Halaman

Jumat, 27 Desember 2013

Cerpen Belati dan Hati

UNSUR INTRINSIK CERPEN “BELATI DAN HATI”
Lks halaman 56-58

·         Tema : Kesungguhan dan Kerelaan Cinta
Alasan : Demi cintanya pada seseorang, sang tokoh aku dalam cerpen ini merelakan dirinya berubah. Ia rela memotong rambut panjang juga kuku di tangan kanan dan kirinya. Dibuktikan pada kalimat “Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering.......”, dan “Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar.......” Hal ini menunjukkan rasa cinta yang sungguh-sungguh. Lalu kerelaan cinta dibuktikan pada kalimat “Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan”, dan “Hati kuberikan dengan kerelaan.....”
·         Amanat : Cintailah seseorang dengan tulus dari hati, bukan karena harta ataupun tubuhnya.
Alasan : Tokoh aku sangat mencintai wanita yang dicintainya walaupun ia tak punya apa-apa, hanya hati yang dapat ia berikan pada wanita itu. Dibuktikan pada kalimat “Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya......”
·         Alur : Maju
Alasan : Sesuai dengan runtutan/kronologi kejadian. Disini tokoh aku berusaha mengungkapkan rasa cintanya pada wanita yang dicintainya. Tokoh aku hanyalah seseorang yang apa adanya. Ia rela memberikan hatinya, dan melindungi wanita yang dicintainya, dan ia pun rela mengubah hidupnya demi wanita itu. Tetapi akhirnya tokoh aku pun tahu bahwa ia tak bisa memiliki wanita itu. Dan nantinya ia pun akan setia menunggu wanita itu di gerbang ruh-ruh abadi.
·         Penokohan :
1.      Aku :
-          Rendah hati à Tokoh ini tidak menyombongkan dirinya.
Bukti: “Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya.......”
-          Sabar à Ia rela menunggu wanita yang dicintainya, karena ia tahu bahwa saat ini ia belum bisa mendapatkannya.
Bukti: “Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya..” dan “Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.”
-          Relaà Ia rela memberikan hatinya pada wanita itu walaupun wanita itu tak bisa menerimanya.
Bukti: “Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu......”
-          Setia à Ia menunggu wanita yang dicintainya agar kelak bisa bersamanya.
Bukti: “Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.”
2.      Wanita :
-          Gila harta à Wanita itu tidak bisa menerima tokoh aku dan lebih mengharapkan orang lain yang punya harta banyak.
Bukti: “Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama perempuan-perempuan lain...”
·         Sudut pandang : Orang pertama pelaku utama. Karena dalam cerita pengarang menceritakan apa yang terjadi dalam dirinya dengan menggunakan tokoh aku. Tokoh “Aku” menceritakan segala konflik yang terjadi dalam dirinya, dan cara menyelesaikannya.
·         Latar :
1.      Waktu : -
2.      Tempat : -
3.      Suasana :
-          Mengharukan
Alasan : Tokoh aku sengat mencintai seorang wanita tetapi tak bisa memilikinya. Demi cintanya itu ia, rela merubah dirinya. Ia rela berubah menjadi lebih baik. Tetapi wanita itu tidak bisa menerimanya. Lalu tokoh aku pun akan setia menuggunya di gerbang ruh-ruh abadi.
-          Gundah
Alasan : “Sang Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran.
-          Bahagia
Alasan : “Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan.
·      Gaya bahasa : Banyak menggunakan majas, terutama majas repetisi. Repetisi dimaknai sebagai pengulangan. Tujuannya adalah untuk menegaskan sesuatu. Penegasan itu memiliki arti penting, sebab menceritakan begitu besar rasa cinta tokoh aku kepada seseorang yang dicintainya. Maka dalam cerpen ini, fungsi repetisi digunakan untuk menunjukkan kesungguhan cinta.
Bukti : “Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.

Kalimat panjang ini terdiri atas tiga kalimat, dan ditemukan kembali di beberapa paragraf berikutnya dengan varian berbeda. Setiap kalimat diberi tambahan lagi. Misalnya tambahan pada kalimat pertama kutipan di atas menjadi “Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar