Halaman

Jumat, 27 Desember 2013

lanjutan Cerpen "Bukan Salahmu Bila Tak Cinta"

........................
Ternyata Ratna, tetangga baruku, juga bersekolah di sekolahku, SMA Kesatria. Hari ini dia baru masuk sekolah karena urusan administrasi perpindahan sekolahnya baru selesai kemarin.
“Hai Rat, sekolah disini juga? Masuk di kelas berapa?”, tanyaku ketika bertemu dengannya di kantin sekolah.
“Hai juga wan, iya aku kelas X, dan masuk di kelas X.2 alias sepeda”, jawabnya sambil bercanda padaku, ya sepeda adalah perkumpulan anak-anak sepuluh dua.
“Oh, aku di kelas X.1 alias sepatu, sebelah ruang kelasmu. Jadi kita bisa berangkat dan pulang sekolah bersama-sama kan Rat?”, pintaku sambil membalas candanya, sepatu adalah perkumpulan anak-anak sepuluh satu.
 “Iya wan, jadinya aku bisa punya teman dekat”, jawabnya.
“Benar. Sebelumnya kamu dari SMA mana Rat?”, tanyaku sambil beranjak keluar dari kantin sekolah bersama Ratna.
“Aku dari SMA 141, daerah Jakarta Timur. Tapi karena jarak Jakarta Timur dengan Jakarta Selatan cukup jauh, ayahku memintaku untuk pindah sekolah saja, dan dia menyarankan agar aku masuk disini, SMA Kesatria. Kata orang-orang SMA ini bagus dan Standar Nasional, jadi apa salahnya aku coba, walaupun sebentar lagi kita kenaikan kelas ke kelas XI”.
“Iya, berarti kamu di kelas X ini hanya dua bulan ya Rat?”, tanyaku.
“Hmmm, kalau dihitung benar juga katamu Wan. Tapi tidak apa-apa, selagi aku bisa menyesuaikan, apa salahnya”, jawabnya.
“Ya sudah, nanti kita pulang sama-sama ya Rat?”, pintaku.
“Boleh, nanti aku tunggu kamu di depan sekolah”, jawabnya sambil meninggalkanku, dan kamipun memasuki ruang kelas masing-masing. Ohh Ratna, mungkin kamu akan banyak disukai laki-laki disekolah ini, kamu cantik, baik pula.
“Wan, melamunkan apa kamu? Awas nanti ada setan yang masuk, repot nanti kalau kamu kesurupan!”, panggil Deni yang membangunkan lamunanku tentang Ratna, akupun terkejut. Untuk kesekian kalinya Deni hadir di hadapanku ketika aku melamun.
“Kamu ini Den, selalu seperti ini. Bagaimana kalau nanti aku pingsan karena serangan jantung? Masih lumayan pingsan, kalau tiba-tiba mati mendadak bagaimana? Apa kamu mau tanggung jawab?”, tanyaku bercanda dengan akting wajah kesal.
“Wan, Wan, terlalu berlebihan kata-katamu, kamu ini bercanda terus, tidak mungkin sampai seperti itu. Kita kan masih muda, jadi umur kita masih panjang”, jawabnya sambil duduk di sebelahku di depan kelas.
“Kamu yang terlalu berlebihan, bukan masalah umur, Den, kita tidak tahu kapan kita meninggal”, tanyaku dengan wajah kesal, dan kali ini benar-benar kesal.
FFF
“Ya sudah. Aku minta maaf. Eh Wan, tadi kamu bicara dengan siapa waktu di kantin? Anak baru disini ya?”, tanyanya padaku dengan wajah heran.
“Iya, memangnya ada apa?”, jawabku.
“Namanya siapa, Wan? Boleh tidak aku minta nomor handphone-nya? Kamu kan dekat dengannya”, pintanya sambil menikmati makanan yang ada ditangannya.
“Namanya Ratna, Ratna Sagita, kelas X.2, musuh kita. Ini ambil saja di handphone-ku, cari sendiri”, jawabku sambil memberikan handphone ke Deni. Ya, aku ikhlas memberikannya ke Deni. karena Deni adalah teman baikku, setiap aku tidak masuk sekolah karena bertanding, Deni lah yang setia meminjamiku buku pelajaran dan mengajarinya. Oleh karena itu aku dipandang unggul di kelas. Sebenarnya itu berkat Deni yang mengajariku ketika aku tidak bisa dalam suatu pelajaran.
“Terima kasih ya, Wan. Sekali lagi kamu memang teman yang baik”, ujarnya dengan wajah gembira.
FFF
          Dan pertemananku dengan Ratna berlanjut hingga kelas XI. Aku masuk di jurusan IPS, dan Ratna masuk di jurusan IPA. Walaupun kami di jurusan yang berbeda, tetapi kami berangkat dan pulang sekolah hampir bersama-sama setiap hari. Kami pun sering bercanda, tertawa bersama, kadang juga Ratna menemaniku latihan sepak bola, dan bermain bola bersama di jalan depan rumah. Itulah yang membuat kami semakin dekat dan dia menganggapku sebagai sahabat, begitu pula denganku yang sebenarnya sedikit kecewa karena memendam perasaan cintaku padanya. Tak apalah Rat, Tak mengapa bila kamu tak cinta padaku, dan mungkin seperti ini akan lebih baik. Ternyata dia juga menyukai sepak bola. Dia selalu mendengarkan keluhan-keluhanku, memberi saran padaku, dan kadang kami tebak-tebakan atau taruhan setiap ada pertandingan sepak bola. Tak jarang, tebakannya benar dan tepat. Ibarat seseorang yang mempunyai indera keenam. Lama-lama akupun menyebutnya sebagai dukun bola alias Dubol, karena kemampuan menebaknya.
“Rat, besok aku ada pertandingan sepak bola, melanjutkan Piala Sudirman yang tengah berlangsung. Dan lawan timku adalah Taruna Raya FC, Bandung. Aku butuh penerawangan indera keenam kamu tentang pertandinganku besok”, tanyaku pada Ratna dengan sedikit bercanda.
“Aku tidak punya indera keenam, Wan. Selama ini kan hanya perkiraanku saja. Kamu ini ada-ada saja. Besok kamu bertanding? Wahh, kehilangan kamu jadinya, sepi tak ada kamu, Wan. Karena Taruna Raya FC adalah tim yang sama-sama kuat dengan tim kamu, aku perkirakan besok hasilnya imbang, dan tidak ada satupun gol yang dicetak dalam pertandinganmu besok. Jadi, kamu siap-siap kecewa saja, Wan”, jawabnya dengan tertawa, haha.
“Lantas, kamu mau berangkat kapan, Wan? Besok pertandingannya, kamu masih santai-santai saja”, lanjut Ratna, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bicara.

 “Nanti malam aku berangkat, kata siapa aku santai-santai saja. Barang-barang di dalam rumah sudah siap semua. Apa iya Rat? Imbang? Awas saja kalau tebakanmu salah, kamu harus mentraktir aku, atau sebaliknya”, jawabku sambil meninggalkannya di depan pintu garbing rumahnya.
“Boleh, siapa takut!”, teriaknya dengan penuh keyakinan.
          Malamnya pun aku berangkat, dan besoknya pertandingan dimulai. Tak kusangka. Tebakan Ratna pun ampuh. Pertandingan imbang dengan skor 0-0 alias kacamata. Aku harus mentraktir Ratna, pikirku. Ya sudahlah, sesekali makan bersama dengannya, apa salahnya.
“Kamu mau makan apa, Rat?”, tanyaku pada Ratna ketika memasuki sebuah pusat perbelanjaan terkenal di daerah Jakarta Selatan.
“Aku Pizza saja lah, Wan. Nanti kita makan sama-sama. Lebih enak ‘kan kalau bersama-sama”, pintanya. Dalam hatiku, sebenarnya aku mau tidak saat makan Pizza Rat, waktu kita bersama-sama, tapi aku mau kamu setiap waktu bisa ada untukku. Tapi itu tidak mungkin, kamu mungkin tidak punya rasa cinta padaku. Dengan sikapmu yang dingin aku bisa menilainya.
”Melamun apa, Wan?”, tanya Ratna seketika mengejutkanku.
“Oh, tidak. Aku hanya teringat pertandingan kemarin. Waktu si Andi yang jadi defender timku itu cedera. Engkelnya patah. Kasihan dia”, jawabku dengan bohong.
“Cedera? Kasihan juga dia. Eh, Wan, kamu tahu si Deni tidak, teman sekelasmu waktu kelas sepuluh dulu?”, tanyanya saat kita makan.
“Iya, aku tahu. Memangnya ada apa mbah dubol?”, jawabku sambil bercanda dengan nama yang biasa aku sebut, dukun bola.
““Sudah ya bercandanya, aku serius, Wan”, pintanya.
“Iya, sungguh. Bahkan lebih dari sekadar tahu. Dia teman dekatku waktu kelas X, karena kita satu bangku. Ada apa dengannya, Rat?”, tanyaku heran.
“Aku boleh minta nomor handphone-nya tidak? Tolong ya, Wan, aku suka sama dia. Dulu kami pernah dekat, tetapi akhir-akhir ini kami putus kontak, entahlah, mungkin nomor handphone-nya ganti. Tolong lah Wan, bantu sahabatmu ini”, jawabnya dengan jawaban yang sangat mengagetkanku. Tanpa aku sadari selama ini, ternyata sejak Deni meminta nomor handphone Ratna padaku dulu, mereka memulai kedekatan itu.
“Iya, aku mengerti, ambil saja di handphone-ku”, jawabku dengan wajah dingin, wajah lemas dan untuk kesekian kalinya perasaan yang tak masuk akal itu hadir dalam benakku. Kali ini aku mencoba lebih bersikap dewasa di hadapannya. Ratna mungkin menyadari bahwa aku sayang padanya karena dia adalah sahabatku. Ya, sahabat yang mengalah walau sakit hati, pikirku.
“Terima kasih ya, Wan. Kamu memang sahabatku yang tak ada duanya”, jawabnya dengan girang.
FFF

Semakin hari, semakin tidak keruan. Ratna yang kesenangan dan aku benar-benar dirundung kesedihan karena melihat dan mendengarkan Ratna dan cerita-cerita tentang pacar barunya, Deni. Perasaanku benar-benar campur aduk, antara sedih dan senang. Aku sayang padanya, aku juga harus merelakannya bahagia walaupun kebahagiaan itu bukan bersamaku, pikirku. Sehari, seminggu, sebulan. Ratna dan Deni semakin dekat dan sulit untuk dipisahkan. Itu yang membuatku seperti menjadi orang asing saat mereka bersama. Jangankan untuk bermain ke rumahku, mengajak makan di kantin sekolah pun sudah tak pernah lagi. Dan aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Ratna walaupun rumah kami bersebelahan.
          Hingga pada suatu saat aku sibuk dengan persiapanku untuk berangkat ke Uzbekistan. Aku harus mempersiapkan segalanya, terutama persiapan fisik. Ya, aku lolos untuk dikirim ke sana dengan beberapa teman klub sepak bolaku, Pirata Jaya FC. Aku juga bersyukur karena telah lolos seleksi dari puluhan teman-temanku yang mengikuti seleksi. Aku tidak peduli dengan Ratna, tetapi aku mencoba mengirim surat padanya, agar dia tidak gelisah karena kepergianku. Aku berharap dengan surat ini dia bisa memahami perasaan ku padanya selama ini. Surat itu ku selipkan di bawah celah pagar rumahnya.

14 Februari 2010
Untuk sahabatku terkasih, Ratna sagita.
Rat, maaf sebelumnya kalau surat ini mengejutkanmu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa lagi, karena akhir-akhir ini kita jarang ada komunikasi, walaupun rumah kita bersebelahan. Aku merasa ada yang berubah dengan sikapmu padaku. Tetapi aku mencoba sabar karena aku sangat menyayangimu. Maaf juga, Rat, jika ada yang mengejutkan ketika nantinya aku lama tak dirumah. Ya, aku mendapat kesempatan untuk belajar dan mengasah kemampuan sepak bolaku di Uzbekistan selama setahun kedepan. Aku akan berangkat malam ini juga. Dan aku yakin kamu tak akan kesepian seperti waktu dulu ketika aku ada pertandingan di Piala Sudirman, karena sekarang ada Deni yang setia menemani hidupmu. Maafkan aku, Rat, jika aku tak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.
 Apa selama ini kamu tak menyadari bahwa rasa sayangku padamu lebih dari sekadar sahabat? Aku sebenarnya berharap kamu menjadi orang yang aku cintai di dunia ini. Tapi mungkin takdir berkehendak lain, dan menggariskan bahwa kita hanya sampai pada hubungan persahabatan. Itulah yang menjadikan aku lebih mengerti. Tetapi dengan surat ini aku mencoba menumpahkan rasa cintaku padamu. Rat, jika kamu mempunyai rasa lebih padaku, tunggulah aku satu tahun lagi. Akupun akan setia menunggumu walaupun dengan banyak godaan di negeri orang. Tetapi aku yakin hanya kamu yang terbaik untukku, Rat. Tunggu aku di pantai Ancol pukul 5 sore satu tahun mendatang. Tetapi jika kamu tak datang aku tak akan memaksamu, dan kamu benar-benar akan menjadi sahabatku untuk selamanya. Yang jelas 14 Februari 2011 aku akan menunggumu, Rat.
Sahabatmu

Irwan Gumilang Rahman
FFF
  Tepat tanggal 14 Februari 2011. Ya, aku menunggunya di pantai Ancol dengan sejuta rasa cintaku pada Ratna. Jika ia tidak datang, kupastikan dia sedang menikmati kebersamaannya dengan Deni. Bukan salahmu bila tak cinta, Rat. Tetapi hal itu berbalik, ku dengar suara yang memanggilku dari kejauhan. Dan ternyata itu Ratna. Tak kusangka dia akan datang dan menepati permintaanku.
“Irwan, kau kah itu? Sejak kapan kau kembali? Aku hanya ingin persahabatan kita, Wan”, teriaknya dengan berlari menghampiriku, dan perkataannya langsung aku potong karena aku dapat menyimpulkan jawabannya dengan wajah cemberutnya.
“Aku pulang tadi pagi, Rat. Aku tahu kita hanya sekadar sahabat, tidak lebih. Aku bisa memahamimu, Rat”, jawabku dengan rasa kecewa.
“Bukan bagitu, Wan. Aku hanya ingin persahabatan kita sampai disini, dan kita mulai lagi dari awal, dan lebih dari sahabat, Wan”, jawab Ratna dengan muka yang hambar dan tanpa senyum. Tetapi aku yang mengawali senyuman padanya, dan aku dapat menyimpulkan jawaban terakhir bahwa ia juga mempunyai rasa lebih dari sekadar sahabat padaku.
“Lalu, bagaimana dengan hubunganmu bersama Deni, Rat?”.
“Hubungan kami berakhir, tak lama setelah kau pergi ke Uzbekistan. Dia belum cukup baik untukku, tidak seperti kamu Wan. Maaf bila aku membuatmu merasa tersiksa, tapi kali ini cintamu akan ku balas, Wan”, katanya padaku dengan perkataan yang membuatku cukup terkejut.
“Serapat-rapatnya bangkai pasti akan ketahuan juga. Tidak ada yang harus dimaafkan, Rat. Mungkin aku terlalu memaksakan perasaanku padamu. Bukan salahmu bila tak cinta, tetapi akhirnya cinta juga, benar-benar aneh kamu dubol”, balasku dengan bercanda dan memasangkan bunga di telinganya, sebagai ucapan terima kasihku padanya karena ia mau menerimaku untuk bersamanya, mulai hari ini, besok, lusa, dan seterusnya. Tentunya ia juga memaklumiku sebagai pemain bola yang secara sadar akan sering aku tinggalkan. Tetapi aku percaya padanya, begitu pula aku yakin ia akan percaya padaku. Terima kasih Ratna, karena cintaku selama ini terbalaskan mulai hari ini. --26--
FFF


Lucky
Jason Mraz Feat. Colbie Callait


Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair
Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar