Halaman

Kamis, 30 Oktober 2014

PEMBENIHAN ALAMI IKAN KAKAP

MAKALAH
PEMBENIHAN ALAMI IKAN KAKAP
TUGAS DASAR-DASAR TEKNOLOGI MANAJEMEN DAN BUDIDAYA PERAIRAN

                                               
                                                Oleh:
   Kelompok 5 / BDP
                        NINDIYA NASTITI                        26010213140072
                        ARDYANA RAHMA H.                 26010213190062
                        NURUL AZIZ                                   26010213140066
                        MUHAMMAD ARMAN W.           26010213190068
                        FITRIA ASTRIANI                         26010213140069


 











FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014





I.       PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara penting dalam produksi perikanan di seluruh belahan dunia. Posisi yang sangat strategis yaitu dari potensi perikanan budidaya. Baik budidaya air tawar maupun budidaya air laut. Cina merupakan negara produsen perikanan budidaya terbesar di dunia pada saat sekarang ini. Untuk meningkatkan produksi budidaya di Indonesia diperlukan modal dan sumber daya manusia yang ahli.
Ikan Kakap merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah dihasilkan dari usaha pemeliharaan (budidaya). Ikan Kakap sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ikan kakap merah dan ikan kakap putih.
Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup. Dalam mengatasi masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan FAO/UNDP melalui  Seafarming Development Project INS/81/008 dalam upaya untuk memproduksi benih kakap putih secara massal. Pada bulan April 1987 kakap putih telah berhasil dipijahkan dengan rangsangan hormon, namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam pemeliharaan larva. (Tarwiyah, 2001).
1.2    Permasalahan
Permasalahan yang diambil dalam pembuatan makalah ini yaitu bagaimana cara melakukan pemijahan alami pada ikan kakap.

1.3    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu mengetahui cara pemijahan alami pada ikan kakap.

II.    TINJAUAN PUSTAKA

Dari begitu banyak jenis ikan kakap di Indonesia ada tiga suku yang cukup di kenal oleh masyarakat, yakni suku Lutjanidae, Labotidae, dan Centropomidae. Ketiga suku ikan kakap ini hidup di alam yang berbeda beda. Suku Lutjanidae habitatnya di air laut, suku Labotidae habitatnya di air payau dan suku Centropomidae memiliki habitat yang luas yaitu dapat hidup di air laut, payau dan tawar. Menurut Dirjen Perikanan (1992), di Indonesia ada beberapa jenis ikan kakap, diantaranya ikan kakap merah (Luthanus sanguneus) atau blood snapper dan ikan kakap putih (Lates calcarifer) atau sea bass. Ikan Kakap putih dan Ikan Kakap merah di Indonesia biasanya hanya disebut ikan kakap, menurut taksonominya kedua jenis ini jelas berbeda. Kakap Putih berasal dari famili Centropomidae dan Kakap merah termasuk famili Lutjanidae. Sifat hidupnya pun diantara keduanya berbeda bila dibandingkan, Ikan Kakap Merah hanya hidup di Laut, sedangkan Kakap Putih selain dapat hidup dilaut juga di air tawar sehingga dapat dibudidayakan di KJA dan tambak. Pada beberapa daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal dengan beberapa nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).
2. 1.     Taksonomi
- Phillum          : Chordata
- Sub phillum : Vertebrata
- Class             : Pisces
- Subclass        : Teleostei
- Ordo                         : Percomorphi
- Family           : Lutjanidae, Labotidae, Centroponidae.
2.2 .     Morfologi
            Ikan kakap termasuk ikan buas, hal ini dapat di lihat dari bentuk mulutnya. Ikan kakap putih memiliki mulut yang lebar dengan gigi halus yang tajam. Rahang bawah ikan kakap lebih maju di bandingkan rahang atasnya. Itu membuktikan bahwa ikan kakap putih ini pemakan daging atau karnivora.
Ikan kakap juga seperti ikan lainnya memiliki sirip. Sirip ekor ikan kakap putih berbentuk bulat. Ikan kakap putih memiliki sirip punggung berjari jari keras, kuat dan kaku. Jari jari siripnya terdiri dari 3 jari keras dan 7-8 jari lunak pada sirip punggungnya. Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada menunjukkan ciri ciri khusus jika di bandingkan dengan ikan lainnya.
Dilihat dari matanya ikan kakap juga memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan ikan yang lainnya yang mempunyai mata berwarna hitam. Tubuh ikan kakap putih memanjang dan gepeng dengan pangkal sirip ekor melebar. Tulang rahang atas melewati mata sebelah belakang sedangkan rahang bawahnya lebih menonjol ke depan dari rahang atasnya. Bentuk kepala tirus ke depan. Warna tubuhnya perak keabuabuan sewaktu dewasa, pada waktu masih burayak warnanya gelap (1-2 bulan), kemudian akan terang setelah menjadi gelondongan (3-5 bulan). Ukuran maksimalnya dapat mencapai 170 cm
2.3.      Distribusi
            Ikan kakap adalah jenis ikan air laut. Namun ikan ini dapat hidup di  air payau dan air tawar yaitu ikan kakap putih. Ikan kakap akan menuju daerah habitat aslinya jika akan memijah yaitu pada salinitas 30-32 ppt. Telur yang menetas akan beruaya menuju pantai dan larvanya akan hidup di daerah yang bersalinitas 29-30 ppt. Semakin bertambah ukuran larvanya maka ikan kakap tersebut akan beruaya ke air payau.
Ikan kakap merah cukup banyak di perairan Indonesia dan selama ini dihasilkan dari operasi penangkapan laut. Selain melalui operasi penangkapan, produksi kakap merah dapat pula diperoleh melalui usaha budidaya. Namun sampai saat ini usaha budidaya ikan tersebut masih bergantung kepada hasil penangkapan di alam (Supriya dan Ruswantoro, 2011).
            Kakap Putih menyebar di daerah tropis dan subtropis daerah Pasifik Barat dan Samudera Hindia. Penyebaran ikan kakap putih di Indonesia terutama terdapat di pantai utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Samudera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Arafuru. Disamping memiliki penyebaran yang luas, ikan Kakap Putih mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap variasi kadar garam (euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang dapat menyebapkan ikan kakap dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun kolam air tawar. Setelah dewasa ikan akan bermigrasi ke muara sungai dengan keadaan kadar garam 25 – 30 per mil. Dalam kondisi air payau, gonad ikan akan berkembang dengan baik. Perkawinannya sangat dipengaruhi oleh peredaran bulan yakni pada permulaan bulan gelap atau bulan penuh bersamaan dengan datangnya air pasang (Dirjen Perikanan, 1992).
2.4 .     Kelamin
-  Pada waktu musim pemijahan membedakan jenis kelamin ikan kakap relatif lebih mudah dari pada saat tidak musim memijah.
-  Ikan Kakap jantan mempunyai moncong sedikit membengkok sedangkan yang  betina lurus.
-  Pada ukuran tubuh yang sama, ikan kakap putih betina mempunyai timbangan serta badan yang lebih berat.
 Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih langsing daripada betina.
-  Sisik-sisik yang berada di dekat lubang pembuangan (Kloaka), pada yang jantan lebih tebal daripada yang betina selama musim pemijahan.
-  Pada musim pemijahan bagian perut ikan betina relatif lebih besar kembung dari pada ikan jantan.
2.5.      Siklus Hidup dan Makanan
Siklus atau daur hidup kakap dimulai dari telur, kemudian menetas menjadi larva, tumbuh dan berkembang menjadi juvenil, gelondongan, ikan muda, dan dewasa. Telur yang di buahi akan menetas dalam waktu 12-14 jam setelah pembuahan (suhu air 30-32oC), sedangkan pada suhu 27oC telur yang dibuahi akan menetas setelah 17 jam. Pada stadia larva sampai juvenil, jenis makanannya adalah zooplankton seperti Rotifera, Acartia, Nauplii artemia, Copepoda, dan jenis lainnya. Pada stadia juvenil sampai gelondongan jenis makanannya adalah udang jambret, udang rebon ikan-ikan kecil, dan jenis krustase lainnya. Selanjutnya ikan-ikan mudan dan juga dewasa memakan berbagai jenis ikan dan udang, sehingga disebut predator oportunis atau kelompok ikan pemakan daging dan bahkan bersifat kanibal (Mayunar dan Genisa, 2002).



III.   PEMBAHASAN

Menurut Mayunar dan Genisa (2002), syarat-syarat untuk mendirikan suatu unit pembenihan ikan kakap yang baik antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Dekat pantai, terdapat air laut cukup bersih dan memenuhi syarat,tersedia sumber air tawar, serta bebas banjir, pasang dan abrasi.
2.      Terlindung dari angin dan gelombang yang kuat.
3.      Substrat perairan berkarang atau karang berpasir.
4.      Tersedia tenaga listrik, baik untuk operasional peralatan maupun penerangan.
5.      Prasarana jalan cukup baik untuk pemasaran hasil (benih).
6.      Tannah harus mampu menahan bobot bangunan atau memiliki bearing capacity di atas 5 ton/m2 .
7.      Lokasi haarus jauh dari daerah industri dan tempat pemukiman sehingga kemungkinan tercemar dapat dihindari.
8.      Elevasi lahan dapat menjamin aliran air buangan secara sempurna namun tidak terlalu tinggi dari sumber air laut.
Parameter kimia yang diperhatikan adalah salinitas dari air tambak. Air tambak yang cocok untuk budidaya kakap sekitar kisaran 10-30‰. Jadi, kondisi itu idealnya terletak di air payau atau air laut yang bercampur dengan air tawar atau sungai. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat keasaman air tambak (pH). Tanah dasar tambak yang cocok untuk budidaya kakap memiliki pH sekitar 7,5 – 8,5. Apabila pH air tambak terlalu rendah dapat dinetralkan dengan cara pengkapuran atau reklamasi. Faktor lain juga harus dipertimbangkan, oksigen terlarut, senyawa nitrogen, pospat, dan kandungan logam berat.

a. Sarana dan prasarana
Menurut Mayunar dan Genisa (2002), Bangunan utama dalam usaha pembenihan kakap putih terdiri dari tempat pemeliharaan induk dan pemijahan, pemeliharaan larva, budidaya jasad pakan, laboratorium, ruang generator, serta ruang pompa dan blower. Wadah pemeliharaan induk terbuat dari beton dengan kapasitas 30-50 m3 , bentuknya bulat dan tinggi 2,0-2,5 m. wadah pemeliharaan larva atau produksi benih dapat menggunakan fiberglass atau beton berbentuk persegi panjang atau bulat dengan volume 3-10m3 (tinggi 1,0 m). wadah budidaya jasad pakan (fitoplankton) dapat menggunakan fiberglass atau beton bervolume 3-10 m3 (bulat/persegi panjang) dan tinggi 1,0 m, sedangka wadah budidaya zooplankton sebaiknya berbentuk kerucut dengan volume 500-1000 1 atau lebih.
Bangunan dan tata ruang unit pembenihan harus dirancang sedemikian rupa dan harus disesuaikan dengan persyaratan higienis, fungsi, kapasitas produksi, serta kelancaran dan kemudahan kerja. Demikian juga mengenai ukuran masing-masing fasilitas, harus sesuai dengan kebutuhan atau tingkat produksi benih yang diinginkan.
b. Pemilihan benih
Sistem pembenihan kakap dapat dilakukan secara lengkap/utuh atau sepenggal (skala rumah tangga atau backyard hatchery). Pada skala utuh diperlukan biaya cukup besar untuk pengadaan lahan, induk, pakan, sarana pokok, serta prasarana dan pendukung lainnya. Lain halnya dengan pembenihan skala rumah tangga, satrana dan prasarana yang di butuhkan sangat sederhana dengan biaya kecil, sedangkan kebutuhan telur/larva untuk di pelihara sampai ukuran benih (35-40 hari) diperoleh dari pembenihan lengkap. Tahapan kegiatan pembenihan kakap secara lengkap meliputi pemilihan lokasi, pengadaan sarana dan prasarana, pengambilan air laut, dan operasional pembenihan.
Benih kakap yang berusia sekitar 30-45 hari harganya relatif mahal, namun tingkat kematiannya relatif kecil. Kematian pada benih dari Hatchery biasanya disebabkan jarak tempuh antara Hatchery dan tambak tempat ikan ditebar dan kemasan benih.
Pembesaran ikan kakap di tambak perlu dilakukan persiapan, diantaranya meliputi beberapa tahapan yaitu, pengeringan tambak, pengapuran, perbaikan pematang, penyiapan saluran air, serta pemasangan saringan air. Setelah tahapan tersebut di lakukan tambak di isi dengan air laut yang bersih. Ikan kakap yang telah di pelihara di dalam kolam pendederan selama 4 bulan dapat di pindahkan dan di besarkan di dalam tambak.


2.1.      Pemijahan
Induk ikan kakap dapat di pijahkan dengan tiga cara yaitu pemijahan alami, pemijahan dengan cara stripping, dan pemijahan dengan penyuntika hormon. Pemijahan dengan cara alami dan stripping adalah pemijahan yang tradisional dan mudah serta murah. Namun pemijahan pemijahan dengan cara penyuntikan hormon adalah pemijahan dengan cara modren dan memerlukan pengetahuan khusus. Yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu pemijahan secara alami :
Pemijahan secara alami
            Ikan kakap yang di peroleh dari penangkapan di alam di pelihara di dalam bak tempat pemijahan kira kira satu bulan sebelum musim pemijahan. Musim pemijahan biasanya terjadi di bulan Mei sampai Oktober. Perbandingan antara induk jantan dan betina adalah 1:1, air laut di dalam bak pemijahan harus mempunyai salinitas berkisar 28-32 ppt. Air di dalam bak pemijahan harus mengalir. Pergantian air dilakukan setiap hari dengan mengganti air sekitar 80-100%. Pakan yang diberikan kepada induk berupa ikan rucah dengan dosis kira kira 1% dari berat tubuh induk ikan kakap tersebut. Pemberian pakan dilakukan setiap pagi hari.
            Ikan kakap yang betina akan memisahkan diri dari kelompoknya. Ciri ciri induk ikan kakap betina yang matang gonad adalah perutnya membuncit dan selalu berenang di permukaan. Berbeda dengan induk ikan kakap betina yang kurang aktif, induk kakap jantan lebih aktif dan bergerombol.
Pemijahan yang dilakukan didalam bak pemijahan sama seperti di alam yaitu berlangsung dari bulan Mei sampai dengan Oktober. Masa pemijahan di dalam bak lebih lama yaitu dari jam 19.00 – 23.00 pada bulan purnama sampai 8 hari berikutnya. Induk ikan kakap yang jantan dan betina akan berenang bersama sama kemudian induk betina akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi oleh induk jantan. Telur yang telah di buahi oleh induk jantan akan mengapung di permukaan air. Telur yang tidak dibuahi akan tenggelam di dasar bak. Salinitas yang cocok agar telur cepat menetas adalah 25-33 ppt. Telur akan menetas memerlukan waktu 12-28 jam.



IV.      KESIMPULAN

            Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini yaitu dalam pemijahan alami perbandingan antara induk jantan dan betina adalah 1:1, air laut di dalam bak pemijahan harus mempunyai salinitas berkisar 28-32 ppt, air di dalam bak pemijahan harus mengalir, pergantian air dilakukan setiap hari dengan mengganti air sekitar 80-100%, pakan yang diberikan kepada induk berupa ikan rucah dengan dosis kira kira 1% dari berat tubuh induk ikan kakap tersebut dan pemberian pakan dilakukan setiap pagi hari. Induk ikan kakap yang jantan dan betina akan berenang bersama sama kemudian induk betina akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi oleh induk jantan.











DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan. 1992. Budidaya Kakap Putih.  Jakarta

Mayunar dan Abdul Samad Genisa. 2002. Budidaya Ikan Kakap Putih. Grasindo. Jakarta.

Supriya dan Ruswantoro. 2011. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva Benih Kakap Merah Lutjanus argentimaculathus.


Tarwiyah. 2001. Paket Teknologi Pembesaran Ikan Kakap Putih ( Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar