami bersebelahan.
Hingga
pada suatu saat aku sibuk dengan persiapanku untuk berangkat ke Uzbekistan. Aku
harus mempersiapkan segalanya, terutama persiapan fisik. Ya, aku lolos untuk
dikirim ke sana dengan beberapa teman klub sepak bolaku, Pirata Jaya FC. Aku
juga bersyukur karena telah lolos seleksi dari puluhan teman-temanku yang
mengikuti seleksi. Aku tidak peduli dengan Ratna, tetapi aku mencoba mengirim
surat padanya, agar dia tidak gelisah karena kepergianku. Aku berharap dengan
surat ini dia bisa memahami perasaan ku padanya selama ini. Surat itu ku
selipkan di bawah celah pagar rumahnya.
14 Februari 2010
Untuk sahabatku terkasih, Ratna sagita.
Rat, maaf sebelumnya kalau surat ini
mengejutkanmu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa lagi, karena
akhir-akhir ini kita jarang ada komunikasi, walaupun rumah kita bersebelahan.
Aku merasa ada yang berubah dengan sikapmu padaku. Tetapi aku mencoba sabar
karena aku sangat menyayangimu. Maaf juga, Rat, jika ada yang mengejutkan
ketika nantinya aku lama tak dirumah. Ya, aku mendapat kesempatan untuk belajar
dan mengasah kemampuan sepak bolaku di Uzbekistan selama setahun kedepan. Aku
akan berangkat malam ini juga. Dan aku yakin kamu tak akan kesepian seperti
waktu dulu ketika aku ada pertandingan di Piala Sudirman, karena sekarang ada
Deni yang setia menemani hidupmu. Maafkan aku, Rat, jika aku tak bisa menjadi
sahabat yang baik untukmu.
Apa
selama ini kamu tak menyadari bahwa rasa sayangku padamu lebih dari sekadar
sahabat? Aku sebenarnya berharap kamu menjadi orang yang aku cintai di dunia
ini. Tapi mungkin takdir berkehendak lain, dan menggariskan bahwa kita hanya
sampai pada hubungan persahabatan. Itulah yang menjadikan aku lebih mengerti.
Tetapi dengan surat ini aku mencoba menumpahkan rasa cintaku padamu. Rat, jika
kamu mempunyai rasa lebih padaku, tunggulah aku satu tahun lagi. Akupun akan
setia menunggumu walaupun dengan banyak godaan di negeri orang. Tetapi aku yakin
hanya kamu yang terbaik untukku, Rat. Tunggu aku di pantai Ancol pukul 5 sore
satu tahun mendatang. Tetapi jika kamu tak datang aku tak akan memaksamu, dan
kamu benar-benar akan menjadi sahabatku untuk selamanya. Yang jelas 14 Februari
2011 aku akan menunggumu, Rat.
Sahabatmu
Irwan Gumilang Rahman
FFF
Tepat tanggal 14 Februari 2011. Ya, aku
menunggunya di pantai Ancol dengan sejuta rasa cintaku pada Ratna. Jika ia
tidak datang, kupastikan dia sedang menikmati kebersamaannya dengan Deni. Bukan
salahmu bila tak cinta, Rat. Tetapi hal itu berbalik, ku dengar
suara yang memanggilku dari kejauhan. Dan ternyata itu Ratna. Tak kusangka dia
akan datang dan menepati permintaanku.
“Irwan, kau kah itu? Sejak kapan kau kembali? Aku hanya ingin
persahabatan kita, Wan”, teriaknya dengan berlari menghampiriku, dan
perkataannya langsung aku potong karena aku dapat menyimpulkan jawabannya
dengan wajah cemberutnya.
“Aku pulang tadi pagi, Rat. Aku tahu kita hanya sekadar sahabat, tidak
lebih. Aku bisa memahamimu, Rat”, jawabku dengan rasa kecewa.
“Bukan bagitu, Wan. Aku hanya ingin persahabatan kita sampai disini, dan
kita mulai lagi dari awal, dan lebih dari sahabat, Wan”, jawab Ratna dengan
muka yang hambar dan tanpa senyum. Tetapi aku yang mengawali senyuman padanya,
dan aku dapat menyimpulkan jawaban terakhir bahwa ia juga mempunyai rasa lebih
dari sekadar sahabat padaku.
“Lalu, bagaimana dengan hubunganmu bersama Deni, Rat?”.
“Hubungan kami berakhir, tak lama setelah kau pergi ke Uzbekistan. Dia
belum cukup baik untukku, tidak seperti kamu Wan. Maaf bila aku membuatmu merasa
tersiksa, tapi kali ini cintamu akan ku balas, Wan”, katanya padaku dengan
perkataan yang membuatku cukup terkejut.
“Serapat-rapatnya bangkai pasti akan ketahuan juga. Tidak ada yang harus
dimaafkan, Rat. Mungkin aku terlalu memaksakan perasaanku padamu. Bukan salahmu
bila tak cinta, tetapi akhirnya cinta juga, benar-benar aneh kamu dubol”,
balasku dengan bercanda dan memasangkan bunga di telinganya, sebagai ucapan
terima kasihku padanya karena ia mau menerimaku untuk bersamanya, mulai hari
ini, besok, lusa, dan seterusnya. Tentunya ia juga memaklumiku sebagai pemain
bola yang secara sadar akan sering aku tinggalkan. Tetapi aku percaya padanya,
begitu pula aku yakin ia akan percaya padaku. Terima kasih Ratna, karena
cintaku selama ini terbalaskan mulai hari ini. --26--
FFF
Lucky
Jason Mraz Feat.
Colbie Callait
Do
you hear me,
I'm
talking to you
Across
the water across the deep blue ocean
Under
the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy
I hear you in my dreams
I
feel your whisper across the sea
I
keep you with me in my heart
You
make it easier when life gets hard
I'm
lucky I'm in love with my best friend
Lucky
to have been where I have been
Lucky
to be coming home again
Ooohh
ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
They
don't know how long it takes
Waiting
for a love like this
Every
time we say goodbye
I
wish we had one more kiss
I'll
wait for you I promise you, I will
I'm
lucky I'm in love with my best friend
Lucky
to have been where I have been
Lucky
to be coming home again
Lucky
we're in love every way
Lucky
to have stayed where we have stayed
Lucky
to be coming home someday
And
so I'm sailing through the sea
To
an island where we'll meet
You'll
hear the music fill the air
I'll
put a flower in your hair
Though
the breezes through trees
Move
so pretty you're all I see
As
the world keeps spinning round
You
hold me right here right now
I'm
lucky I'm in love with my best friend
Lucky
to have been where I have been
Lucky
to be coming home again
I'm
lucky we're in love every way
Lucky
to have stayed where we have stayed
Lucky
to be coming home someday
Ooohh
ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh
ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar