Halaman

Rabu, 19 November 2014

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN NILA

TUGAS MATA KULIAH
TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN

PEMBENIHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Disusun oleh :
NINDIYA NASTITI
26010213140
072


BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014



I.                  PERSIAPAN SARANA DAN PRASARANA

1.1.      Sarana
Sarana adalah alat-alat yang mutlak ada untuk melakukan kegiatan pembenihan. Sarana yang terdapat dalam pembenihan ikan nila adalah sebagai berikut :
a.         Kolam
            Menurut Wiryanta et al. (2010), kolam yang digunakan berlokasi diatas permukaan laut (0 – 1000 mdpl), bebas banjir / pengaruh pencemaran, tekstur tanah liat berpasir, pH tanah 5-8, mempunyai sumber air cukup melimpah dan tidak tercemar. Kolam yang digunakan yaitu :
·         Kolam indukan : Bentuk kolam empat persegi panjang, tidak terlalu luas, kedalaman air antara 120 cm-140 cm, dan tertutup. Kontruksi kolam adalah kolam tanah. Letak kolam di sebelah hulu pemijahan.
·         Kolam pemijahan : mempunyai luas 400 m2. Kedalaman air 100 cm. Debit air minimum 1 liter perdetik.
·         Kolam penampungan larva : mempunyai luas 200-500 m2. Kedalaman air 50-70 cm. Debit air minimum 1 liter perdetik.
·         Kolam pendederan : Bentuk dan luas kolam atau lahan disesuaikan dengan keadaan areal setempat. Keadaan airnya relatif dangkal. Konstruksi kolam adalah kolam tanah atau areal sawah yang dilengkapi dengan caren di sepanjang sisi pematang atau arah diagonal. Letak kolam atau lahan pendederan dekat dengan kolam induk.
b.         Peralatan
            Peralatan yang digunakan dalam usaha pembenihan ikan Nila menurut Wiryanta et al. (2010), yaitu :
-          Hapa 2 x 2 x 1 m3 (mesh ukuran 1 – 1,5 mm);
-          Seser benih 0,2 x 0,4 m2 (mesh ukuran 1 – 1,5 mm);
-          Ember plastik;
-          Scoop net dan lambit;
-          Bak/kolam/corong penetasan telur
-          Aerator, water heater.
c.         Sumber air
            Sumber air yang digunakan yaitu sumber air yang bersih dan tidak tercemar. Suhu air yang masih bisa ditolerir ikan nila adalah 15-37 °C. Suhu optimum untuk pertumbuhan nila yaitu 25-30 °C. Sementara untuk pemijahan, suhu ideal untuk bisa menghasilkan telur dan larva adalah 22-37 °C. Ikan nila sebaiknya hidup di air dengan kadar oksigen terlarut lebih dari 3 ppm. pH yang ideal yaitu 7. Salinitas yang baik yaitu 25 ppm. Kandungan karbon dioksida maksimum 5 mg/liter. Kadar ammonia terlarut dalam air kurang dari 0,1 mg/liter.
­d.         Pakan, meliputi pakan alami dan pakan buatan (pellet).
            Pakan alami ini diberikan untuk larva-larva ikan nila. Bukaan mulut ikan nila yang masih kecil sehingga perlu pakan alami. Disamping itu kandungan protein yang besar pada pakan alami dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. Menurut Djarijah (1995), kriteria pakan alami yang dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai sumber makanan antara lain :
a.              Bentuk dan ukuran sesuai dengan bukaan mulut ikan pemakannya.
b.             Mudah dibudidayakan secara massal.
c.              Memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan lengkap.
d.             Isi sel padat dengan dinding sel tipis sehingga mudah dicerna oleh ikan.
e.              Cepat berkembangbiak dan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan.
f.              Tidak menghasilkan senyawa yang beracun.
g.             Gerakannya menarik ikan tetapi tidak terlalu aktif sehingga mudah ditangkap ikan.
Pakan buatan biasanya ditambahkan saat-saat menjelang panen. Selain itu, pemberian pakan tambahan berguna untuk meningkatkan pertumbuhan larva. Fungsi lainnya adalah untuk menambah ketahanan tubuh. Hal ini diperkuat oleh Cahyadi (2005),  Larva yang masih berada dalam asuhan induk tidak memerlukan pakan tambahankarena masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sampai larva berumur kurang lebih 11 hari. Sedangkan benih yang telah ditebar di kolam pendederan diberi pakan tambahan berupa pellet halus dengan dosis 5 % dari biomass per hari. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pagi hari pukul 08.00 WIB dan siang hari pukul 12.00 WIB.
e.         Pupuk dan obat-obatan
            Menurut Cahyadi (2005), Pemupukan kolam bertujuan untuk menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan makanan alami seperti fitoplankton dan zooplankton. Pemupukan dengan pupuk organik ini selain dapat menumbuhkan pakan alami, juga dapat juga membentuk lumpur sehingga mengurangisifat porus tanah dasar kolam. Serangan hama dan penyakit pada usaha pembenihan tidak dapat diabaikan, hal iniakan mengganggu proses produksi benih dan berpengaruh pada hasil produksi benih.Selain upaya pencegahan terhadap timbulnya penyakit, diperlukan juga langkah pemberantasan atau pengobatan bila terjadi serangan penyakit atau hama. Oleh karena itu diperlukan persediaan berbagai macam obat-obatan. Beberapa macam obat yangsering digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila citra lada antara lain KaliumPermanganat (KMnO4), Methylene biru (Methyline Blue), dan NaCl (garam dapur) serta minyak tanah.

1.2.      Prasarana
   Prasarana merupakan alat yang tidak harus ada namun menunjang sarana pembenihan, sehingga dapat berjalan dengan maksimal.
a.         Daya listrik dan komunikasi
   Listrik tentu saja sangat dibutuhkan untuk menjalankan berbagai alat di pembenihan. Sedangkan alat komunikasi sangat dibutuhkan untuk berkomunikasi dan menyebarkan berita dan mempromosikan.
b.         Jalan dan Transportasi
   Jalan yang berada pada wilayah pembenihan haruslah layak dan tembus ke berbagai akses penting. Sedangkan transportasinya harus yang bisa digunakan untuk mengangkut benih-benih yang akan dijual.
c.         Sistem penyedia air
   Air merupakan unsur yang paling penting dalam pembenihan. Air merupakan tempat ikan untuk dapat bertahan hidup. Oleh karena dilakukan sistem penyedia air yang baik. Hal ini diperkuat oleh Susanto (1986), pada sistem paralel tiap kolammendapat air dari saluran pembagi bukan dari kolam lain sehingga dihindarkan dariadanya kontaminasi dan penularan penyakit. Sistem paralel juga memungkinkan adanyakemudahan dalam pergantian air serta menjamin kelangsungan produksi tanpa salingmenggantungkan diri satu dengan lainnya.
d.         Saluran pemasukan air (inlet)
   Saluran dimana air masuk kedalam kolam. Aliran airnya harus diatur dan disaring. Hal ini diperkuat oleh Cahyadi (2005), saluran pemasukan air terdiri dari dua macam yaitu saluran utama dan saluran pembagi. Saluran utama memiliki ukuran lebar atas 80 cm, lebar bawah 50 cm,Ketinggian 30 cm dan berhubungan langsung dengan sumber air kolam yaitu salurandari sungai Opak. Sedangkan saluran pembagi berukuran lebar atas 50 cm, lebar bawah 20 cm, ketinggian 20 cm dan berfungsi mendistribusikan air ke setiap petakan kolam.
e.         Saluran pembuangan air (outlet)
Saluran dimana air dikeluarkan dari kolam. Dimana air yang dikeluarkan mengandung banyak limbah. Hal ini diperkuat oleh Cahyadi (2005), Saluran pembuangan harus mampu menampung buangan air dari kolam dan harus berhubungan langsung dengan jaringan drainase di luar unit perkolaman. Saluran pembuangan berbentuk trapesium dengan ukuran lebar atas 100 cm, lebar bawah 70 cmdan kedalaman 150 cm.
f.          Gudang, untuk menyimpan pakan, alat-alat, dan obat-obatan.
g.         Laboratorium, untuk melakukan uji hasil.
h.         Toilet/dapur, untuk tempat memasak dan mencuci alat pembenihan.




II.               TEKNIK PEMBENIHAN

2.1.            Persiapan kolam
            Wiryanta (2010) menyatakan bahwa dalam memijahkan ikan nila dibutuhkan minimal dua kolam yakni kolam pemijahan dan kolam pendederan. Kolam pemijahan digunakan untuk memijahkan indukan. Sementara kolam pendederan digunakan sebagai tempat memelihara larva hingga siap tebar ke kolam pembesaran.
a.         Pengeringan   
·         Kolam dikeringkan selama minimal 1 minggu untuk mencegah adanya hama, penyakit, dan jamur. Pengeringan juga dapat mempermudah dalam perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam dan pembuatan kemalir. Pengeringan dilakukan selama beberapa hari tergantung cuaca. Pada umumnya pengeringan dilakukan selama 2-4 hari sampai pengeringan dianggap cukup dengan kondisi tanah dasar yang sudah terlihat retak-retak.
·         Mencangkul lahan dengan cara membalik lumpur untuk membantu mematikan hama diseluruh bagian, khususnya dasar kolam yang berlumpur.
b.         Perbaikan Pematang
   Kondisi kolam yang telah lama digunakan biasanya akan mengalami kerusakanterutama kebocoran pematang. Jika perbaikan ini tidak dilakukan maka akan timbul masalah seperti kesulitan dalam mempertahankan tinggi air dan benih dapat terbawaarus ke luar kolam. Perbaikan pematang dilakukan dengan penutupan sisi bagian dalam pematang dengan tanah dasar kolam. Bila terjadi kebocoran yang parah maka pematangsebaiknya dibongkar pada bagian yang bocor kemudian ditutup kembali dengan tanah.
c.         Pengapuran
   Pengapuran dilakukan dengan tujuan untuk menetralkan pH tanah serta membunuh hama dan penyakit yang ada di kolam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur tohor (CaO) dengan dosis 20 gram/m atau 100 gr per m2. Pengapuran dilakukan dengan menebarkan kapur secara merata ke seluruh dasar kolam.Setelah pengapuran dilakukan, kemudian kolam dapat diairi dengan ketinggian yang berbeda pada setiap kolam. Untuk kolam pemijahan ketinggian air antara 50-70 cm, sedangkan untuk kolam pemeliharaan larva dan pendederan ketinggian antara 30-50 cm.Kemudian didiamkan selama 3-5 hari untuk memberi kesempatan tumbuhnya pakanalami dalam kolam.
d.         Pemupukan
   Pemupukan bertujuan untuk menyuburkan tanah dasar kolam, sehingga organisme sebagai pakan alami dapat tumbuh dengan baik. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk kandang dari kotoran sapi, ayam, atau puyuh dengan dosis 250 gram per m2. Pupuk ditebar di lahan, lalu dicangkul hingga mendapatkan ketebalan lumpur sekitar 20 cm.
2.2.      Pemilihan induk
   Amri dan Khairuman (2003) menyebutkan ciri-ciri induk ikan nila jantan dan betina dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Ciri-Ciri Induk Nila Jantan dan Induk Nila Betina
Ciri-ciri
Induk jantan
Induk betina
Bentuk tubuh
Lebih tinggi dan membulat
Lebih rendah dan memanjang
Warna tubuh
Lebih cerah
Lebih gelap
Jumlah lubang kelamin
Satu lubang (untuk pengeluaran sperma sekaligus air seni)
Dua lubang :
-lubang untuk pengeluaran telur dan
-     lubang pengeluaran air seni
Bentuk kelamin
Tonjolan agak mruncing
Tidak meruncing (membulat)
   Menurut Wiryanta (2010), syarat indukan ikan nila yang baik yaitu :
-          Induk jantan dan betina harus sehat dan matang gonad. Cirinya berumur 4-5 bulan, tubuuh tidak cacat, tidak ada kelainan bentuk, organ tubuh lengkap, sisik teratur, perilaku normal, tubuh bebas parasit, insang bersih, tutup insang normal, berlendir normal, serta pada betina perutnya membesar dan urogenitalnya berwarna merah.
-          Bobot tubuh induk jantan minimum 250 gram dan betina minimum 200 gram/ekor. Panjang standar indukan jantan 25 cm, betina 22 cm.
-          Kondisi sisik besar dan kasar (ctenoid), pola sisik yang normal.
-          Perbandingan tinggi terhadap panjang standar indukan 1 : 2,1 hingga 1 : 2,7.

2.3.      Pemeliharaan Induk
   Untuk pematangan gonad, ikan nila bisa dipelihara dalam kolam terpisah dengan padat tebar 1-3 ekor/m2. Pernyataan ini didukung oleh Murtidjo (2001), induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam pemeliharaan induk secara terpisah untuk menghindari terjadinya pemijahan liar selama pemeliharaan serta mengistirahatkan induk setelah masa pemijahan. Induk diberi pakan dengan kandungan protein 20 - 30%. Setelah 20-30 hari lebih dari 75% ikan sudah matang gonad siap pijah.
Beberapa cara untu mempercepat pematangan gonad pada indukan yaitu :
-          Penambahan vitamin E pada pakan
-          Penambahan kadar protein pada pakan
-          Manipulasi lingkungan : suhu, cahaya. Seperti menyurutkan volume air untuk menaikkan suhu, dan menaikan volume air untuk menurukan suhu.

2.2.          Pemijahan induk
   Induk nila yang telah matang gonad dimasukkan dalam kolam pemijahan segera setelah kolam dipersiapkan dan telah diisi air. Jumlah induk yang ditebarkan dalam kolam pemijahan tergantung dari luas kolam. Biasanya kolam dengan luas 400 m2 diisi satu paket induk sebanyak 100 jantan dan 300 betina. Kepadatan induk yang ditebar pada kolam pemijahan yang optimal adalah 1 ekor/ m, dengan perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:3. Pemijahan terjadi secara alami. Diberikan pakan pellet komersial sebesar 3% perhari.
   Setelah 3-5 hari, induk jantan biasanya akan membuat sarang di dasar kolam. Sarangnya berbentuk cekungan sebesar badan induk betina. Setelah itu induk betina akan mendatangi sarang yang sudah dibuat. Tidak lama kemudian induk betina akan bertelur dan segera dibuahi oleh pejantan. Pemijahan terjadi setelah kira-kira 7-10 hari sejak penebaran induk. Hal ini diperkuat oleh Djarijah (1995)           , bahwa dalam kondisi normal pemijahan terjadi padahari ke-6 hingga hari ke-7 setelah penebaran induk. Proses pemijahan biasanya terjadi dalam waktu 60 menit untuk 1 pasang indukan. Telur yang dihasilkan per pasang dapat mencapai 2000 butir telur. Telur yang terbuahi akan berwarna kuning cerah. Sedangkan telur yang tak terbuahi akan berwarna putih pucat. Jumlah induk betina yang memijah 30-50% dari populasi yang dipijahkan.
   Setelah telur terbuahi, induk betina akan menangkap telur-telur tersebut untuk dierami di dalam mulutnya. Selama mengerami telur-telurnya induk betina tidak makan (puasa). Telur akan menetas menjadi larva dalam waktu 6 hari kemudian menjadi larva yang berenang aktif. Larva yang telah menetas akan bertahan hidup dengan cadangan makanan yaitu kuning telur dalam waktu 5-7 hari. Pemanenan atau pengambilan larva dilakukan pada hari ke-10 dan ke-15 setelah proses pemijahan. Waktu yang tepat untuk pemanenan adalah pukul 06.00 – 08.00. Saat yang tepat untuk mengambil larva yaitu waktu larva disemburkan keluar dari mulut indukan. Pemanenan dilakukan menggunakan scoop net. Lalu ditampung di ember. Setelah itu bersihkan kotoran atau larva yang mati. Lalu pindahkan larva ke hapa dan setelah 3-5 hari pindahkan ke kolam pendederan untuk dipelihara lebih lanjut.




III.    PEMELIHARAAN LARVA

            Pendederan merupakan proses memelihara larva hingga memenuhi kriteria benih sesuai ukuran yang diinginkan. Kolam pendederan dapat menggunakan kolam untuk pembesaran atau bekas kolam pemijahan. Terlebih dahulu dilakukan pengolahan kolam seperti mengeringkan, mencangkul, memperbaiki dasar kolam, memupuk, dan mengairi kembali. Setelah itu, kolam perlu dibiarkan selama 5 hari sebelum ditebar benih.
3.1.       Pendederan I
Pendederan I merupakan pemeliharaan larva sampai berumur 21-28 hari dan menghasilkan benih nila dengan ukuran 3-5 cm. Selama pendederan I benih ikan nila diberi pakan sebanyak 3 kali sehari pagi, siang, sore, berupa pellet halus dengan protein 10-15% dari bobot biomassa. Pemanenan benih dilakukan menggunakan jaring/hapa, lalu dilakukan grading berdasarkan ukuran. Panen dilakukan pada benih ukuran 3-5 cm, yang lainnya dibiarkan di kolam untuk dibudidayakan sesuai ukurang yang diinginkan.
3.2.       Pendederan II
Pendederan II merupakan pemeliharaan larva selama 21-28 hari setelah P1, untuk menghasilkan ukuran benih 5-7 cm. Diberikan pakan 3x sehari sehari pagi, siang, sore, berupa pellet yang mengandung protein 7,5 – 10 % dari bobot biomassa. Menurut Wiryanta (2010) presentase mortalitas pada pendederan II biasanya sekitar 20%.
3.3.       Pendederan III
      Pendederan III / terakhir merupakan pemeliharaan larva selama 21-28 hari setelah P2, untuk menghasilkan ukuran benih gelondongan atau 10-12 cm. Diberikan pakan 3x sehari sehari pagi, siang, sore, berupa pellet yang mengandung protein 5 % dari bobot biomassa. Menurut Wiryanta (2010) benih ini dapat ditebar di kolam jaring apung atau tambak air payau.




IV.    PEMANENAN DAN PEMASARAN

4.1.       Pemanenan
            Metode panen pada benih adalah proses pengambilan benih yang telah siap tebar untuk selanjutnya dapat di lakukan pembesaran. Pemanenan dapat dengan membukan saluran outlet wadah pemeliharaan larva atau dengan cara mengambil larva dengan menggunakan serokan. Waktu yang baik untuk memanen benih adalah pada pagi hari sekitar jam 6 dan sore hari sebelum magrib. Menurut Mahyuddin, (2009), metode yang digunakan yaitu menyurutkan air kolam sedikit demi sedikit sampai air hanya tersisa di kemalir atau kowen (kobakan/lubang kecil di sudut kolam). Benih yang terkumpul ditangkap secara hati-hati dan dimasukkan ke ember, kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara berupa hapa atau waring yang dipasang di kolam. Lalu dilakukan sortis dan dimasukkan ke wadah pengangkutan. Benih terlebih dahulu diberokan / dipuasakan sebelum dikirim.
4.2.    Pemasaran
Pembeli akan datang sendiri untuk membeli maupun mengambil pesanan benih. Biasanya kebutuhan akan benih meningkat pada musim penghujan dan turun pada musim kemarau. Benih dengan ukuran 3-5 cm dijual dengan harga Rp 40,- per ekor.
4.3.    Pengangkutan
Pengangkutan hasil panen dapat dengan menggunakan angkutan darat, udara, maupun laut. Setelah benih dipanen, dimasukkan dalam wadah penampungan atau hapa. Langkah selanjutnya yaitu di sortir dan di grading berdasarkan ukuran benih yang dihendaki. Sortir bertujuan untuk memilih benih yang baik dan meyeragamkan kualitas. Grading yaitu menggolongkan benih dalam criteria ukuran tertentu berdasarkan cm atau gr. Menurut Mahyuddin (2009) cara pengangkutan dibagi menjadi 2 yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka.
Sistem pengangkutan terbuka à menggunakan wadah berupa jerigen/drum, dimana air bersinggungan langsung dengan udara. Benih yang dipanen biasanya ukuran wadah korek api. Diisi air sebanyak 2/3 bagian. Air yang digunakan diendapkan terlebih dahulu 1 hari untuk menghindari gas-gas beracun yang ada. Wadah diletakkan dalam posisi horizontal. Drum plastik biasanya berukuran 200 liter.
Sistem pengangkutan tertutup à menggunakan kantong plastik secara tertutup sehingga tidak ada singgungan antara air dan udara. Kebutuhan oksigen dilakukan dengan mengisi oksigen murni ke dalam kantong plastik. Sistem ini memberikan efisiensi yang relative tinggi pada jarak dan waktu tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan dalam sistem pengangkutan tertutup adalah sebagai berikut.
A.      Potong kantong plastik sepanjang 90-100 cm. Jumlahnya tergantung dari banyaknya benih yang akan dikemas dan diangkut.
B.       Ikat ujung plastik dan masukkan bagian yang telah diikat ke bagian lainnya sehingga akan berbentuk kantong.
C.       Isi kantong plastik dengan air bersih sebanyak 1/3 bagian.
D.      Masukkan benih yang akan diangkut ke dalam kantong plastik. Kepadatan benih dalam plastik tergantung ukurannya. Sebelum diangkut benih dipuasakan beberapa jam untuk mengeluarkan kotoran selama pengangkutan.
E.       Buang udara ‘palsu’ yang masih terdapat di dalam kantong, lalu masukkan oksigen dari tabung dengan sedang kecil sampai tersisa bagian untuk mrngikat plastik.
F.        Ikat plastik dengan karet gelang sampai rapat, lalu benih siap diangkut.
G.      Masukkan kantung plastik dalam alat pengangkutan dengan posisi membujur / ditidurkan.



DAFTAR PUSTAKA

Amri, K dan Khairuman. 2003.Budidaya Ikan Nila Secara Intensif .Jakarta :          Agromedia.
Cahyadi, Langgeng. 2005. Teknik Pembenihan Ikan Nila Citra Lada (Oreochromis sp.) di Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Praktek Kerja Lapang Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan. Malang : Universitas Brawijaya.
Djarijah, A.S. 1995.Nila Merah, Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif.        Yogyakarta : Kanisius.
Mahyudin, Kholish. 2008. Panduan lengkap Agribisnis Lele. Jakarta : Penebar       Swadaya.
Murtidjo, B.A. 2001.Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta : Kanisius.

Wiryanta, B. T. W., Sunaryo, Astuti, Kurniawan, W.B. 2010. Budidaya dan Bisnis Ikan Nila. Jakarta : PT Agromedia Pustaka.




--26--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar