TUGAS BAHASA INDONESIA
JUDUL
ARTIKEL :
SEPAK BOLA,
OLAHRAGA MERAKYAT TAPI “MAHAL”
NAMA : NINDIYA
NASTITI
KELAS : XI IPA 2
NOMOR ABSEN : 26
SMA NEGERI 1 PEKALONGAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
RINGKASAN
ARTIKEL
SEPAK
BOLA, OLAHRAGA MERAKYAT TAPI “MAHAL”
Sepak bola merupakan olahraga merakyat yang tidak
mengenal kalangan usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi maupun tingkat sosial.
Sepak bola sekarang juga sudah tidak hanya berfungsi sebagai salah satu bentuk
olahraga, tetapi lebih ke arah entertainment dan mempunyai nilai komersial.
Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyangkut tentang sepak bola akan selalu
mendapat perhatian dari berbagai kalangan.
Sepak bola di negeri ini adalah mimpi kolektif sosial di sekitar kita. Kendati hingga kini
mimpi itu masih tumbuh dengan liar, belum mengerti bagaimana mengelola mimpi
itu agar menjadi kenyataan. Franklin Foer dalam bukunya “How Soccer
Explains the World”, menyebutkan bahwa di mayoritas dunia sepak bola
adalah medium ekspresi sosial ekonomi politik dan komposisi rasial. Disini
sepak bola berubah menjadi kekuasaan elit atas nama olahraga.
Selain merakyat, sepak bola merupakan cabang olah raga
yang memiliki prestise (gengsi) tinggi. Di balik itu, terselip fenomena
nonteknis yang tidak kalah rumitnya, sehingga teori, taktik dan strategi
pelatih terhadap pemain di tengah lapangan sering diintervensi dan dikalahkan
oleh dominasi power (kekuasaan) yang berada di luar lapangan. Hal inilah yang
sering tidak dipahami oleh publik pencinta bola, sehingga hasil akhir dalam
sebuah pertandingan melahirkan umpatan, caci-maki dan sumpah-serapah terhadap
pemain, pelatih, manajer dan pengurus.
Tuntutan penonton dan pencinta bola sebenarnya
wajar-wajar saja untuk kemenangan kesebelasan pujaannya. Tetapi umumnya
tuntutan penggila bola dan publik di Tanah Air belum disertai sebuah pemahaman
bahwa untuk meraih prestasi, tidak cukup hanya dengan dukungan moral melalui
pengerahan suporter (penggembira) semata sebagai motivasi menumbuhkan semangat
pemain di tengah lapangan, melainkan diperlukan dukungan dana yang tidak kecil
jumlahnya.
Dalam konteks memadukan
tuntutan publik yang menghendaki sebuah kesebelasan tangguh dan solid dengan
cekak (minim)-nya dana operasional yang dimiliki, diperlukan kiat-kiat pengurus
untuk mendapatkan dana semaksimal mungkin, di luar kucuran Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) di wilayah yang dijadikan homebase (markas)
kesebelasan bersangkutan. Tugas dan
kewajiban pengurus dan kesatuan tim yang memang berniat mengelola manajemen sepak bola untuk sebuah prestasi yang bisa dibanggakan oleh rakyat dan
daerah, bukanlah ringan.
Dalam sebuah organisasi yang memiliki multi-kepentingan,
prestasi dan prestise, taruhannya adalah uang dan harga diri. Alangkah naifnya
slogan meningkatkan prestasi tidak disertai dengan dukungan dana yang memadai. Proses untuk
mencapai prestasi memang tidak bisa dilakukan dalam sekejap, bagaikan mengunyah
cabe yang pedasnya langsung terasa. Inilah tantangan bagi pengurus sepak bola
untuk menumbuhkan prestasi melalui pencarian bibit-bibit lokal, pembinaan
melalui putaran kompetisi klub secara terjadwal dan berkesinambungan. Di antara event-event tersebut, yang terakhir, yakni
mengikuti kompetisi Liga Indonesia untuk mempertahankan reputasi pada level
(posisi) divisi tertentu. Persoalannya, bertanding away (keluar daerah)
berkali-kali memerlukan biaya cukup besar untuk tiket perjalanan, penginapan
dan logistik. Belum lagi faktor-faktor nonteknis yang tidak terduga sama
sekali. Inilah yang harus dipahami oleh pencinta dan penggila bola, kenapa
sepak bola menjadi olahraga rakyat yang ''mahal''.
Kunci sukses
manajemen sepak bola sangat tergantung pada sejauh mana jajaran pengurus,
ofisial dan atlet (pemain) menyadari ruang lingkup tugas kewajiban serta
tanggung jawab masing-masing, baik secara individu maupun dalam konteks
soliditas sebuah teamwork (kesatuan unit kerja).
SALAH
SATU BUKTI SEPAK BOLA MERAKYAT DI INDONESIA
Salah satu bukti bahwa sepak bola sebagai olahraga rakyat Indonesia terpopuler
yaitu terletak pada PSSI. Dibandingkan dengan organisasi olahraga lainnya, PSSI
memang “istimewa”. Meski prestasi sepak bola kita tidak bagus-bagus amat, toh
itu tidak mengurangi kecintaan warga Indonesia akan olahraga yang satu ini.
PSSI sebagai organisasi yang mengelola sepak bola di tanah air pun tetap
menarik banyak orang untuk menjadi pengurusnya. Kongres Luar Biasa PSSI
akhirnya terselenggara dengan “luar biasa” pula pada beberapa pekan lalu.
Terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum PSSI menjadi babak baru
untuk mengakhiri kebekuan prestasi sepak bola yang sudah dinanti oleh
masyarakat. Benak publik bola adalah bagaimana sepak bola Indonesia memiliki
prestasi yang bisa dibanggakan.
Masalah APBD klub sepak bola di Indonesia
Sebenarnya jika kita mau berpikiran jernih, ditutupnya keran mata uang dari
APBD bukanlah malapetaka. Masih banyak sumber dana untuk mendukung kebutuhan
finansial klub-klub. Salah satunya dengan memaksimalkan pemasukan klub. Ini
adalah bukti kedewasaan klub, di mana tidak terus-menerus disuapi APBD.
Bukankah salah satu syarat mutlak sebuah klub dari Badan Liga Indonesia
adalah kesehatan finansial ? Kini saatnya mengembalikan kesehatan finansial
klub-klub. Lobi-lobi dengan pihak swasta di daerah bisa dimaksimalkan, namun
tetap dibarengi transparansi keuangan. Dalam batas minimal, semestinya APBD
tetap dapat dikucurkan dalam bentuk bantuan untuk pembinaan usia dini dan
perbaikan infrastruktur. Sebagai alternatif untuk pendanaan yang bersifat
profesional didapat melalui peran sponsorship perusahaan daerah ataupun dana
promosi daerah.
Semoga .....
--26--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar