TUGAS MATA KULIAH
TEKNOLOGI
PEMBENIHAN IKAN
PEMBENIHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
Disusun oleh :
NINDIYA NASTITI
26010213140072
NINDIYA NASTITI
26010213140072
BUDIDAYA
PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
I.
PERSIAPAN SARANA DAN PRASARANA
1.1. Sarana
Sarana adalah alat-alat yang mutlak ada untuk melakukan kegiatan pembenihan. Sarana yang terdapat dalam
pembenihan ikan nila adalah
sebagai berikut :
a. Kolam
Menurut Wiryanta et
al. (2010), kolam yang digunakan berlokasi diatas permukaan laut (0 – 1000
mdpl), bebas banjir / pengaruh pencemaran, tekstur tanah liat berpasir, pH
tanah 5-8, mempunyai sumber air cukup melimpah dan tidak tercemar. Kolam yang
digunakan yaitu :
·
Kolam indukan : Bentuk
kolam empat persegi panjang, tidak terlalu luas, kedalaman air antara 120 cm-140
cm, dan tertutup. Kontruksi
kolam adalah kolam tanah. Letak
kolam di sebelah hulu pemijahan.
·
Kolam pemijahan :
mempunyai luas 400 m2. Kedalaman air 100 cm. Debit air minimum 1
liter perdetik.
·
Kolam penampungan larva
: mempunyai luas 200-500 m2. Kedalaman air 50-70 cm. Debit air
minimum 1 liter perdetik.
·
Kolam pendederan : Bentuk
dan luas kolam atau lahan disesuaikan dengan keadaan areal setempat. Keadaan airnya relatif
dangkal. Konstruksi
kolam adalah kolam tanah atau areal sawah yang dilengkapi dengan caren di
sepanjang sisi pematang atau arah diagonal. Letak
kolam atau lahan pendederan dekat dengan kolam induk.
b. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam usaha pembenihan ikan
Nila menurut Wiryanta et al. (2010),
yaitu :
-
Hapa 2 x 2 x 1 m3
(mesh ukuran 1 – 1,5 mm);
-
Seser benih 0,2 x 0,4 m2
(mesh ukuran 1 – 1,5 mm);
-
Ember plastik;
-
Scoop net dan
lambit;
-
Bak/kolam/corong
penetasan telur
-
Aerator, water heater.
c. Sumber
air
Sumber air yang digunakan yaitu
sumber air yang bersih dan tidak tercemar. Suhu air yang masih bisa ditolerir
ikan nila adalah 15-37 °C. Suhu optimum untuk pertumbuhan nila yaitu 25-30 °C. Sementara untuk pemijahan, suhu ideal untuk bisa
menghasilkan telur dan larva adalah 22-37 °C.
Ikan nila sebaiknya hidup di air dengan kadar oksigen terlarut lebih dari 3
ppm. pH yang ideal yaitu 7. Salinitas yang baik yaitu 25 ppm. Kandungan karbon
dioksida maksimum 5 mg/liter. Kadar ammonia terlarut dalam air kurang dari 0,1
mg/liter.
d. Pakan, meliputi pakan alami dan pakan
buatan (pellet).
Pakan
alami ini diberikan untuk larva-larva ikan nila. Bukaan mulut ikan nila yang
masih kecil sehingga perlu pakan alami. Disamping itu kandungan protein yang
besar pada pakan alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. Menurut Djarijah (1995),
kriteria pakan alami
yang dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai sumber makanan antara lain :
a.
Bentuk dan ukuran sesuai dengan
bukaan mulut ikan pemakannya.
b.
Mudah dibudidayakan secara
massal.
c.
Memiliki kandungan nutrisi
yang tinggi dan lengkap.
d.
Isi sel padat dengan dinding
sel tipis sehingga mudah dicerna oleh ikan.
e.
Cepat berkembangbiak dan
mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan.
f.
Tidak menghasilkan senyawa
yang beracun.
g.
Gerakannya menarik ikan
tetapi tidak terlalu aktif sehingga mudah ditangkap ikan.
Pakan
buatan biasanya ditambahkan
saat-saat menjelang panen. Selain itu, pemberian pakan tambahan berguna untuk
meningkatkan pertumbuhan larva. Fungsi lainnya adalah untuk menambah ketahanan
tubuh. Hal ini diperkuat oleh Cahyadi (2005), Larva yang masih berada dalam
asuhan induk tidak memerlukan pakan tambahankarena masih memiliki cadangan
makanan berupa kuning telur sampai larva berumur kurang lebih 11 hari.
Sedangkan benih yang telah ditebar di kolam pendederan diberi pakan tambahan
berupa pellet halus dengan dosis 5 % dari biomass per hari. Pemberian pakan
dilakukan dua kali sehari, pagi hari pukul 08.00 WIB dan siang hari pukul 12.00 WIB.
e. Pupuk
dan obat-obatan
Menurut Cahyadi (2005), Pemupukan
kolam bertujuan untuk menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan
makanan alami seperti fitoplankton dan zooplankton. Pemupukan
dengan pupuk organik ini selain dapat menumbuhkan
pakan alami, juga dapat juga membentuk lumpur sehingga mengurangisifat porus
tanah dasar kolam. Serangan hama dan penyakit pada usaha pembenihan tidak dapat
diabaikan, hal iniakan mengganggu proses produksi benih dan berpengaruh pada
hasil produksi benih.Selain upaya pencegahan terhadap timbulnya penyakit,
diperlukan juga langkah pemberantasan atau pengobatan bila terjadi serangan
penyakit atau hama. Oleh karena itu
diperlukan persediaan berbagai macam obat-obatan. Beberapa macam obat
yangsering digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila citra lada antara lain
KaliumPermanganat (KMnO4), Methylene biru (Methyline Blue), dan NaCl (garam
dapur) serta minyak tanah.
1.2. Prasarana
Prasarana merupakan alat yang
tidak harus ada namun menunjang
sarana pembenihan, sehingga dapat berjalan dengan maksimal.
a. Daya listrik dan komunikasi
Listrik tentu saja sangat
dibutuhkan untuk menjalankan berbagai alat di pembenihan. Sedangkan alat
komunikasi sangat dibutuhkan untuk berkomunikasi dan menyebarkan berita dan
mempromosikan.
b. Jalan dan Transportasi
Jalan
yang berada pada wilayah pembenihan haruslah layak dan tembus ke berbagai akses
penting. Sedangkan transportasinya harus yang bisa digunakan untuk mengangkut
benih-benih yang akan dijual.
c. Sistem penyedia air
Air merupakan unsur yang
paling penting dalam pembenihan. Air merupakan tempat ikan untuk dapat bertahan
hidup. Oleh karena dilakukan sistem penyedia air yang baik. Hal ini diperkuat
oleh Susanto (1986), pada sistem
paralel tiap kolammendapat air dari saluran pembagi bukan dari kolam lain
sehingga dihindarkan dariadanya kontaminasi dan penularan penyakit. Sistem
paralel juga memungkinkan adanyakemudahan dalam pergantian air serta menjamin
kelangsungan produksi tanpa salingmenggantungkan diri satu dengan lainnya.
d. Saluran pemasukan air (inlet)
Saluran dimana air masuk
kedalam kolam. Aliran airnya harus diatur dan disaring. Hal ini diperkuat oleh
Cahyadi (2005), saluran pemasukan air terdiri dari dua macam yaitu saluran
utama dan saluran pembagi. Saluran utama memiliki ukuran lebar atas 80 cm,
lebar bawah 50 cm,Ketinggian 30 cm dan berhubungan langsung dengan sumber air
kolam yaitu salurandari sungai Opak. Sedangkan saluran pembagi berukuran lebar
atas 50 cm, lebar bawah 20 cm,
ketinggian 20 cm dan berfungsi mendistribusikan air ke setiap petakan kolam.
e. Saluran pembuangan air (outlet)
Saluran dimana air
dikeluarkan dari kolam. Dimana air yang dikeluarkan mengandung banyak limbah.
Hal ini diperkuat oleh Cahyadi (2005), Saluran pembuangan harus mampu menampung
buangan air dari kolam dan harus berhubungan langsung dengan jaringan drainase
di luar unit perkolaman. Saluran pembuangan berbentuk trapesium dengan ukuran
lebar atas 100 cm, lebar bawah 70 cmdan kedalaman 150 cm.
f. Gudang, untuk menyimpan pakan,
alat-alat, dan obat-obatan.
g. Laboratorium, untuk melakukan uji
hasil.
h. Toilet/dapur, untuk tempat memasak dan
mencuci alat pembenihan.
II.
TEKNIK
PEMBENIHAN
2.1.
Persiapan
kolam
Wiryanta (2010) menyatakan bahwa dalam
memijahkan ikan nila dibutuhkan minimal dua kolam yakni kolam pemijahan dan
kolam pendederan. Kolam pemijahan digunakan untuk memijahkan indukan. Sementara
kolam pendederan digunakan sebagai tempat memelihara larva hingga siap tebar ke
kolam pembesaran.
a. Pengeringan
·
Kolam
dikeringkan selama minimal 1 minggu untuk mencegah adanya hama, penyakit, dan
jamur. Pengeringan juga dapat mempermudah dalam
perbaikan pematang, pengolahan
tanah
dasar kolam dan pembuatan kemalir. Pengeringan dilakukan selama beberapa hari tergantung cuaca. Pada
umumnya pengeringan dilakukan selama 2-4 hari sampai pengeringan dianggap cukup
dengan kondisi tanah dasar yang sudah terlihat retak-retak.
·
Mencangkul lahan
dengan cara membalik lumpur untuk membantu mematikan hama diseluruh bagian,
khususnya dasar kolam yang berlumpur.
b. Perbaikan Pematang
Kondisi
kolam yang telah lama digunakan biasanya akan mengalami kerusakanterutama
kebocoran pematang. Jika perbaikan ini tidak dilakukan maka akan timbul masalah seperti
kesulitan dalam mempertahankan tinggi air dan benih dapat terbawaarus ke luar
kolam. Perbaikan pematang dilakukan dengan penutupan sisi bagian dalam pematang
dengan tanah dasar kolam. Bila terjadi kebocoran yang parah maka
pematangsebaiknya dibongkar pada bagian yang bocor kemudian ditutup kembali
dengan tanah.
c. Pengapuran
Pengapuran
dilakukan dengan tujuan untuk menetralkan pH tanah serta membunuh hama dan penyakit yang
ada di kolam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur tohor (CaO) dengan dosis
20 gram/m atau 100 gr per m2.
Pengapuran dilakukan dengan menebarkan kapur secara merata ke seluruh dasar
kolam.Setelah pengapuran dilakukan, kemudian kolam dapat diairi dengan
ketinggian yang berbeda pada setiap kolam. Untuk kolam pemijahan ketinggian air
antara 50-70 cm, sedangkan
untuk kolam pemeliharaan larva dan pendederan ketinggian antara 30-50
cm.Kemudian didiamkan selama 3-5 hari untuk memberi kesempatan tumbuhnya
pakanalami dalam kolam.
d. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menyuburkan
tanah dasar kolam, sehingga organisme sebagai
pakan
alami dapat tumbuh
dengan baik. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk kandang dari
kotoran sapi, ayam, atau puyuh dengan dosis 250 gram per m2. Pupuk ditebar di lahan, lalu dicangkul hingga
mendapatkan ketebalan lumpur sekitar 20 cm.
2.2. Pemilihan
induk
Amri dan Khairuman
(2003) menyebutkan ciri-ciri induk ikan nila jantan dan betina dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 1. Ciri-Ciri Induk Nila
Jantan dan Induk Nila Betina
|
Ciri-ciri
|
Induk jantan
|
Induk betina
|
|
Bentuk tubuh
|
Lebih tinggi dan
membulat
|
Lebih rendah dan
memanjang
|
|
Warna tubuh
|
Lebih cerah
|
Lebih gelap
|
|
Jumlah lubang kelamin
|
Satu lubang (untuk
pengeluaran sperma sekaligus air seni)
|
Dua lubang :
-lubang untuk pengeluaran telur dan
- lubang
pengeluaran air seni
|
|
Bentuk kelamin
|
Tonjolan agak
mruncing
|
Tidak meruncing
(membulat)
|
Menurut Wiryanta (2010), syarat indukan ikan nila yang baik
yaitu :
-
Induk jantan dan
betina harus sehat dan matang gonad. Cirinya berumur 4-5 bulan, tubuuh tidak
cacat, tidak ada kelainan bentuk, organ tubuh lengkap, sisik teratur, perilaku
normal, tubuh bebas parasit, insang bersih, tutup insang normal, berlendir
normal, serta pada betina perutnya membesar dan urogenitalnya berwarna merah.
-
Bobot tubuh
induk jantan minimum 250 gram dan betina minimum 200 gram/ekor. Panjang standar
indukan jantan 25 cm, betina 22 cm.
-
Kondisi sisik
besar dan kasar (ctenoid), pola sisik yang normal.
-
Perbandingan tinggi
terhadap panjang standar indukan 1 : 2,1 hingga 1 : 2,7.
2.3. Pemeliharaan Induk
Untuk pematangan gonad, ikan
nila bisa dipelihara dalam kolam terpisah dengan padat tebar 1-3 ekor/m2.
Pernyataan ini didukung oleh Murtidjo (2001), induk
jantan dan betina dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk secara terpisah
untuk menghindari terjadinya pemijahan liar selama pemeliharaan serta
mengistirahatkan induk setelah masa pemijahan. Induk diberi pakan dengan kandungan protein 20 - 30%. Setelah 20-30 hari
lebih dari 75% ikan sudah matang gonad siap pijah.
Beberapa cara untu mempercepat pematangan gonad pada indukan yaitu :
-
Penambahan
vitamin E pada pakan
-
Penambahan kadar
protein pada pakan
-
Manipulasi
lingkungan : suhu, cahaya. Seperti menyurutkan volume air untuk menaikkan suhu,
dan menaikan volume air untuk menurukan suhu.
2.2.
Pemijahan induk
Induk
nila yang telah matang gonad
dimasukkan dalam kolam pemijahan segera setelah kolam dipersiapkan dan
telah diisi air. Jumlah induk yang ditebarkan dalam kolam pemijahan tergantung
dari luas kolam. Biasanya kolam
dengan luas 400 m2 diisi satu paket induk sebanyak 100 jantan dan
300 betina. Kepadatan induk yang ditebar pada
kolam pemijahan yang optimal adalah 1 ekor/ m, dengan perbandingan induk jantan
dan betina adalah 1:3. Pemijahan
terjadi secara alami. Diberikan pakan pellet komersial sebesar 3% perhari.
Setelah 3-5 hari, induk jantan
biasanya akan membuat sarang di dasar kolam. Sarangnya berbentuk cekungan
sebesar badan induk betina. Setelah itu induk betina akan mendatangi sarang
yang sudah dibuat. Tidak lama kemudian induk betina akan bertelur dan segera
dibuahi oleh pejantan. Pemijahan terjadi setelah kira-kira
7-10 hari sejak penebaran
induk. Hal ini diperkuat oleh Djarijah (1995) ,
bahwa dalam kondisi normal pemijahan terjadi padahari ke-6 hingga hari ke-7
setelah penebaran induk. Proses pemijahan
biasanya terjadi dalam waktu 60 menit untuk 1 pasang indukan. Telur yang
dihasilkan per pasang dapat mencapai 2000 butir telur. Telur yang terbuahi akan
berwarna kuning cerah. Sedangkan telur yang tak terbuahi akan berwarna putih
pucat. Jumlah induk betina yang memijah 30-50% dari populasi yang dipijahkan.
Setelah telur terbuahi, induk
betina akan menangkap telur-telur tersebut untuk dierami di dalam mulutnya. Selama
mengerami telur-telurnya induk betina tidak makan (puasa). Telur akan
menetas menjadi larva dalam waktu 6 hari kemudian menjadi larva yang berenang
aktif. Larva yang telah menetas akan bertahan hidup dengan cadangan makanan
yaitu kuning telur dalam waktu 5-7 hari. Pemanenan atau pengambilan larva
dilakukan pada hari ke-10 dan ke-15 setelah proses pemijahan. Waktu yang tepat
untuk pemanenan adalah pukul 06.00 – 08.00. Saat yang tepat untuk mengambil
larva yaitu waktu larva disemburkan keluar dari mulut indukan. Pemanenan
dilakukan menggunakan scoop net. Lalu ditampung di ember. Setelah itu bersihkan
kotoran atau larva yang mati. Lalu pindahkan larva ke hapa dan setelah 3-5 hari
pindahkan ke kolam pendederan untuk dipelihara lebih lanjut.
III. PEMELIHARAAN LARVA
Pendederan
merupakan proses memelihara larva hingga memenuhi kriteria benih sesuai ukuran
yang diinginkan. Kolam pendederan dapat menggunakan kolam untuk pembesaran atau
bekas kolam pemijahan. Terlebih dahulu dilakukan pengolahan kolam seperti
mengeringkan, mencangkul, memperbaiki dasar kolam, memupuk, dan mengairi
kembali. Setelah itu, kolam perlu dibiarkan selama 5 hari sebelum ditebar
benih.
3.1.
Pendederan
I
Pendederan I merupakan pemeliharaan larva sampai
berumur 21-28 hari dan menghasilkan benih nila dengan ukuran 3-5 cm. Selama
pendederan I benih ikan nila diberi pakan sebanyak 3 kali sehari pagi, siang,
sore, berupa pellet halus dengan protein 10-15% dari bobot biomassa. Pemanenan
benih dilakukan menggunakan jaring/hapa, lalu dilakukan grading berdasarkan ukuran. Panen dilakukan pada benih ukuran 3-5
cm, yang lainnya dibiarkan di kolam untuk dibudidayakan sesuai ukurang yang
diinginkan.
3.2.
Pendederan II
Pendederan II merupakan pemeliharaan larva selama 21-28 hari setelah P1,
untuk menghasilkan ukuran benih 5-7 cm. Diberikan pakan 3x sehari sehari pagi,
siang, sore, berupa pellet yang mengandung protein 7,5 – 10 % dari bobot
biomassa. Menurut Wiryanta (2010) presentase mortalitas pada pendederan II
biasanya sekitar 20%.
3.3.
Pendederan III
Pendederan III / terakhir merupakan
pemeliharaan larva selama 21-28 hari setelah P2, untuk menghasilkan ukuran
benih gelondongan atau 10-12 cm. Diberikan pakan 3x sehari sehari pagi, siang,
sore, berupa pellet yang mengandung protein 5 % dari bobot biomassa. Menurut
Wiryanta (2010) benih ini dapat ditebar di kolam jaring apung atau tambak air
payau.
IV. PEMANENAN DAN PEMASARAN
4.1. Pemanenan
Metode panen
pada benih adalah proses pengambilan benih yang telah siap tebar untuk
selanjutnya dapat di lakukan pembesaran. Pemanenan
dapat dengan membukan saluran outlet wadah pemeliharaan larva atau dengan cara
mengambil larva dengan menggunakan serokan. Waktu yang baik untuk memanen benih
adalah pada pagi hari sekitar jam 6 dan sore hari sebelum magrib. Menurut Mahyuddin,
(2009), metode yang digunakan
yaitu menyurutkan air kolam sedikit demi sedikit sampai air hanya tersisa di
kemalir atau kowen (kobakan/lubang kecil di sudut kolam). Benih yang terkumpul
ditangkap secara hati-hati dan dimasukkan ke ember, kemudian diangkut ke tempat
penampungan sementara berupa hapa atau waring yang dipasang di kolam. Lalu
dilakukan sortis dan dimasukkan ke wadah pengangkutan. Benih terlebih dahulu
diberokan / dipuasakan sebelum dikirim.
4.2. Pemasaran
Pembeli
akan datang sendiri untuk membeli maupun mengambil pesanan benih. Biasanya
kebutuhan akan benih meningkat pada musim penghujan dan turun pada musim
kemarau. Benih dengan ukuran 3-5 cm dijual dengan harga Rp 40,- per ekor.
4.3. Pengangkutan
Pengangkutan hasil panen dapat dengan menggunakan angkutan
darat, udara, maupun laut. Setelah benih
dipanen, dimasukkan dalam wadah penampungan atau hapa. Langkah selanjutnya
yaitu di sortir dan di grading berdasarkan ukuran benih yang dihendaki. Sortir
bertujuan untuk memilih benih yang baik dan meyeragamkan kualitas. Grading
yaitu menggolongkan benih dalam criteria ukuran tertentu berdasarkan cm atau gr. Menurut Mahyuddin
(2009) cara pengangkutan dibagi menjadi 2 yaitu sistem tertutup dan sistem
terbuka.
Sistem pengangkutan terbuka à
menggunakan wadah berupa jerigen/drum, dimana air bersinggungan langsung dengan
udara. Benih yang dipanen biasanya ukuran wadah korek api. Diisi air sebanyak
2/3 bagian. Air yang digunakan diendapkan terlebih dahulu 1 hari untuk
menghindari gas-gas beracun yang ada. Wadah diletakkan dalam posisi horizontal.
Drum plastik biasanya berukuran 200 liter.
Sistem pengangkutan tertutup à
menggunakan kantong plastik secara tertutup sehingga tidak ada singgungan
antara air dan udara. Kebutuhan oksigen dilakukan dengan mengisi oksigen murni
ke dalam kantong plastik. Sistem ini memberikan efisiensi yang relative tinggi
pada jarak dan waktu tertentu.
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam sistem pengangkutan tertutup adalah sebagai berikut.
A. Potong
kantong plastik sepanjang 90-100 cm. Jumlahnya tergantung dari banyaknya benih
yang akan dikemas dan diangkut.
B. Ikat
ujung plastik dan masukkan bagian yang telah diikat ke bagian lainnya sehingga
akan berbentuk kantong.
C. Isi
kantong plastik dengan air bersih sebanyak 1/3 bagian.
D. Masukkan
benih yang akan diangkut ke dalam kantong plastik. Kepadatan benih dalam
plastik tergantung ukurannya. Sebelum diangkut benih dipuasakan beberapa jam
untuk mengeluarkan kotoran selama pengangkutan.
E. Buang
udara ‘palsu’ yang masih terdapat di dalam kantong, lalu masukkan oksigen dari
tabung dengan sedang kecil sampai tersisa bagian untuk mrngikat plastik.
F.
Ikat plastik dengan
karet gelang sampai rapat, lalu benih siap diangkut.
G. Masukkan
kantung plastik dalam alat pengangkutan dengan posisi membujur / ditidurkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Amri, K dan Khairuman. 2003.Budidaya Ikan Nila
Secara Intensif .Jakarta : Agromedia.
Cahyadi, Langgeng. 2005. Teknik
Pembenihan Ikan Nila
Citra Lada (Oreochromis sp.) di
Balai Benih Ikan
Sentral (BBIS) Cangkringan, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan
Praktek Kerja Lapang Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan. Malang :
Universitas Brawijaya.
Djarijah, A.S. 1995.Nila Merah, Pembenihan dan
Pembesaran Secara Intensif. Yogyakarta
: Kanisius.
Mahyudin,
Kholish. 2008. Panduan lengkap Agribisnis Lele. Jakarta : Penebar Swadaya.
Murtidjo,
B.A. 2001.Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta : Kanisius.
Wiryanta, B. T. W., Sunaryo, Astuti, Kurniawan, W.B.
2010. Budidaya dan Bisnis Ikan Nila. Jakarta : PT Agromedia Pustaka.
--26--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar