ANALISIS BIOGRAFI TOKOH
1. Hal-hal yang menarik dan mengangumkan
Raden Mas
Oemar Said Tjokroaminoto, dilahirkan di Bakur, sebuah desa yang sunyi pada
tanggal 16 Agustus 1982 bertepatan dengan tahun meletusnya gunung Krakatau di
Banten. Peristiwa ini sering dikiaskan oleh orang Jawa bahwa gunung meletus itu
akan banyak menimbulkan perubahan terhadap alam di sekelilingnya. Peristiwa ini
pula yang kelak dikaitkan dengan meledaknya tuntutan H.O.S
Tjokroaminoto terhadap pemerintah kolonial Belanda ketika ia menjadi pemimpin
Sarekat Islam.
Ia terlahir dengan nama
kecil Oemar Said. Sesudah menunaikan ibadah haji ia meninggalkan gelar
keningratannya dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said
Tjokroaminoto atau lebih dikenal H.O.S Tjokroaminoto.
Tjokroaminoto
adalah seorang anak yang nakal dan pemberani, dan semasa di bangku
sekolah ia sering dikeluarkan dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain.
Walaupun demikian, karena kecerdasan otaknya, beliau dapat juga masuk ke
sekolah OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang
dan pada tahun 1902 ia berhasil menyelesaikan studinya disana. Tidak begitu
mengherankan sebenarnya beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA tersebut, karena
sudah menjadi tradisi anak-anak priyayi B.B. (Binnenland Bestuur)
disekolahkan oleh orang tuanya di Sekolah Ambtenar.
Ia dijodohkan oleh
orangtuanya dengan anak priyayi pula yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, puteri
seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo, yang
setelah menikah menjadi Raden Ayu Tjokroaminoto, dikenal sebagai seorang wanita
yang sangat halus budi pekertinya, baik perangainya, besar sifat pengampunannya
dan cekatan. Namun Tjokroaminoto
berselisih
dengan mertuanya yang bermula dari perbedaan pandangan di
antara keduanya. Tjokroaminoto tidak berhasrat menjadi seorang birokrat
sedangkan mertuanya menginginkan Tjokroaminoto menjadi
birokrat sebab mertuanya masih bersifat kolot dan cenderung elitis.
Sadar
akan kenyataan yang dihadapinya, Tjokroaminoto pun mengambil tindakan nekat.
Dia meninggalkan rumah kediaman mertuanya tersebut walaupun istrinya sedang
mengandung anak pertamanya. Hal ini menimbulkan
kemarahan bahkan kebencian mertuanya. Mangoensoemo memaksa Soeharsikin untuk
bercerai dengan Tjokroaminoto sebab kepergiannya telah mencoreng martabat dan
kehormatan keluarganya. Dihadapkan dengan situasi sulit ini, dengan
bekal keteguhan dan kecintaan sejak awal menikah, Soeharsikin secara
tegas tetap memilih suaminya, Tjokroaminoto.
Diantara banyak
pekerjaan yang dilakoninya, pekerjaan sebagai jurnalistik lah yang paling
disukainya. Beliau mengembangkan bakatnya dalam bidang itu dengan memasukkan
tulisan-tulisannya dalam berbagai surat kabar pada masa itu serta pernah
menjadi pembantu pada sebuah surat kabar di kota Surabaya, yaitu Suara
Surabaya.
Pada usia 35 tahun,
Tjokroaminoto mencapai puncak karirnya sebagai pemimpin Sarekat Islam selama
beberapa periode. Tetapi semua gerak langkahnya tidak akan berhasil, jika tidak
mendapat dukungan dari istri tercintanya. Tetapi tidaklah lama
Raden Ayu Soeharsikin dapat menyumbangkan darma baktinya kepada cita-cita
suaminya. Pada tahun 1921, beliau akhirya berpulang
ke Rahmatullah meninggalkan suami dan kelima anaknya.
Tjokroaminoto
amat terpukul dengan kepergiannya. Ia tidak hanya
kehilangan sosok seorang istri, tetapi juga kehilangan rekan seperjuangannya
yang paling mengerti dirinya. Namun betapa pun kedukaan itu melanda dirinya,
Tjokroaminoto tetap pada prinsip yang dipegangnya, berjuang untuk pembebasan
bangsanya dari belenggu penjajahan. Untuk itu ia tidak pernah berhenti sampai
pada akhir hayatnya.
Di
Surabaya ia mulai aktif berorganisasi dan menjadi ketua perkumpulan Panti
Harsoyo. Melalui H. Hasan Ali Surati, seorang
saudagar kaya dari India yang menjadi ketua Perkumpulan Manikem, Tjokroaminoto
diperkenalkan dengan empat pengurus SI yang sedang menjajaki pembukaan cabang
disana. Sejak itulah Tjokroaminoto menunjukkan ketertarikannya dan resmi
menjadi anggota SI untuk kemudian menjadi ketua cabang di Surabaya.
Ia
orang yang paling berpengaruh di Surabaya. Ia mengontrol Oetoesan Hindia dan
menjadi ’rajanya’ vergadering. Ia pun semakin kuat
menancapkan pengaruhnya dengan mengalahkan Hasan Ali Soerati, orang yang
mendirikan Setia Oesaha dan toko-tokonya, dan mengambil alih jabatan Soerati
sebagai direktur Setia Oesaha. Untuk memperluas pengaruh SI di bawah
kendalinya, ia mengumpulkan kawan-kawannya dan mendistribusikan jabatan pada
mereka. Rumah Tjokroaminoto sendiri secara de facto menjadi kantor SI
Surabaya dan kemudian menjadi kantornya CSI.
Di
tangan Tjokroaminoto-lah SI mengubah konsep pergerakannya dari pergerakan di
bidang ekonomi menjadi organisasi pergerakan nasional yang berorientasi sosial
politik dan kepemimpinannya beralih dari kelompok borjuis pribumi ke kaum
intelektual yang terdidik secara Barat. Bersama Agus Salim dan Abdul Moeis,
Tjokroaminoto saling bahu membahu membesarkan Sarekat Islam hingga menjadi
organisasi pergerakan pertama yang ’benar-benar’ berskala nasional. Tjokroaminoto,
Agus
Salim, dan Abdul dikenal sebagai ’Tiga Serangkai’
pejuang muslim yang amat disegani. Pada
awal
kepemimpinannya di SI, Tjokroaminoto cenderung masih bersikap kooperatif dan
lunak terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Ia mempunyai beberapa murid seperti Soekarno, S.M.
Kartosoewirjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Hamka, Alimin, Moesso.
Namun
yang istimewa, murid-muridnya ini dalam perkembangannya justru saling berbeda
dalam mengusung ideologi perjuangannya masing-masing. Soekarno menjadi seorang
kampiun nasionalis, Alimin dan Moesso memilih komunis, dan Kartosoewirjo kelak
menjadi pemimpin kaum fundamentalis Islam. Tetapi Alimin-Moesso bersama
Semaoen, Darsono, Misbach dan Mas Marco bersiteru dengan Tjokroaminoto yang
disokong oleh Salim, Moeis, dan Suryopranoto dalam kasus internal SI Semarang.
Alimin-Moesso bersama keempat rekannya tersebut yang mengkooptasi SI Semarang
sehingga menimbulkan perpecahan. Pada tahun 1920,
Moesso
bersama Alimin, Semaoen, Darsono, Marco, dan Misbach mendirikan PKI. Moesso-lah
orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemberontakan PKI 1926/1927 dan
kemudian diulanginya pada tahun 1948 di Madiun.
Tjokroaminoto
mengubah nama Sarekat Islam (SI) menjadi Partai
Sarekat Islam (selanjutnya disebut PSI) agar tetap mempertahankan
kepeloporannya dalam dunia pergerakan, dan bekerja
sama dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) untuk menggagas front
bersama yang membedakan ’kaum sana’ (penjajah) dengan ’kaum sini’ (terjajah).
Perkembangan
selanjutnya mulai menunjukkan indikasi ketidakharmonisan diantara dua
organisasi tersebut. Golongan nasionalis (PNI) yang
berada di bawah kendali Soekarno, terus menyerang PSI yang mengusung
ideologi Islam. Tjokroaminoto yang pada awalnya terlihat
diam mulai bangkit dan menyerang balik kelompok nasionalis.
Ia menuduh
di antara organisasi-organisasi lainnya, PNI-lah organisasi yang paling
berbahaya dan berusaha menghancurkan PSI.
Di
puncak popularitasnya Tjokroaminoto sampai disebut sebagai ‘Heru- Tjokro’,
simbol datangnya Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Ratu Adil ini dipercaya
akan membawa Jawa keluar dari kesengsaraan dan melepaskannya dari penjajahan.
Hal ini semakin diperkuat dengan adanya julukan yang disematkan pemerintah
kolonial kepadanya yaitu ‘de Ongekroonde van Java’ atau Raja Jawa yang
tidak bermahkota atau tidak dinobatkan. Dengan gelar yang
disematkan seperti itu maka amat wajar jika masyarakat memiliki ekspektasi yang
begitu besar terhadap Tjokroaminoto. Ia diyakini memiliki kemampuan atau
kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya.
2. Hal-hal
yang dapat diteladani
· Walaupun
Tjokroaminoto
adalah seorang anak yang nakal dan pemberani, tetapi ia
mempunyai otak
yang cerdas,
sehingga beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA (Opleidings
School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang dan berhasil menyelesaikan
studinya disana.
· Ketika
berselisih dengan mertuanya, Tjokroaminoto
tetap teguh pendirian dan tetap berpegang pada pemikirannya. Hal inilah yang
menjadikan Soeharsikin,
istrinya, untuk memilih pergi bersamanya dan meninggalkan orang tuanya.
· Ketika
istrinya meninggal, Tjokroaminoto tidak menyerah berjuang walaupun luka
itu amat mendalam. Ia tetap pada prinsip yang dipegangnya, berjuang untuk pembebasan
bangsanya dari belenggu penjajahan. Untuk itu ia tidak pernah berhenti sampai
pada akhir hayatnya.
· Tjokroaminoto
tidak gentar untuk menghadapi PKI di bawah pimpinan Moesso dan PNI di bawah
Soekarno, walaupun kedua tokoh itu merupakan murid yang dulu diajarnya. Ia tetap
memegang teguh prinsip PSI yang berazaskan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar