Halaman

Jumat, 27 Desember 2013

Biografi HOS Cokroaminoto

ANALISIS BIOGRAFI TOKOH

 1.    Hal-hal yang menarik dan mengangumkan

            Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto, dilahirkan di Bakur, sebuah desa yang sunyi pada tanggal 16 Agustus 1982 bertepatan dengan tahun meletusnya gunung Krakatau di Banten. Peristiwa ini sering dikiaskan oleh orang Jawa bahwa gunung meletus itu akan banyak menimbulkan perubahan terhadap alam di sekelilingnya. Peristiwa ini pula yang kelak dikaitkan dengan meledaknya tuntutan H.O.S Tjokroaminoto terhadap pemerintah kolonial Belanda ketika ia menjadi pemimpin Sarekat Islam.
            Ia terlahir dengan nama kecil Oemar Said. Sesudah menunaikan ibadah haji ia meninggalkan gelar keningratannya dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal H.O.S Tjokroaminoto. Tjokroaminoto adalah seorang anak yang nakal dan pemberani, dan semasa di bangku sekolah ia sering dikeluarkan dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain. Walaupun demikian, karena kecerdasan otaknya, beliau dapat juga masuk ke sekolah OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang dan pada tahun 1902 ia berhasil menyelesaikan studinya disana. Tidak begitu mengherankan sebenarnya beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA tersebut, karena sudah menjadi tradisi anak-anak priyayi B.B. (Binnenland Bestuur) disekolahkan oleh orang tuanya di Sekolah Ambtenar.
            Ia dijodohkan oleh orangtuanya dengan anak priyayi pula yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, puteri seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo, yang setelah menikah menjadi Raden Ayu Tjokroaminoto, dikenal sebagai seorang wanita yang sangat halus budi pekertinya, baik perangainya, besar sifat pengampunannya dan cekatan. Namun Tjokroaminoto berselisih dengan mertuanya yang bermula dari perbedaan pandangan di antara keduanya. Tjokroaminoto tidak berhasrat menjadi seorang birokrat sedangkan mertuanya menginginkan Tjokroaminoto menjadi birokrat sebab mertuanya masih bersifat kolot dan cenderung elitis. Sadar akan kenyataan yang dihadapinya, Tjokroaminoto pun mengambil tindakan nekat. Dia meninggalkan rumah kediaman mertuanya tersebut walaupun istrinya sedang mengandung anak pertamanya. Hal ini menimbulkan kemarahan bahkan kebencian mertuanya. Mangoensoemo memaksa Soeharsikin untuk bercerai dengan Tjokroaminoto sebab kepergiannya telah mencoreng martabat dan kehormatan keluarganya. Dihadapkan dengan situasi sulit ini, dengan bekal keteguhan dan kecintaan sejak awal menikah, Soeharsikin secara tegas tetap memilih suaminya, Tjokroaminoto.
            Diantara banyak pekerjaan yang dilakoninya, pekerjaan sebagai jurnalistik lah yang paling disukainya. Beliau mengembangkan bakatnya dalam bidang itu dengan memasukkan tulisan-tulisannya dalam berbagai surat kabar pada masa itu serta pernah menjadi pembantu pada sebuah surat kabar di kota Surabaya, yaitu Suara Surabaya.
            Pada usia 35 tahun, Tjokroaminoto mencapai puncak karirnya sebagai pemimpin Sarekat Islam selama beberapa periode. Tetapi semua gerak langkahnya tidak akan berhasil, jika tidak mendapat dukungan dari istri tercintanya. Tetapi tidaklah lama Raden Ayu Soeharsikin dapat menyumbangkan darma baktinya kepada cita-cita suaminya. Pada tahun 1921, beliau akhirya berpulang ke Rahmatullah meninggalkan suami dan kelima anaknya. Tjokroaminoto amat terpukul dengan kepergiannya. Ia tidak hanya kehilangan sosok seorang istri, tetapi juga kehilangan rekan seperjuangannya yang paling mengerti dirinya. Namun betapa pun kedukaan itu melanda dirinya, Tjokroaminoto tetap pada prinsip yang dipegangnya, berjuang untuk pembebasan bangsanya dari belenggu penjajahan. Untuk itu ia tidak pernah berhenti sampai pada akhir hayatnya.
Di Surabaya ia mulai aktif berorganisasi dan menjadi ketua perkumpulan Panti Harsoyo. Melalui H. Hasan Ali Surati, seorang saudagar kaya dari India yang menjadi ketua Perkumpulan Manikem, Tjokroaminoto diperkenalkan dengan empat pengurus SI yang sedang menjajaki pembukaan cabang disana. Sejak itulah Tjokroaminoto menunjukkan ketertarikannya dan resmi menjadi anggota SI untuk kemudian menjadi ketua cabang di Surabaya. Ia orang yang paling berpengaruh di Surabaya. Ia mengontrol Oetoesan Hindia dan menjadi ’rajanya’ vergadering. Ia pun semakin kuat menancapkan pengaruhnya dengan mengalahkan Hasan Ali Soerati, orang yang mendirikan Setia Oesaha dan toko-tokonya, dan mengambil alih jabatan Soerati sebagai direktur Setia Oesaha. Untuk memperluas pengaruh SI di bawah kendalinya, ia mengumpulkan kawan-kawannya dan mendistribusikan jabatan pada mereka. Rumah Tjokroaminoto sendiri secara de facto menjadi kantor SI Surabaya dan kemudian menjadi kantornya CSI.
Di tangan Tjokroaminoto-lah SI mengubah konsep pergerakannya dari pergerakan di bidang ekonomi menjadi organisasi pergerakan nasional yang berorientasi sosial politik dan kepemimpinannya beralih dari kelompok borjuis pribumi ke kaum intelektual yang terdidik secara Barat. Bersama Agus Salim dan Abdul Moeis, Tjokroaminoto saling bahu membahu membesarkan Sarekat Islam hingga menjadi organisasi pergerakan pertama yang ’benar-benar’ berskala nasional. Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul dikenal sebagai ’Tiga Serangkai’ pejuang muslim yang amat disegani. Pada awal kepemimpinannya di SI, Tjokroaminoto cenderung masih bersikap kooperatif dan lunak terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Ia mempunyai beberapa murid seperti Soekarno, S.M. Kartosoewirjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Hamka, Alimin, Moesso. Namun yang istimewa, murid-muridnya ini dalam perkembangannya justru saling berbeda dalam mengusung ideologi perjuangannya masing-masing. Soekarno menjadi seorang kampiun nasionalis, Alimin dan Moesso memilih komunis, dan Kartosoewirjo kelak menjadi pemimpin kaum fundamentalis Islam. Tetapi Alimin-Moesso bersama Semaoen, Darsono, Misbach dan Mas Marco bersiteru dengan Tjokroaminoto yang disokong oleh Salim, Moeis, dan Suryopranoto dalam kasus internal SI Semarang. Alimin-Moesso bersama keempat rekannya tersebut yang mengkooptasi SI Semarang sehingga menimbulkan perpecahan. Pada tahun 1920, Moesso bersama Alimin, Semaoen, Darsono, Marco, dan Misbach mendirikan PKI. Moesso-lah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemberontakan PKI 1926/1927 dan kemudian diulanginya pada tahun 1948 di Madiun.
Tjokroaminoto mengubah nama Sarekat Islam (SI) menjadi Partai Sarekat Islam (selanjutnya disebut PSI) agar tetap mempertahankan kepeloporannya dalam dunia pergerakan, dan bekerja sama dengan PNI (Partai Nasional Indonesia) untuk menggagas front bersama yang membedakan ’kaum sana’ (penjajah) dengan ’kaum sini’ (terjajah). Perkembangan selanjutnya mulai menunjukkan indikasi ketidakharmonisan diantara dua organisasi tersebut. Golongan nasionalis (PNI) yang berada di bawah kendali Soekarno, terus menyerang PSI yang mengusung ideologi Islam. Tjokroaminoto yang pada awalnya terlihat diam mulai bangkit dan menyerang balik kelompok nasionalis. Ia menuduh di antara organisasi-organisasi lainnya, PNI-lah organisasi yang paling berbahaya dan berusaha menghancurkan PSI.
Di puncak popularitasnya Tjokroaminoto sampai disebut sebagai ‘Heru- Tjokro’, simbol datangnya Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Ratu Adil ini dipercaya akan membawa Jawa keluar dari kesengsaraan dan melepaskannya dari penjajahan. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya julukan yang disematkan pemerintah kolonial kepadanya yaitu ‘de Ongekroonde van Java’ atau Raja Jawa yang tidak bermahkota atau tidak dinobatkan. Dengan gelar yang disematkan seperti itu maka amat wajar jika masyarakat memiliki ekspektasi yang begitu besar terhadap Tjokroaminoto. Ia diyakini memiliki kemampuan atau kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya.

2.    Hal-hal yang dapat diteladani
·     Walaupun Tjokroaminoto adalah seorang anak yang nakal dan pemberani, tetapi ia mempunyai otak yang cerdas, sehingga beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang dan berhasil menyelesaikan studinya disana.
·     Ketika berselisih dengan mertuanya, Tjokroaminoto tetap teguh pendirian dan tetap berpegang pada pemikirannya. Hal inilah yang menjadikan Soeharsikin, istrinya, untuk memilih pergi bersamanya dan meninggalkan orang tuanya.
·     Ketika istrinya meninggal, Tjokroaminoto tidak menyerah berjuang walaupun luka itu amat mendalam. Ia tetap pada prinsip yang dipegangnya, berjuang untuk pembebasan bangsanya dari belenggu penjajahan. Untuk itu ia tidak pernah berhenti sampai pada akhir hayatnya.

·     Tjokroaminoto tidak gentar untuk menghadapi PKI di bawah pimpinan Moesso dan PNI di bawah Soekarno, walaupun kedua tokoh itu merupakan murid yang dulu diajarnya. Ia tetap memegang teguh prinsip PSI yang berazaskan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar