MAKALAH
PEMBENIHAN ALAMI IKAN KAKAP
TUGAS DASAR-DASAR TEKNOLOGI MANAJEMEN DAN BUDIDAYA
PERAIRAN
Oleh:
Kelompok 5
/ BDP
NINDIYA
NASTITI 26010213140072
ARDYANA
RAHMA H. 26010213190062
NURUL
AZIZ 26010213140066
MUHAMMAD
ARMAN W. 26010213190068
FITRIA
ASTRIANI 26010213140069
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah
satu negara penting dalam produksi perikanan di seluruh belahan dunia. Posisi
yang sangat strategis yaitu dari potensi perikanan budidaya. Baik budidaya air
tawar maupun budidaya air laut. Cina merupakan negara produsen perikanan budidaya terbesar di dunia
pada saat sekarang ini. Untuk meningkatkan produksi budidaya di Indonesia diperlukan modal dan
sumber daya manusia yang ahli.
Ikan Kakap
merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia
sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa
saja diantarannya yang telah dihasilkan dari usaha pemeliharaan (budidaya). Ikan Kakap sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ikan
kakap merah dan ikan kakap putih.
Salah
satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap
di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah
yang cukup. Dalam mengatasi masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja
sama dengan FAO/UNDP melalui Seafarming Development Project
INS/81/008 dalam upaya untuk memproduksi benih kakap putih secara massal. Pada
bulan April 1987 kakap putih telah berhasil dipijahkan dengan rangsangan
hormon, namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam pemeliharaan
larva. (Tarwiyah, 2001).
1.2
Permasalahan
Permasalahan yang diambil dalam pembuatan makalah ini
yaitu bagaimana cara melakukan pemijahan alami pada ikan kakap.
1.3
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu mengetahui
cara pemijahan alami pada ikan kakap.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Dari begitu banyak jenis
ikan kakap di Indonesia ada tiga suku yang cukup di kenal oleh masyarakat,
yakni suku Lutjanidae, Labotidae, dan Centropomidae. Ketiga suku ikan kakap ini
hidup di alam yang berbeda beda. Suku Lutjanidae habitatnya di air laut, suku
Labotidae habitatnya di air payau dan suku Centropomidae memiliki habitat yang
luas yaitu dapat hidup di air laut, payau dan tawar. Menurut Dirjen
Perikanan (1992), di Indonesia ada beberapa jenis ikan kakap,
diantaranya ikan kakap merah (Luthanus
sanguneus) atau blood snapper dan ikan kakap putih (Lates calcarifer) atau sea bass. Ikan Kakap putih dan Ikan Kakap
merah di Indonesia biasanya hanya disebut ikan kakap, menurut taksonominya
kedua jenis ini jelas berbeda.
Kakap Putih berasal dari famili Centropomidae dan Kakap merah termasuk famili
Lutjanidae. Sifat hidupnya
pun
diantara keduanya berbeda bila dibandingkan, Ikan Kakap Merah hanya hidup di
Laut, sedangkan Kakap Putih selain dapat hidup dilaut juga di air tawar sehingga dapat dibudidayakan di
KJA dan tambak. Pada beberapa
daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal dengan beberapa nama seperti:
pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit tekong
(Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).
2.
1. Taksonomi
-
Phillum :
Chordata
-
Sub phillum : Vertebrata
-
Class : Pisces
-
Subclass :
Teleostei
-
Ordo : Percomorphi
-
Family :
Lutjanidae, Labotidae,
Centroponidae.
2.2 . Morfologi
Ikan kakap termasuk ikan buas, hal ini dapat di lihat dari bentuk mulutnya.
Ikan kakap putih memiliki mulut yang lebar dengan gigi halus yang tajam. Rahang
bawah ikan kakap lebih maju di bandingkan rahang atasnya. Itu membuktikan bahwa
ikan kakap putih ini pemakan daging atau karnivora.
Ikan kakap juga seperti ikan lainnya memiliki sirip. Sirip ekor ikan kakap
putih berbentuk bulat. Ikan kakap putih memiliki sirip punggung berjari jari
keras, kuat dan kaku. Jari jari siripnya terdiri dari 3 jari keras dan 7-8 jari
lunak pada sirip punggungnya. Sedangkan sirip yang lainnya tidak ada
menunjukkan ciri ciri khusus jika di bandingkan dengan ikan lainnya.
Dilihat dari matanya ikan kakap juga memiliki keunikan tersendiri. Berbeda
dengan ikan yang lainnya yang mempunyai mata berwarna hitam. Tubuh ikan kakap
putih memanjang dan gepeng dengan pangkal sirip ekor melebar. Tulang rahang
atas melewati mata sebelah belakang sedangkan rahang bawahnya lebih menonjol ke
depan dari rahang atasnya. Bentuk kepala tirus ke depan. Warna tubuhnya perak
keabuabuan sewaktu dewasa, pada waktu masih burayak warnanya gelap (1-2 bulan),
kemudian akan terang setelah menjadi gelondongan (3-5 bulan). Ukuran
maksimalnya dapat mencapai 170 cm
2.3. Distribusi
Ikan
kakap adalah jenis ikan air laut. Namun ikan ini dapat hidup di air payau dan air tawar yaitu ikan kakap
putih. Ikan kakap akan menuju daerah habitat
aslinya jika akan memijah yaitu pada salinitas 30-32 ppt. Telur yang menetas akan
beruaya menuju pantai dan larvanya akan hidup di daerah yang bersalinitas 29-30
ppt. Semakin bertambah ukuran larvanya maka ikan kakap tersebut akan beruaya ke
air payau.
Ikan kakap merah cukup banyak di perairan Indonesia dan selama ini
dihasilkan dari operasi penangkapan laut. Selain melalui operasi penangkapan,
produksi kakap merah dapat pula diperoleh melalui usaha budidaya. Namun sampai
saat ini usaha budidaya ikan tersebut masih bergantung kepada hasil penangkapan
di alam (Supriya dan Ruswantoro, 2011).
Kakap Putih menyebar di daerah tropis dan subtropis daerah
Pasifik Barat dan Samudera Hindia. Penyebaran ikan kakap putih di Indonesia
terutama terdapat di pantai utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Samudera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Arafuru. Disamping memiliki penyebaran yang luas, ikan Kakap Putih
mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap variasi kadar garam (euryhaline)
dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut).
Sifat-sifat inilah yang dapat menyebapkan ikan kakap dapat dibudidayakan di
laut, tambak maupun kolam air tawar. Setelah dewasa ikan akan bermigrasi
ke muara sungai dengan keadaan kadar garam 25 – 30 per mil. Dalam kondisi air
payau, gonad ikan akan
berkembang dengan baik. Perkawinannya sangat dipengaruhi oleh
peredaran bulan yakni pada permulaan bulan gelap atau bulan penuh bersamaan
dengan datangnya air pasang (Dirjen Perikanan, 1992).
2.4 . Kelamin
- Pada waktu musim pemijahan membedakan jenis
kelamin ikan kakap relatif lebih mudah dari pada saat tidak musim memijah.
- Ikan Kakap jantan mempunyai moncong sedikit
membengkok sedangkan yang betina lurus.
- Pada ukuran tubuh yang sama, ikan kakap putih
betina mempunyai timbangan serta badan yang lebih berat.
- Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih langsing
daripada betina.
- Sisik-sisik yang berada di dekat lubang
pembuangan (Kloaka), pada yang jantan lebih tebal daripada yang betina selama
musim pemijahan.
- Pada musim pemijahan bagian perut ikan betina
relatif lebih besar kembung dari pada ikan jantan.
2.5.
Siklus Hidup dan Makanan
Siklus
atau daur hidup kakap dimulai dari telur, kemudian menetas menjadi larva, tumbuh dan berkembang menjadi
juvenil, gelondongan, ikan muda, dan dewasa. Telur yang di buahi akan menetas
dalam waktu 12-14 jam
setelah pembuahan (suhu air 30-32oC), sedangkan pada suhu 27oC
telur yang dibuahi akan menetas setelah 17 jam. Pada
stadia larva sampai juvenil, jenis makanannya adalah zooplankton seperti Rotifera, Acartia, Nauplii artemia, Copepoda,
dan jenis lainnya. Pada
stadia juvenil sampai gelondongan jenis makanannya adalah udang jambret, udang
rebon ikan-ikan kecil, dan jenis krustase lainnya. Selanjutnya ikan-ikan mudan
dan juga dewasa memakan berbagai jenis ikan dan udang, sehingga disebut predator oportunis atau kelompok ikan
pemakan daging dan bahkan bersifat kanibal (Mayunar
dan Genisa, 2002).
III. PEMBAHASAN
Menurut Mayunar dan Genisa (2002), syarat-syarat untuk mendirikan suatu unit pembenihan ikan kakap yang
baik antara lain adalah sebagai berikut :
1.
Dekat
pantai, terdapat air laut cukup bersih dan memenuhi syarat,tersedia sumber air
tawar, serta bebas banjir, pasang dan abrasi.
2.
Terlindung
dari angin dan gelombang yang kuat.
3.
Substrat
perairan berkarang atau karang berpasir.
4.
Tersedia
tenaga listrik, baik untuk operasional peralatan maupun penerangan.
5.
Prasarana
jalan cukup baik untuk pemasaran hasil (benih).
6.
Tannah
harus mampu menahan bobot bangunan atau memiliki bearing capacity di atas 5 ton/m2 .
7.
Lokasi
haarus jauh dari daerah industri dan tempat pemukiman sehingga kemungkinan
tercemar dapat dihindari.
8.
Elevasi
lahan dapat menjamin aliran air buangan secara sempurna namun tidak terlalu
tinggi dari sumber air laut.
Parameter
kimia yang diperhatikan adalah salinitas dari air tambak. Air tambak yang cocok
untuk budidaya kakap sekitar kisaran 10-30‰. Jadi, kondisi itu idealnya
terletak di air payau atau air laut yang bercampur dengan air tawar atau
sungai. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat keasaman air tambak
(pH). Tanah dasar tambak yang cocok untuk budidaya kakap memiliki pH sekitar
7,5 – 8,5. Apabila pH air tambak terlalu rendah dapat dinetralkan dengan
cara pengkapuran atau reklamasi. Faktor lain juga harus dipertimbangkan,
oksigen terlarut, senyawa nitrogen, pospat, dan kandungan logam berat.
a. Sarana dan prasarana
Menurut Mayunar dan Genisa (2002), Bangunan utama dalam usaha pembenihan
kakap putih terdiri dari tempat pemeliharaan induk dan pemijahan, pemeliharaan
larva, budidaya jasad pakan, laboratorium, ruang generator, serta ruang pompa
dan blower. Wadah pemeliharaan induk terbuat dari beton dengan kapasitas 30-50 m3 , bentuknya bulat dan
tinggi 2,0-2,5 m. wadah pemeliharaan larva atau produksi benih dapat
menggunakan fiberglass atau beton berbentuk persegi panjang atau bulat dengan
volume 3-10m3 (tinggi 1,0 m). wadah budidaya jasad pakan
(fitoplankton) dapat menggunakan fiberglass atau beton bervolume 3-10 m3 (bulat/persegi
panjang) dan tinggi 1,0 m, sedangka wadah budidaya zooplankton sebaiknya
berbentuk kerucut dengan volume 500-1000 1 atau lebih.
Bangunan
dan tata ruang unit pembenihan harus dirancang sedemikian rupa dan harus
disesuaikan dengan persyaratan higienis, fungsi, kapasitas produksi, serta
kelancaran dan kemudahan kerja. Demikian juga mengenai ukuran masing-masing
fasilitas, harus sesuai dengan kebutuhan atau tingkat produksi benih yang
diinginkan.
b. Pemilihan benih
Sistem pembenihan kakap dapat
dilakukan secara lengkap/utuh atau sepenggal (skala rumah tangga atau backyard
hatchery). Pada skala utuh diperlukan biaya cukup besar untuk pengadaan lahan,
induk, pakan, sarana pokok, serta prasarana dan pendukung lainnya. Lain halnya
dengan pembenihan skala rumah tangga, satrana dan prasarana yang di butuhkan
sangat sederhana dengan biaya kecil, sedangkan kebutuhan telur/larva untuk di
pelihara sampai ukuran benih (35-40 hari)
diperoleh dari pembenihan lengkap. Tahapan kegiatan pembenihan kakap secara
lengkap meliputi pemilihan lokasi, pengadaan sarana dan prasarana, pengambilan
air laut, dan operasional
pembenihan.
Benih kakap yang
berusia sekitar 30-45 hari harganya relatif mahal, namun tingkat kematiannya
relatif kecil. Kematian pada benih dari Hatchery
biasanya disebabkan jarak tempuh antara Hatchery
dan tambak tempat ikan ditebar dan kemasan benih.
Pembesaran
ikan kakap di tambak perlu dilakukan persiapan, diantaranya meliputi beberapa
tahapan yaitu, pengeringan tambak, pengapuran, perbaikan pematang, penyiapan
saluran air, serta pemasangan saringan air. Setelah tahapan tersebut di lakukan
tambak di isi dengan air laut yang bersih. Ikan kakap yang telah di pelihara di
dalam kolam pendederan selama 4 bulan dapat di pindahkan dan di besarkan di
dalam tambak.
2.1. Pemijahan
Induk ikan kakap dapat
di pijahkan dengan tiga cara yaitu pemijahan alami, pemijahan dengan cara
stripping, dan pemijahan dengan penyuntika hormon. Pemijahan dengan cara alami
dan stripping adalah pemijahan yang tradisional dan mudah serta murah. Namun
pemijahan pemijahan dengan cara penyuntikan hormon adalah pemijahan dengan cara
modren dan memerlukan pengetahuan khusus. Yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu pemijahan
secara alami :
Pemijahan secara alami
Ikan
kakap yang di peroleh dari penangkapan di alam di pelihara di dalam bak tempat pemijahan
kira kira satu bulan sebelum musim pemijahan. Musim pemijahan biasanya terjadi
di bulan Mei sampai Oktober. Perbandingan antara induk jantan dan betina adalah
1:1, air laut di dalam bak pemijahan harus mempunyai salinitas berkisar 28-32 ppt. Air di dalam bak
pemijahan harus mengalir. Pergantian air dilakukan setiap hari dengan mengganti
air sekitar 80-100%. Pakan yang diberikan kepada induk berupa ikan rucah dengan
dosis kira kira 1% dari berat tubuh induk ikan kakap tersebut. Pemberian pakan
dilakukan setiap pagi hari.
Ikan
kakap yang betina akan memisahkan diri dari kelompoknya. Ciri ciri induk ikan
kakap betina yang matang gonad adalah perutnya membuncit dan selalu berenang di
permukaan. Berbeda dengan induk ikan kakap betina yang kurang aktif, induk
kakap jantan lebih aktif dan bergerombol.
Pemijahan yang dilakukan didalam bak pemijahan sama seperti di alam yaitu
berlangsung dari bulan Mei sampai dengan Oktober. Masa pemijahan di dalam bak lebih
lama yaitu dari jam 19.00 – 23.00 pada bulan purnama sampai 8 hari berikutnya.
Induk ikan kakap yang jantan dan betina akan berenang bersama sama kemudian
induk betina akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi oleh induk jantan. Telur
yang telah di buahi oleh induk jantan akan mengapung di permukaan air. Telur
yang tidak dibuahi akan tenggelam di dasar bak. Salinitas yang cocok agar telur
cepat menetas adalah 25-33 ppt. Telur akan menetas memerlukan waktu 12-28 jam.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah
ini yaitu dalam pemijahan alami perbandingan antara induk
jantan dan betina adalah 1:1, air laut di dalam bak pemijahan harus mempunyai salinitas
berkisar 28-32 ppt, air di dalam bak
pemijahan harus mengalir, pergantian air dilakukan setiap hari dengan mengganti air sekitar 80-100%, pakan yang diberikan
kepada induk berupa ikan rucah dengan dosis kira kira 1% dari berat tubuh induk
ikan kakap tersebut dan pemberian pakan dilakukan setiap pagi hari. Induk ikan kakap yang jantan dan betina akan berenang
bersama sama kemudian induk betina akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi
oleh induk jantan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan. 1992. Budidaya Kakap Putih. Jakarta
Mayunar dan
Abdul Samad Genisa. 2002. Budidaya Ikan
Kakap Putih. Grasindo. Jakarta.
Supriya dan Ruswantoro. 2011. Pemijahan
dan Pemeliharaan Larva Benih Kakap Merah Lutjanus argentimaculathus.
Tarwiyah.
2001. Paket Teknologi Pembesaran Ikan
Kakap Putih ( Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar