Halaman

Minggu, 21 April 2013

Pidato Hari Kartini


Assalamualaikum Wr. Wb.
Yang terhormat Ibu Sri Endang Mulyaningsih, serta teman-teman kelas XII IPA 2 yang saya sayangi.
            Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga pada hari ini kita masih bisa berkumpul dan merasakan nikmat indahnya hidup.
            Teman-temanku, wanita sering dipandang sebagai simbol seks dan syahwat semata. Karena kemolekan dan keindahannya yang mampu menarik perhatian lawan jenisnya. Tetapi sesungguhnya peran wanita tak hanya sebatas pemuas nafsu lelaki, dan bukan pula sebatas pemberi keturunan saja, melainkan wanita juga memiliki peran dan andil besar dalam perjuangan pergerakan suatu bangsa. 
Dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia, kita tahu bahwa perjuangan bangsa ini tak lepas dari peran wanita. Nama-nama seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan R.A. Kartini, tentu sangat populer dengan kisah perjuangan besar mereka. Sebenarnya tak hanya mereka saja, masih banyak nama perempuan yang tercatat dalam sejarah sebagai wanita penggerak bangsa.
 
            Bung Karno dalam bagian akhir buku Sarinah, mengatakan bahwa: "...Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional.” Sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bung Karno tersebut, kaum perempuan hendaknya mengambil peran strategis dalam proses pembangunan. Untuk apa? Hal itu semata-mata agar kaum perempuan ikut memastikan arah gerak negara, sehingga kaum perempuan mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia yang mulia. Disamping itu hal ini akan mencerminkan suatu bentuk kesetaraan gender dalam pembangunan masa kini.
            Saya pernah membaca artikel tentang petuah-petuah Cut Nyak Dien kepada anak perempuannya, Gambang, yang dikutip dalam sebuah film berjudul “Tjoet Nja’ Dhien” pada 1988 lalu yang disutradarai oleh Eros Djarot. Dan salah satu petuah tersebut berbunyi : "Gambang, kau sudah semakin dewasa. Tanganmu begitu halus sehalus tanganku semasa gadis dulu,” kata Cuk Nyak Dien sembari memegang tangan putrinya. "Tangan ini kelak yang akan membelai suami dan anak-anakmu agar mereka dapat tertidur nyenyak. Dan tangan ini pula yang akan membangunkan mereka untuk dapat melihat dunia esok hari. Gambang, kau pun wajib mengingatkan mereka bahwa tanah dan alam negeri ini perlu dipelihara, dijaga, dan dipertahankan walau nyawa yang menjadi taruhannya." Tentu kita sebagai wanita dewasa harus mampu menangkap makna yang terkandung dalam petuah tersebut.

Teman-teman yang saya sayangi,
            Kalau melihat berita-berita tentang kekerasan pada perempuan di Indonesia saat ini, rasanya menyedihkan sekali, sangat ironis. Perlu kita ketahui sekali lagi, bahwa bangsa ini merdeka karena ada peran wanita di dalamnya. Jangan pernah berfikir kalau bangsa ini merdeka hanya karena ada sosok Ir. Soekarno ataupun Moh. Hatta saja. Ditengah banyaknya masalah kekerasan pada perempuan saat ini, sudah selayaknya kaum perempuan harus bangkit, kuat, mandiri, bijaksana, dan ikut andil dalam pembangunan negara Indonesia. Dan perlu diingat sekali lagi, bahwa wanita bukan semata-mata simbol syahwat, karena dibalik kelembutannya tersimpan ketangguhan yang mampu menggerakkan semangat sebuah bangsa untuk bangkit. Seperti kata pepatah, “Dibalik pria yang hebat selalu ada wanita yang hebat.”
            Demikian pidato yang dapat saya sampaikan. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Terima kasih atas perhatian teman-teman, dan saya mohon maaf apabila ada kekurangan. Sebagai penutup, saya ingat kata mutiara dari Margaret Thatcher yang berbunyi : “Dalam politik, jika Anda ingin sesuatu dikatakan, mintalah pada seorang pria. Tetapi jika Anda ingin sesuatu dilakukan, maka mintalah pada seorang wanita.”
Salam Kebangkitan Wanita Indonesia. 
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar