Halaman

Sabtu, 20 April 2013

SEPAK BOLA, OLAHRAGA MERAKYAT TAPI “MAHAL”



TUGAS BAHASA INDONESIA

JUDUL ARTIKEL :
SEPAK BOLA, OLAHRAGA MERAKYAT TAPI MAHAL



NAMA : NINDIYA NASTITI
KELAS : XI IPA 2
NOMOR ABSEN : 26

 SMA NEGERI 1 PEKALONGAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012


 RINGKASAN ARTIKEL


SEPAK BOLA, OLAHRAGA MERAKYAT TAPI “MAHAL”

Sepak bola merupakan olahraga merakyat yang tidak mengenal kalangan usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi maupun tingkat sosial. Sepak bola sekarang juga sudah tidak hanya berfungsi sebagai salah satu bentuk olahraga, tetapi lebih ke arah entertainment dan mempunyai nilai komersial. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyangkut tentang sepak bola akan selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan.
Sepak bola di negeri ini adalah mimpi kolektif  sosial di sekitar kita. Kendati hingga kini mimpi itu masih tumbuh dengan liar, belum mengerti bagaimana mengelola mimpi itu agar menjadi kenyataan. Franklin Foer dalam bukunya “How Soccer Explains the World”, menyebutkan bahwa di mayoritas dunia sepak bola adalah medium ekspresi sosial ekonomi politik dan komposisi rasial. Disini sepak bola berubah menjadi kekuasaan elit atas nama olahraga.
Selain merakyat, sepak bola merupakan cabang olah raga yang memiliki prestise (gengsi) tinggi. Di balik itu, terselip fenomena nonteknis yang tidak kalah rumitnya, sehingga teori, taktik dan strategi pelatih terhadap pemain di tengah lapangan sering diintervensi dan dikalahkan oleh dominasi power (kekuasaan) yang berada di luar lapangan. Hal inilah yang sering tidak dipahami oleh publik pencinta bola, sehingga hasil akhir dalam sebuah pertandingan melahirkan umpatan, caci-maki dan sumpah-serapah terhadap pemain, pelatih, manajer dan pengurus.
Tuntutan penonton dan pencinta bola sebenarnya wajar-wajar saja untuk kemenangan kesebelasan pujaannya. Tetapi umumnya tuntutan penggila bola dan publik di Tanah Air belum disertai sebuah pemahaman bahwa untuk meraih prestasi, tidak cukup hanya dengan dukungan moral melalui pengerahan suporter (penggembira) semata sebagai motivasi menumbuhkan semangat pemain di tengah lapangan, melainkan diperlukan dukungan dana yang tidak kecil jumlahnya.
        Dalam konteks memadukan tuntutan publik yang menghendaki sebuah kesebelasan tangguh dan solid dengan cekak (minim)-nya dana operasional yang dimiliki, diperlukan kiat-kiat pengurus untuk mendapatkan dana semaksimal mungkin, di luar kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di wilayah yang dijadikan homebase (markas) kesebelasan bersangkutan. Tugas dan kewajiban pengurus dan kesatuan tim yang memang berniat mengelola manajemen sepak bola untuk sebuah prestasi yang bisa dibanggakan oleh rakyat dan daerah, bukanlah ringan.
Dalam sebuah organisasi yang memiliki multi-kepentingan, prestasi dan prestise, taruhannya adalah uang dan harga diri. Alangkah naifnya slogan meningkatkan prestasi tidak disertai dengan dukungan dana yang memadai. Proses untuk mencapai prestasi memang tidak bisa dilakukan dalam sekejap, bagaikan mengunyah cabe yang pedasnya langsung terasa. Inilah tantangan bagi pengurus sepak bola untuk menumbuhkan prestasi melalui pencarian bibit-bibit lokal, pembinaan melalui putaran kompetisi klub secara terjadwal dan berkesinambungan. Di antara event-event tersebut, yang terakhir, yakni mengikuti kompetisi Liga Indonesia untuk mempertahankan reputasi pada level (posisi) divisi tertentu. Persoalannya, bertanding away (keluar daerah) berkali-kali memerlukan biaya cukup besar untuk tiket perjalanan, penginapan dan logistik. Belum lagi faktor-faktor nonteknis yang tidak terduga sama sekali. Inilah yang harus dipahami oleh pencinta dan penggila bola, kenapa sepak bola menjadi olahraga rakyat yang ''mahal''.
Kunci sukses manajemen sepak bola sangat tergantung pada sejauh mana jajaran pengurus, ofisial dan atlet (pemain) menyadari ruang lingkup tugas kewajiban serta tanggung jawab masing-masing, baik secara individu maupun dalam konteks soliditas sebuah teamwork (kesatuan unit kerja).

           SALAH SATU BUKTI SEPAK BOLA MERAKYAT DI INDONESIA
Salah satu bukti bahwa sepak bola sebagai olahraga rakyat Indonesia terpopuler yaitu terletak pada PSSI. Dibandingkan dengan organisasi olahraga lainnya, PSSI memang “istimewa”. Meski prestasi sepak bola kita tidak bagus-bagus amat, toh itu tidak mengurangi kecintaan warga Indonesia akan olahraga yang satu ini. PSSI sebagai organisasi yang mengelola sepak bola di tanah air pun tetap menarik banyak orang untuk menjadi pengurusnya. Kongres Luar Biasa PSSI akhirnya terselenggara dengan “luar biasa” pula pada beberapa pekan lalu. Terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum PSSI menjadi babak baru untuk mengakhiri kebekuan prestasi sepak bola yang sudah dinanti oleh masyarakat. Benak publik bola adalah bagaimana sepak bola Indonesia memiliki prestasi yang bisa dibanggakan.

                Masalah APBD klub sepak bola di Indonesia
Sebenarnya jika kita mau berpikiran jernih, ditutupnya keran mata uang dari APBD bukanlah malapetaka. Masih banyak sumber dana untuk mendukung kebutuhan finansial klub-klub. Salah satunya dengan memaksimalkan pemasukan klub. Ini adalah bukti kedewasaan klub, di mana tidak terus-menerus disuapi APBD.
Bukankah salah satu syarat mutlak sebuah klub dari Badan Liga Indonesia adalah kesehatan finansial ? Kini saatnya mengembalikan kesehatan finansial klub-klub. Lobi-lobi dengan pihak swasta di daerah bisa dimaksimalkan, namun tetap dibarengi transparansi keuangan. Dalam batas minimal, semestinya APBD tetap dapat dikucurkan dalam bentuk bantuan untuk pembinaan usia dini dan perbaikan infrastruktur. Sebagai alternatif untuk pendanaan yang bersifat profesional didapat melalui peran sponsorship perusahaan daerah ataupun dana promosi daerah.

 Semoga .....

 --26--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar