“Lulusan SMA cenderung meneruskan ke perguruan tinggi. Kuliah juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah lulus kuliah juga belum tentu bisa langsung kerja. Makanya saya bilang prospek SMK lebih bagus karena siswanya di didik menjadi tenaga kerja siap pakai. Istilahnya skill full.”
-Tantowi Yahya-
Masyarakat tentu sudah mengerti apa perbedaan SMA dengan SMK. Setiap orang pun akan menilai keduanya dari sudut pandang yang berbeda-beda. Sudut pandang yang biasa orang gunakan adalah dari segi prospek setelah lulus nantin dan kemampuan ekonomi tiap keluarga. Sekilas jika kita lihat anak-anak SMA cenderung berasal dari keluarga mampu, sedangkan anak-anak SMK adalah notabene dari kelurga menengah ke bawah.
Saya mempunyai tetangga bernama Ibu Sartimah. Pekerjaannya serabutan. Suaminya hanya buruh bangunan. Mereka mempunyai lima anak. Anak pertama laki-laki bernama Ikhsan, bersekolah di SMK yang terbilang bagus di Pekalongan, dan dia mengambil jurusan Teknik Otomotif. Sayang, setelah lulus ia terbilang sulit mendapatkan kerja. Sesekali untuk mengisi waktunya ia bekerja sebagai buruh bangunan seperti ayahnya, dan magang sebagai karyawan di sebuah perusahaan sarung. Setelah beberapa waktu, nasib baik pun menghampirinya. Ia diterima bekerja di sebuah bank di Jakarta. Tentulah ia mengambil kesempatan itu karena bekerja di Ibukota merupakan impian banyak orang. Namun pekerjaannya tak seperti yang orang pikirkan tentang pekerjaan di sebuah bank. Ia menjadi satpam disana. Sungguh tidak sesuai dengan apa yang ia tekuni selama tiga tahun di SMK. Jujur setiap saya melihatnya saya merasa kasihan. Karena waktu SMK nya dapat dibilang sebagai “bonus” keahlian di bidang otomotif. Selain itu biaya untuk bersekolah di SMK juga tidak semurah yang orang bayangkan. Saya yakin pasti orang tua nya bekerja keras demi menyekolahkan anaknya di sebuah SMK, yang notabene setelah lulus nanti akan terjamin masa depannya.
Contoh lain yang dapat saya kemukakan adalah adik Ikhsan, Iis. Ia bersekolah di sebuah SMK pula. Namun SMK yang satu ini tidak sebagus SMK si Ikhsan. Dia mengambil jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Tak jauh berbeda dengan nasib si kakak, setelah lulus ia pun bingung mau bekerja dimana. Dia banyak berganti-ganti pekerjaan. Tukang jahit dan magang di sebuah perusahaan sarung sebagai buruh pun ia lakukan agar perlahan mendapatkan pekerjaan tetap. Orang tuanya pun tidak mempedulikannya selepas ia lulus sekolah. Yang terpenting adalah agar ia segera mendapatkan penghasilan sendiri.
Dari dua contoh yang saya utarakan diatas bisa dibilang nasib keduanya sungguh ironis. Apakah jargon “SMK Bisa!” yang selalu dikumandangkan di iklan layanan masyarakat itu benar-benar sudah efektif dan menyeluruh? Lalu bagaimana dengan pernyataan “Lulusan SMK lebih baik daripada lulusan SMA” yang dielu-elukan banyak orang?
Sebenarnya masih banyak kasus-kasus lain yang tidak jauh dengan masalah Ikhsan dan Iis. Saya mempunyai seorang teman bernama Tomi. Dia bersekolah di sebuah SMK yang bisa dibilang salah satu yang terbaik di daerah Pekalongan dan mengambil jurusan otomotif. Ketika saya tanya bagaimana perasaannya bersekolah di SMK, dia menjawab, “Ya jadi anak SMK senang, kita bisa mempunyai kemampuan lebih dibandingkan anak SMA. Setelah lulus juga prospek kerja sudah ada di depan mata. Tidak seperti anak SMA yang harus kuliah agar mendapatkan pekerjaan yang layak.” Lalu saya Tanya tentang kekurangan-kekurangan yang ia rasakan sebagai siswa SMK dan dia menjawab, “Biasanya anak SMK untuk melanjutkan ke perguruan tinggi lebih sulit daripada anak-anak SMA.” Lalu dia mengutarakan keluh kesahnya tentang masa depan yang akan ia jalani, “Saya bingung mau melanjutkan kemana. Kalau kuliah peluangnya sedikit. Kalau kerja, saya bingung juga, karena perusahaan-perusahaan kendaraan bermotor membutuhkan karyawan minimal mempunyai tinggi 163 cm, sedangkan saya hanya 162 cm. Kurang setengah cm pun tak akan bisa masuk ke perusahaan itu.”
Sebagai anak SMA, jujur saya bingung dengan kondisi anak-anak SMK yang seperti itu. Dalam benak saya muncul kata-kata, “Kok bisa ya seperti itu?” Memang benar, anak-anak SMK lebih mempunyai keterampilan daripada anak-anak SMA yang disekolahnya cenderung lebih diutamakan nilai akademisnya. Tetapi apakah skill full yang mereka dapat di SMK hanya sia-sia saja? Apakah setelah lulus nanti mereka pasti bekerja, tetapi tidak sesuai dengan yang dipelajari dan ditekuni sewaktu SMK dulu?
Fasilitas pembelajaran di SMK-pun menjadi hal yang sangat penting. Kita tahu bahwa jika sebuah SMK pastilah memerlukan fasilitas yang lebih banyak dibanding dengan sebuah SMA. Sebuah SMK yang memiliki jurusan otomotif dan elektro selain memerlukan ruang belajar juga memerlukan berbagai ruang lainnya, misalnya saja sebuah bengkel. SMK tersebut juga harus mempunyai peralatan dan perlengkapan yang cukup untuk menunjang kegiatan praktik siswa. Namun bagaimanakah jika semua fasilitas tersebut tidak dipenuhi atau dengan kata lain SMK yang minim fasilitas?
Kalau SMK yang favorit dan berada di kota besar bukan tidak mungkin semua fasilitas kelengkapan penunjang sebuah SMK dipenuhi. Tapi dalam kenyataanya masih banyak SMK-SMK di pelosok yang masih minim fasilitas, gedung saja masih nunut di sekolah lain. Kalau para siswa yang diluluskan dengan hasil dari minimnya fasilitas, kemungkinan tidak layak kerja. Berbeda jika SMK tersebut sebuah SMK favorit yang berfasilitas lengkap. Lulusan SMK favorit dan berfasilitas lengkap besar kemungkinan layak kerja. Namun yang menjadi persoalannya adalah biaya masuk ke SMK favorit tersebut dan biaya-biaya lainya selama rentang waktu belajar. Untuk bisa masuk di sekolah favorit dan berfasilitas lengkap biasanya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Terlepas dari masalah biaya, dengan masuk SMK para pelajar selain mendapat pelajaran umum seperti di sekolah menengah atas, juga mendapat ilmu keterampilan khusus sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Bukankah dengan seperti itu para pelajar SMK justru akan terbebani karena tugas yang “double” yaitu harus mempelajari pelajaran akademik dan pelajaran keterampilannya? Jika kita melihat di bidang prestasi akademik, faktanya pelajar-pelajar SMK masih tertinggal bila dibandingkan prestasi-prestasi akademik pelajar-pelajar SMA. Sehingga umumnya dalam pandangan masyarakat masih menganggap menyekolahkan anaknya di SMA lebih terjamin prestasi akademiknya daripada disekolahkan di SMK. Walaupun SMK mempunyai tambahan keterampilan khusus, banyak masyarakat berpandangan belum menganggap penting tambahan keterampilan plus tersebut.
Saya pernah membaca artikel bahwa lulusan SMK 70% siswanya sudah siap kerja. Memang ada beberapa hal yang memungkinkan lulusan SMK bisa diharapkan lebih siap kerja daripada lulusan SMA. Misalkan saja siswa lulusan SMK jurusan otomotif, siswa tersebut langsung bisa bekerja pada pabrik perakitan sepeda motor sedangkan lulusan SMA tidak. Tetapi, sekarang ini banyak lowongan pekerjaan yang membutuhkan calon pekerja minimal berpendidikan D3 atau S1. Bukankah dengan demikian setelah lulus SMA/SMK harus melanjutkan kuliah lagi untuk memenuhi persyaratannya? Tapi benarkah sedemikian mudahnya lulusan SMK memperoleh pekerjaan? Apakah pekerjaan itu sesuai dengan keterampilan yang mereka tekuni sewaktu SMK dulu? Lalu bagaimana dengan siswa SMK lain yang tidak memenuhi persyaratan untuk masuk di sebuah perusahaan yang mereka cita-citakan sejak lama, hanya karena badan yang tidak ideal? Apakah benar yang dimaksud oleh Tantowi Yahya bahwa lulusan SMK lebih bagus daripada lulusan SMA?
Semoga saja mereka yang masuk SMK bisa benar-benar mengaplikasikan dan menerapkan apa yang mereka dapatkan sewaktu 3 tahun belajar mengembangkan keahlian yang nantinya akan menjadi profesi mereka. Tidak seperti SMK Candiolo di daerah saya yang muridnya hanya nongkrong dan udad udud dipinggir jalan….
--26--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar